Sabtu, 08 Februari 2014

Dream

BAB IV

                Keesokan harinya sesuatu yang aneh terjadi. Seperti biasa pukul 7.30 aku berangkat kesekolah. Sesampainya di sekolah, semua orang memandangi ku. Awalnya aku tidak terlalu memperdulikan itu. Tapi pandangan mereka sangat terasa saat aku hendak berjalan ke ruang ganti. Semua orang memandangiku dan sepertinya berbicara di belakangku. Dan pertanyaanku terjawab saat ku lihat banyak orang yang bergerumul di depan papan pengumuman. Aku pun langsung berlari ke sana. Setelah sampai di depan papan pengumuman, aku melihat ada fotoku tertempel di sana dan tulisan di bawahnya
JB New Target
Hanya itu yang tertulis disana. JB? Siapa JB? Pikirku. Aku pun berbalik dan tiba-tiba sekelilingku menjauh dariku dan memandangiku seolah-olah aku penyakit yang patut di hindari. Aku pun hanya memandangi mereka dan menorobos pergi. Sesampainya di kelas, aku kembali menerima pandangan itu. Aku pun mengabaikan pandangan itu dan tetap masuk ke kelas. Tiba-tiba ponselku bergetar menandakan ada satu pesan masuk. Aku pun membukanya dan ternyata itu dari Dion
®lo dmn? Kita perlu ketemu
®aku ada kls. Nanti aja wktu istirahat
Aku pun menyimpan handphoneku dan mulai pemanasan. Kerang lebih 10 menit, mas Galih masuk dan memberikan pengarahan sebentar untuk materi yang nantinya akan kami pelajari. Hari ini kami akan belajar popping dance. Mas Galih memberikan contoh kecil gerakan popping dance dan kami nantinya akan menirukan gerakan nya. Tapi ada yang aneh dengan mas Galih hari ini. Berkali-kali aku kehilangan ketukan tapi tak pernah di tegur oleh mas Galih. Biasanya mata mas Galih sangat tajam. Ia bisa melihat kesalahan yang dilakukan oleh siswanya walaupun siswanya berdiri di belakangnya dan dia akan menegurnya dengan keras. Tapi hari ini mas Galih sama sekali tidak menegurku. Ah, mungkin mas Galih tidak melihatnya, pikirku.
Tapi ke anehan mas Galih terlihat jelas, saat dia memintaku dan Mona untuk maju mempraktekan gerakan yang baru saja di ajarkannya. Tepat saat hampir akhir gerakan, aku kehilangan 2 ketukan. Aku pun bersiap-siap kalau-kalau mas Galih akan memarahiku, namun ternyata tidak. Ia tidak menegurku sama sekali. Aku sedikit aneh. Setelah pelajaran berakhir, aku pun menghampiri mas Galih.
“mas, saya mau nanya” ujarku menghampirinya
“hah? Ahh, minggu depan aja ya, saya sibuk” serunya menghindariku. Mas Galih langsung berjalan meninggalkanku menuju ruang guru.
Kali ini aku yakin mas Galih menghindariku. Apa mungkin karena pengumuman itu? aku pun menyingkirkan pikiran itu, dan mulai pergi ke perpustakaan untuk mencari lagu yang tepat untuk kupakai dalam video ku.
Setelah sampai di perpustakaan, aku langsung menuju barisan lagu modern dan mulai memilih-milih lagu yang nantinya akan kupakai. Setelah memilih 3 lagu, aku pun membawa album-album itu untuk di putar di mesin pemutar music di pinggir rak album. Aku harus mengantri untuk memakai pemutar music itu. mungkin ada sekitar 5 orang yang sedang mengantri didepanku. Ketika orang yang berada tepat didepanku menoleh ke arahku, ia langsung menyikut orang didepannya dan mengajaknya pergi. Aku sedikit heran, namun aku hanya mengangkat bahu dan maju sedikit. Tiba-tiba orang di depanku menoleh ke arahku dan ia mengajak sisa orang disana untuk pergi meninggalkan pemutar music itu. Aku semakin heran. Tinggal satu orang yang sedang mendengarkan lagu di pemutar music itu. Setelah orang itu selesai, ia pun berbalik dan terkejut ketika melihat tinggal aku orang yang mengantri di belakangnya. Dia terkejut bukan karena tinggal satu orang yang mengantri, tapi lebih kepada fakta bahwa orang yang mengantri itu aku. Ia pun berlalu pergi meninggalkanku.
