BAB IV
Keesokan
harinya sesuatu yang aneh terjadi. Seperti biasa pukul 7.30 aku berangkat
kesekolah. Sesampainya di sekolah, semua orang memandangi ku. Awalnya aku tidak
terlalu memperdulikan itu. Tapi pandangan mereka sangat terasa saat aku hendak
berjalan ke ruang ganti. Semua orang memandangiku dan sepertinya berbicara di
belakangku. Dan pertanyaanku terjawab saat ku lihat banyak orang yang
bergerumul di depan papan pengumuman. Aku pun langsung berlari ke sana. Setelah
sampai di depan papan pengumuman, aku melihat ada fotoku tertempel di sana dan tulisan
di bawahnya
JB
New Target
Hanya itu yang tertulis disana.
JB? Siapa JB? Pikirku. Aku pun berbalik dan tiba-tiba sekelilingku menjauh
dariku dan memandangiku seolah-olah aku penyakit yang patut di hindari. Aku pun
hanya memandangi mereka dan menorobos pergi. Sesampainya di kelas, aku kembali
menerima pandangan itu. Aku pun mengabaikan pandangan itu dan tetap masuk ke
kelas. Tiba-tiba ponselku bergetar menandakan ada satu pesan masuk. Aku pun
membukanya dan ternyata itu dari Dion
®lo dmn? Kita perlu ketemu
®aku ada kls. Nanti aja wktu
istirahat
Aku pun menyimpan handphoneku dan
mulai pemanasan. Kerang lebih 10 menit, mas Galih masuk dan memberikan
pengarahan sebentar untuk materi yang nantinya akan kami pelajari. Hari ini
kami akan belajar popping dance. Mas Galih memberikan contoh kecil gerakan
popping dance dan kami nantinya akan menirukan gerakan nya. Tapi ada yang aneh
dengan mas Galih hari ini. Berkali-kali aku kehilangan ketukan tapi tak pernah
di tegur oleh mas Galih. Biasanya mata mas Galih sangat tajam. Ia bisa melihat
kesalahan yang dilakukan oleh siswanya walaupun siswanya berdiri di belakangnya
dan dia akan menegurnya dengan keras. Tapi hari ini mas Galih sama sekali tidak
menegurku. Ah, mungkin mas Galih tidak melihatnya, pikirku.
Tapi ke anehan mas Galih terlihat
jelas, saat dia memintaku dan Mona untuk maju mempraktekan gerakan yang baru
saja di ajarkannya. Tepat saat hampir akhir gerakan, aku kehilangan 2 ketukan.
Aku pun bersiap-siap kalau-kalau mas Galih akan memarahiku, namun ternyata tidak.
Ia tidak menegurku sama sekali. Aku sedikit aneh. Setelah pelajaran berakhir,
aku pun menghampiri mas Galih.
“mas, saya mau nanya” ujarku
menghampirinya
“hah? Ahh, minggu depan aja ya,
saya sibuk” serunya menghindariku. Mas Galih langsung berjalan meninggalkanku
menuju ruang guru.
Kali ini aku yakin mas Galih
menghindariku. Apa mungkin karena pengumuman itu? aku pun menyingkirkan pikiran
itu, dan mulai pergi ke perpustakaan untuk mencari lagu yang tepat untuk
kupakai dalam video ku.
Setelah sampai di perpustakaan,
aku langsung menuju barisan lagu modern dan mulai memilih-milih lagu yang
nantinya akan kupakai. Setelah memilih 3 lagu, aku pun membawa album-album itu
untuk di putar di mesin pemutar music di pinggir rak album. Aku harus mengantri
untuk memakai pemutar music itu. mungkin ada sekitar 5 orang yang sedang
mengantri didepanku. Ketika orang yang berada tepat didepanku menoleh ke
arahku, ia langsung menyikut orang didepannya dan mengajaknya pergi. Aku
sedikit heran, namun aku hanya mengangkat bahu dan maju sedikit. Tiba-tiba
orang di depanku menoleh ke arahku dan ia mengajak sisa orang disana untuk
pergi meninggalkan pemutar music itu. Aku semakin heran. Tinggal satu orang
yang sedang mendengarkan lagu di pemutar music itu. Setelah orang itu selesai, ia
pun berbalik dan terkejut ketika melihat tinggal aku orang yang mengantri di
belakangnya. Dia terkejut bukan karena tinggal satu orang yang mengantri, tapi
lebih kepada fakta bahwa orang yang mengantri itu aku. Ia pun berlalu pergi
meninggalkanku.
“mereka kenapa sih?” tanyaku
heran. Aku pun tidak memperdulikan mereka dan mulai memasukkan cd ke dalam cd
play dan mengenakan headphone. Beberapa detik kemudian music mengalun. Aku
menutup mataku menikmati music itu dan beberapa gerakan tari tergambar dalam pikiranku.
Tiba-tiba ponsel yang berada di dalam saku celana ku bergetar. Aku mematikan
lagu itu sebentar dan melepaskan headphone. Aku melihat sejenak siapa yang
menelpon, ternyata orang itu Dion. Aku pun menjawabnya
“halo?” seruku agak pelan
mengingat aku sedang berada di perpustakaan
“lo dimana?” tanya Dion
“aku? Diperpustakaan” jawabku
“tunggu disana, gue kesana”
ujarnya
“eh, gak usah, kamu ke teater
kecil aja, aku udah dijalan mau ke sana” ujarku berbohong. Aku tak ingin
menjadi bahan pembicaraan orang lain lebih dari ini hanya gara-gara aku bertemu
dengan Dion
“oh, yaudah” serunya lalu menutup
telpon
Aku langsung mengeluarkan cd dari
dalam cd play dan mengembalikan album-album yang ku pegang ke dalam troli
pengembalian dan beranjak pergi dari perpustakaan. Aku langsung menuju teater
kecil. Setelah sampai di depan teater kecil, aku berhenti sebentar mengatur
napasku karena tadi aku berlari dari perpustakaan ke teater kecil. Aku pun
membuka pintu teaternya dan masuk ke dalam. Di dalam ternyata Dion sudah menungguku.
Aku pun melangkah masuk menuju panggung.
“ada apa sih?” tanya ku setelah
sampai di dekatnya
“lo… gak pa-pa kan?” ia malah
bertanya balik
“hah? Aku gak kenapa-napa kok”
ujarku sedikit heran mendengar pertanyaan Dion
“bagus deh. Artinya dia belum
mulai” gumam Dion. “oh iya, sebenernya ada apa sih antara lo sama Juan? Kenapa
lo bisa jadi new targetnya Juan?” tanya Dion lagi
“Juan? Jadi..JB itu..” ujarku
sedikit ragu
“Juan Bramantia” seru Dion
langsung
“oh, jadi itu si Juan” ujarku
akhirnya mengerti. “aku gak ada apa-apa kok sama dia. Aku juga gak tau kenapa
dia jadiin aku new target” seru ku tak tau. “apa mungkin gara-gara kemaren ya?”
gumamku
Dion langsung menoleh ke arahku.
“kemaren kenapa?” tanya nya
“gini, kemaren aku ngeliat dia
lagi ngebully orang, terus aku marahin dia tanpa pikir panjang lagi” jawabku
“terus dia bilang apa?” tanya
Dion padaku
“dia bilang sih dia mau jadi in
aku target dia selanjutnya, terus aku bilang ‘yaudah jadiin aja’. Aku kira dia
gak serius eh aku gak tau kalo akhirnya gini” ujarku menyesal
“hahh” Dion menghela napas. “Juan
itu orangnya gak pernah main-main. Tapi setau gue dia gak pernah ngebully
cewek, jadi mungkin aja kali ini dia Cuma main-main” ujarnya
“emang kenapa sih kamu takut
banget aku di bully sama Juan?” tanya ku langsung
Dion hanya terdiam. Tiba-tiba ia
beranjak dari panggung dan berjalan ke arahku. Setelah sampai di dekatku, ia
menyondongkan tubuhnya kearahku hingga wajahku dan dia hanya berjarak 1 cm.