“mereka kenapa sih?” tanyaku heran. Aku pun tidak memperdulikan mereka dan mulai memasukkan cd ke dalam cd play dan mengenakan headphone. Beberapa detik kemudian music mengalun. Aku menutup mataku menikmati music itu dan beberapa gerakan tari tergambar dalam pikiranku. Tiba-tiba ponsel yang berada di dalam saku celana ku bergetar. Aku mematikan lagu itu sebentar dan melepaskan headphone. Aku melihat sejenak siapa yang menelpon, ternyata orang itu Dion. Aku pun menjawabnya
“halo?” seruku agak pelan mengingat aku sedang berada di perpustakaan
“lo dimana?” tanya Dion
“aku? Diperpustakaan” jawabku
“tunggu disana, gue kesana” ujarnya
“eh, gak usah, kamu ke teater kecil aja, aku udah dijalan mau ke sana” ujarku berbohong. Aku tak ingin menjadi bahan pembicaraan orang lain lebih dari ini hanya gara-gara aku bertemu dengan Dion
“oh, yaudah” serunya lalu menutup telpon
Aku langsung mengeluarkan cd dari dalam cd play dan mengembalikan album-album yang ku pegang ke dalam troli pengembalian dan beranjak pergi dari perpustakaan. Aku langsung menuju teater kecil. Setelah sampai di depan teater kecil, aku berhenti sebentar mengatur napasku karena tadi aku berlari dari perpustakaan ke teater kecil. Aku pun membuka pintu teaternya dan masuk ke dalam. Di dalam ternyata Dion sudah menungguku. Aku pun melangkah masuk menuju panggung.
“ada apa sih?” tanya ku setelah sampai di dekatnya
“lo… gak pa-pa kan?” ia malah bertanya balik
“hah? Aku gak kenapa-napa kok” ujarku sedikit heran mendengar pertanyaan Dion
“bagus deh. Artinya dia belum mulai” gumam Dion. “oh iya, sebenernya ada apa sih antara lo sama Juan? Kenapa lo bisa jadi new targetnya Juan?” tanya Dion lagi
“Juan? Jadi..JB itu..” ujarku sedikit ragu
“Juan Bramantia” seru Dion langsung
“oh, jadi itu si Juan” ujarku akhirnya mengerti. “aku gak ada apa-apa kok sama dia. Aku juga gak tau kenapa dia jadiin aku new target” seru ku tak tau. “apa mungkin gara-gara kemaren ya?” gumamku
Dion langsung menoleh ke arahku. “kemaren kenapa?” tanya nya
“gini, kemaren aku ngeliat dia lagi ngebully orang, terus aku marahin dia tanpa pikir panjang lagi” jawabku
“terus dia bilang apa?” tanya Dion padaku
“dia bilang sih dia mau jadi in aku target dia selanjutnya, terus aku bilang ‘yaudah jadiin aja’. Aku kira dia gak serius eh aku gak tau kalo akhirnya gini” ujarku menyesal
“hahh” Dion menghela napas. “Juan itu orangnya gak pernah main-main. Tapi setau gue dia gak pernah ngebully cewek, jadi mungkin aja kali ini dia Cuma main-main” ujarnya
“emang kenapa sih kamu takut banget aku di bully sama Juan?” tanya ku langsung
Dion hanya terdiam. Tiba-tiba ia beranjak dari panggung dan berjalan ke arahku. Setelah sampai di dekatku, ia menyondongkan tubuhnya kearahku hingga wajahku dan dia hanya berjarak 1 cm. Jantungku berdebar kencang tanpa sempat ku kendalikan. Dion menatap mataku sangat lama
“a…apa?” tanya ku gugup. Aku merasa sangat aneh diperhatikan seperti itu. Dion lalu menarik badannya dan menggeleng pelan. Ia lalu kembali ke panggung. Aku merasa jantungku akan meledak saat wajahnya hanya berjarak 1 cm dengan wajahku. Bahkan saat Dion sudah kembali ke panggung, jantungku masih berdebar kencang.
“lo kenapa?” tanya Dion saat melihatku membatu
Aku pun tersadar. “hah? Ahh, gak pa-pa” jawabku
“ngapain lo tadi di perpus?” tanyanya lagi
“ahh, aku tadi lagi nyari lagu buat di masukin di video audisi nanti” ujarku menjelaskan
“ngapain lo bediri di sana? Sini duduk” serunya. Aku pun menurutinya dan beralih duduk di sebelahnya. “terus udah dapet lagunya?” tanyanya lagi
“belum lah. Gimana mau dapet, aku baru mau dengerin eh, kamunya nelpon. Oh iya, kamu punya kamera gak?”
“kamera? Yang jenis apa?”