Jantungku berdebar kencang tanpa sempat ku kendalikan. Dion menatap mataku
sangat lama
“a…apa?” tanya ku gugup. Aku
merasa sangat aneh diperhatikan seperti itu. Dion lalu menarik badannya dan
menggeleng pelan. Ia lalu kembali ke panggung. Aku merasa jantungku akan
meledak saat wajahnya hanya berjarak 1 cm dengan wajahku. Bahkan saat Dion
sudah kembali ke panggung, jantungku masih berdebar kencang.
“lo kenapa?” tanya Dion saat
melihatku membatu
Aku pun tersadar. “hah? Ahh, gak
pa-pa” jawabku
“ngapain lo tadi di perpus?”
tanyanya lagi
“ahh, aku tadi lagi nyari lagu
buat di masukin di video audisi nanti” ujarku menjelaskan
“ngapain lo bediri di sana? Sini
duduk” serunya. Aku pun menurutinya dan beralih duduk di sebelahnya. “terus
udah dapet lagunya?” tanyanya lagi
“belum lah. Gimana mau dapet, aku
baru mau dengerin eh, kamunya nelpon. Oh iya, kamu punya kamera gak?”
“kamera? Yang jenis apa?”
“yang bisa untuk ngerekam aja”
ujarku
“ada satu dirumah. Kenapa?”
tanyanya
“boleh aku pinjem gak? Buat bikin
video tari. Ntar mau aku kirim ke websitenya Juiliard” ujarku
“hmm, boleh boleh. Tapi gak ada
tiang penyangganya.” Ujarnya
“yah, gimana ngerekamnya ya? hmm,
kamu mau gak bantu in aku ngerekam nya?” pintaku
“gue? boleh aja, tapi gue gak
jamin ya hasilnya bagus” ujarnya malu-malu
“gak pa-pa kok, yang penting ada
gambar akunya. Makasih ya” seruku tersenyum
“wah, makasih gak bikin kenyang
tuh” ujarnya sambil sedikit tertawa
“maksudnya?” ujarku tak mengerti
“di dunia ini gak ada yang gratis
neng. Gue bakal bantu in lo bikin video asal lo janji nemenin gue minggu ini
nyari hadiah” ujarnya
“hadiah? Buat siapa?” tanyaku
penasaran
“ada deh. Mau gak?” tanya nya
lagi
“hmm, oke deh. Aku janji bakal
nemenin kamu minggu ini” ujarku menyetujui
“yaudah, kapan lo mau ngambil
videonya?” tanyanya
“mungkin dua hari lagi. Aku perlu bikin tarian sama gabungin lagunya.
Kita ketemu pas malem minggu disini, oke?” seruku
“oke. Eh, gue balik ya, ada kelas.”
ujarnya pamit. Dion lalu meninggalkan aku sendiri di teater kecil.
Aku melihat jam sebentar. Masih 2
jam lagi sebelum kelas berikutnya. Karena tidak tau harus kemana, aku pun
memutuskan untuk pergi ke kantin, mengisi ulang energiku. Sesampainya di
kantin, aku kembali mendapatkan pandangan aneh dari anak-anak yang berada di
kantin. Aku pun mengabaikan itu dan mulai memesan makanan. Setelah selesai
memesan makanan, aku pun mencari bangku kosong yang lumayan jauh dari keramaian
dan jauh dari perhatian anak-anak. Aku melihat ada satu bangku kosong di ujung
ruangan. Langsung saja aku menuju bangku itu. Tiba-tiba seseorang menyandung
kaki ku dan aku pun terjatuh. Makanan yang ku pegang jatuh berantakan dan
mengotori baju latihan ku. Aku langsung berdiri dan menoleh ke arah orang yang
tadi menyandungku. Ternyata orang itu Juan. Dan dia hanya tertawa melihatku
jatuh berantakan.
“aduh, gue gak tau ada lo, gue
gak liat. Hahahha” ujarnya tertawa terbahak-bahak
Melihat mukanya, emosiku langsung
berlari ke ubun-ubun, siap meledak.
“gak liat? Kamu buta atau gak
punya mata? Kamu pikir aku gak tau kamu ngelakuinnya dengan sengaja? HAH?”
ujarku marah. Semua orang yang berada di kantin memperhatikan kami
“hahahaha” Juan tertawa sebentar,
ia lalu berdiri dari bangkunya dan berjalan ke arah ku “eh, anak baru, lo gak
ada hak buat teriak sama gue! lo pikir lo siapa bisa makan di sini? Lo itu cuma
SAMPAH! Gue gak pengen makan bareng sampah, jadi lo cepet keluar dari sini!”
ujarnya mengejek ku
Aku tak percaya dengan apa yang
baru saja di katakannya. “apa? Sampah?”
aku pun meredam emosiku. Harga diriku hancur di permalukan didepan orang banyak
oleh Juan seperti ini. “kamu pikir kamu siapa bisa nganggep orang lain sampah
HAH?” ujarku marah
“gue? gue yang punya sekolah ini”
ujarnya mantap
Aku pun tertawa sinis “haha,
lebih sampah aku apa kamu yang bisanya Cuma berlindung di belakang dukungan
orang tua? Samapahan mana sama orang yang bisanya Cuma make nama orang tua?”
ujarku melawan
“apa lo bilang?” serunya yang
sepertinya mulai marah
“aku bilang, lebih SAMPAHAN kamu
yang gak bisa apa-apa tanpa title ataupun nama orang tua kamu!” ujarku tegas.
Tiba-tiba Juan langsung menarik kerah baju belakangku dan menyeretku ke luar
kantin. Aku sempat meronta-ronta kepada Juan. Juan lalu melemparkanku keluar setelah sampai
di luar kantin. Aku pun terduduk jatuh. Ia lalu masuk lagi ke kantin dan
membawa satu ember air bekas cucian piring keluar. Dan tanpa diduga, ia
menyiramkan air itu kepada ku. Seisi kantin melihatku di siram seperti itu oleh
Juan, namun tak ada satu orang pun yang berusaha menghentikan Juan.
“ini hukuman buat apa yang baru
aja lo omongin. Ini baru awal. Jangan sampe gue ngeliat lo lagi besok di sini!”
ancamnya. Ia lalu pergi meninggalkanku yang terdiam kedinginan disana.
Anak-anak kembali melanjutkan
aktifitas makan mereka tanpa memperdulikan aku yang kedinginan disana. Mereka
kembali makan seperti kejadian tadi tidak pernah terjadi. Dan aku masih
terduduk disana, tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba air
mataku mengalir merasakan ketakutan dan kemarahan bercampur menjadi satu. Aku
langsung berdiri dan pergi ke ruang ganti untuk membersihkan badanku. Untungnya
ruang ganti ada kamar mandi nya. Dan untungnya ruang ganti sedang kosong. Aku
langsung membersihkan diriku dan mengganti pakaianku dengan seragam sekolah.
Aku menangis di dalam ruang ganti selama sisa waktu istirahatku. Setelah
tenang, aku pun keluar dan langsung menuju ruang guru untuk meminta izin
pulang. Aku tidak mungkin melanjutkan pelajaran dengan baju seragam apalagi di
kelas Miss Nova.
Aku langsung menemui miss Nova
setelah sampai di ruang guru. Aku menjelaskan alasan kenapa aku tidak bisa
mengikuti kelasnya siang ini. Alasanku, baju latihanku basah.
“Juan berulah lagi ya?” tanya
Miss Nova tiba-tiba
Aku langsung mengangkat kepalaku
yang tadinya menunduk. Terkejut ternyata miss Nova mengetahuinya.
“kenapa miss tau? Karena udah
sering kayak gini” ujar miss Nova seolah-olah bisa membaca pikiranku. “tenang
aja, miss gak kayak guru-guru lain yang takut sama Juan. Kamu boleh pulang.
Tapi kamu cari sendiri nanti materi yang akan miss ajarkan siang ini. Miss
tidak akan mengulangnya minggu depan” lanjut miss Nova.
“iya miss, makasih miss” ujarku.
Aku pun langssung beranjak dari ruang guru dan mengambil tasku di loker. Aku
langsung melangkah pulang meninggalkan sekolah. Saat aku sampai di depan
gerbang, seseorang memanggil namaku dari belakang, akupun menoleh dan melihat
Dion sednag berlari ke arahku.
“Putri!!” panggilnya. Aku
langsung berhenti berjalan dan menoleh. “lo mau ke mana?” tanyanya langsung
Aku sedikit terkejut melihat Dion
yang langsung berlari kearahku. Aku pun segera melihat sekelilingku dan benar
saja, siswa-siswa perempuan sedang berdiri di samping jendela-jendela kelas
memperhatikanku dengan tatapan marah dan iri. “kamu ngapain ke sini?” tanyaku
sambil tetap memperhatikan sekelilingku
“gue tadi denger lo disiram sama
Juan. Lo gak pa-pa?” tanya Dion khawatir
“gak pa-pa kok. Cuma disiram
doang. Lagian dia itu Cuma anak kecil yang lagi gak ada kerjaan” ujraku
menenangkan. “udah kamu balik ke kelas aja. Gak enak diliatin sama anak-anak.”
Ujarku. Barulah Dion menoleh kesekelilingnya dan dilihatnya siswa-siswa
perempuan sudah berbaris melihati kami, seolah kami ini adalah sebuah tontonan.
Dion kembali menoleh kearahku.
“ahh, mereka, biarin aja. Terus sekarang lo mau ke mana?” tanyanya
mengembalikan topic pembicaraan
“aku mau pulang, gak enak badan.
Aku udah izin kok” ujarku memaksakan senyum
“mau gue anter gak?” tawarnya
“gak deh makasih. Aku bisa pulang
sendiri” ujarku tersenyum. Bisa gawat kalau Dion mengantarku pulang. Bisa-bisa
besok aku akan di bunuh oleh siswi-siswi di sekolah ini. Aku masih mengedarkan
pandanganku ke sekeliling sekolah dan tiba-tiba mataku menangkap satu sosok
yang sedang berdiri di balkon lantai dua gedung divisi music melihat ke arahku
dan Dion, dan dia tersenyum. Dan aku yakin sekali bahwa sosok tu adalah Juan.
“aku pulang dulu ya” ujarku langsung meninggalkan Dion sebelum Dion sempat
berkat-kata lagi.
Aku benar-benar ingin pulang
sekarang. Entah mengapa sosok Juan yang tadi menatap ku sambil tersenyum sempat
membuat ku takut. Saat aku melihat senyumnya yang penuh arti itu, aku merasa
seluruh bulu kudukku berdiri. Apa mungkin besok akan terjadi hal yang tidak
mengenakkan lagi? Tanyaku dalam hati. Senyum Juan tadi seperti pertanda bahwa
akan terjadi sesuatu besok. Aku pun melenyapkan pikiran itu dan memepercepat
langkahku. Aku ingin segera sampai dirumah dan berbaring karena nanti malam aku
akan berlatih di teater kecil untuk videoku nanti. Begitu sampai di rumah, aku
langsung menuju kamarku dan berbaring di kasurku tanpa sempat berganti pakaian.
Tak lama setelah itu, akupun terlelap.
ΩΩΩ
Sementara itu, dirumah Juan….
Ini
sudah ketiga kalinya Dion menceburkan dirinya kedalam kolam renang. Ia terus
mempertimbangkan kapan dia akan melaksanakan rencananya. Juan yang sedang
berada di samping kolam renang, sedang membolak-balik halaman sebuah majalah otomotif
yang sedang dilihatnya sambil sesekali melihat temannya yang sedang berenang
itu. Dion pun keluar dari kolam renang dan menghampiri Juan. Ia duduk persis
disebelah Juan. Juan hanya melihat sekilas kemudian beralih lagi ke majalah
yang dipegangnya.
“kapan lo bakal ngelaksanain
itu?” tanya Juan membuka percakapan
“belum ketemu timing yang pas.
Bentar lagi mungkin” ujar Dion sambil mengambil handuk dan mulai meminum jus
jeruknya
Juan menutup majalahnya dan
menatap Dion. “dari kemaren lo selalu bilang ‘bentar lagi, bentar lagi’, gue
penasaran nih. Sebenernya lo niat gak sih ngelakuinnya?” tanya Juan lagi
“sabar aja kenapa sih. Dia cewek
wan, hatinya perlu ditaklukin dulu. Gak seru kalo cepet-cepet” ujar Dion
Juan hanya mengangguk-angguk
mengerti. “terus, mau lo lakuin kayak yang terakhir kali?
“yang terakhir?” Dion pun
mengingat-ingat. “ohh, si Mona. Ah, gak deh. Lo inget sendirikan berapa lama
gue stay di rumah sakit gara-gara dipukulin suruhan bokapnya Mona. Gak lagi deh”
ujar Dion kapok
“elo sih salah milih target. Mona
lo jadiin target. Ngebully dia, sama aja lo bunuh diri kali. Dia kan anak orang
kaya. Terus yang satu ini dari keluarga mana? Kok bisa masuk sekolah gue?”
“mana gue tau, lah kan bokap lo
yang masukin dia. Yang pasti kayaknya ni
anak orang kampung. Gak ada yang perlu ditakutin. Tapi lo jangan terlalu kasar
ama dia” ujar Dion memperingatkan
Juan tertawa singkat “kenapa? Lo
suka sama dia?”
“dia cewek wan” ujar Dion
“alah, buat gue gak ada yang
namanya cewek atau pun cowok dalam hal kayak gini. Selama itu mainan gue, gue
bakal mainin dia sesuka hati gue” seru Juan tersenyum penuh arti
“gila lo. Terus lo mau ngehajar
dia sama kayak lo ngehajar Doni?” tanya Dion
“kalo emang di perlukan, ya gue
bakal ngelakuin hal yang sama kayak yang gue lakuin ke Doni. Kita liat aja, dia
bakal tahan berapa lama” ujar Juan tanpa memandang Dion
“serah lo deh. Ngomong-ngomong
soal Doni, gimana tu anak?” tanya Dion
“tau’ deh. Kayaknya udah kabur
tuh anak. Baru juga seminggu. Cemen banget jadi cowok. Rencana gue sih kalo gue
ntar ngeliat dia lagi, gue bakal sedikit berbaik hati sama dia” ujar Juan
“berbaik hati? sejak kapan lo
bisa baik sama orang? Emang mau lo apain?” tanya Dion penasaran.
“gue bakal ngebolehin dia sekolah
di sekolah gue tapi, gue bakal bikin dia gak bisa main piano lagi” ujar Juan
dalam dengan tatapan tajam ke arah kolam renang
Seketika bulu kuduk Dion berdiri.
Sesaat ia merasa takut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh temannya yang
satu ini. Dion tak berani melihat ke arah Juan. Ia tau Juan memang senang
sekali membully orang-orang yang menurut Juan tidak pantas ada di sekolahnya,
tapi baru kali ini ia mendengar Juan akan menghilangkan bakat seseorang. Bagi
seorang musisi, tidak bisa memainkan alatnya lagi sama saja dengan mati.
Menghilangkan bakat seorang musisi sama saja seperti membunuh orang itu. Dion
hanya bisa diam tak menganggapi ucapan Juan tadi. Suasana tegang langsung menyelimuti keduanya. Juan
lalu berdiri dan meninggalkan Dion sendiri disana.
JJJ