“yang bisa untuk ngerekam aja” ujarku
“ada satu dirumah. Kenapa?” tanyanya
“boleh aku pinjem gak? Buat bikin video tari. Ntar mau aku kirim ke websitenya Juiliard” ujarku
“hmm, boleh boleh. Tapi gak ada tiang penyangganya.” Ujarnya
“yah, gimana ngerekamnya ya? hmm, kamu mau gak bantu in aku ngerekam nya?” pintaku
“gue? boleh aja, tapi gue gak jamin ya hasilnya bagus” ujarnya malu-malu
“gak pa-pa kok, yang penting ada gambar akunya. Makasih ya” seruku tersenyum
“wah, makasih gak bikin kenyang tuh” ujarnya sambil sedikit tertawa
“maksudnya?” ujarku tak mengerti
“di dunia ini gak ada yang gratis neng. Gue bakal bantu in lo bikin video asal lo janji nemenin gue minggu ini nyari hadiah” ujarnya
“hadiah? Buat siapa?” tanyaku penasaran
“ada deh. Mau gak?” tanya nya lagi
“hmm, oke deh. Aku janji bakal nemenin kamu minggu ini” ujarku menyetujui
“yaudah, kapan lo mau ngambil videonya?” tanyanya
“mungkin dua hari lagi.  Aku perlu bikin tarian sama gabungin lagunya. Kita ketemu pas malem minggu disini, oke?” seruku
“oke. Eh, gue balik ya, ada kelas.” ujarnya pamit. Dion lalu meninggalkan aku sendiri di teater kecil.
Aku melihat jam sebentar. Masih 2 jam lagi sebelum kelas berikutnya. Karena tidak tau harus kemana, aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin, mengisi ulang energiku. Sesampainya di kantin, aku kembali mendapatkan pandangan aneh dari anak-anak yang berada di kantin. Aku pun mengabaikan itu dan mulai memesan makanan. Setelah selesai memesan makanan, aku pun mencari bangku kosong yang lumayan jauh dari keramaian dan jauh dari perhatian anak-anak. Aku melihat ada satu bangku kosong di ujung ruangan. Langsung saja aku menuju bangku itu. Tiba-tiba seseorang menyandung kaki ku dan aku pun terjatuh. Makanan yang ku pegang jatuh berantakan dan mengotori baju latihan ku. Aku langsung berdiri dan menoleh ke arah orang yang tadi menyandungku. Ternyata orang itu Juan. Dan dia hanya tertawa melihatku jatuh berantakan.
“aduh, gue gak tau ada lo, gue gak liat. Hahahha” ujarnya tertawa terbahak-bahak
Melihat mukanya, emosiku langsung berlari ke ubun-ubun, siap meledak.
“gak liat? Kamu buta atau gak punya mata? Kamu pikir aku gak tau kamu ngelakuinnya dengan sengaja? HAH?” ujarku marah. Semua orang yang berada di kantin memperhatikan kami
“hahahaha” Juan tertawa sebentar, ia lalu berdiri dari bangkunya dan berjalan ke arah ku “eh, anak baru, lo gak ada hak buat teriak sama gue! lo pikir lo siapa bisa makan di sini? Lo itu cuma SAMPAH! Gue gak pengen makan bareng sampah, jadi lo cepet keluar dari sini!” ujarnya mengejek ku
Aku tak percaya dengan apa yang baru saja di katakannya.  “apa? Sampah?” aku pun meredam emosiku. Harga diriku hancur di permalukan didepan orang banyak oleh Juan seperti ini. “kamu pikir kamu siapa bisa nganggep orang lain sampah HAH?” ujarku marah
“gue? gue yang punya sekolah ini” ujarnya mantap
Aku pun tertawa sinis “haha, lebih sampah aku apa kamu yang bisanya Cuma berlindung di belakang dukungan orang tua? Samapahan mana sama orang yang bisanya Cuma make nama orang tua?” ujarku  melawan
“apa lo bilang?” serunya yang sepertinya mulai marah
“aku bilang, lebih SAMPAHAN kamu yang gak bisa apa-apa tanpa title ataupun nama orang tua kamu!” ujarku tegas. Tiba-tiba Juan langsung menarik kerah baju belakangku dan menyeretku ke luar kantin. Aku sempat meronta-ronta kepada Juan.  Juan lalu melemparkanku keluar setelah sampai di luar kantin. Aku pun terduduk jatuh. Ia lalu masuk lagi ke kantin dan membawa satu ember air bekas cucian piring keluar. Dan tanpa diduga, ia menyiramkan air itu kepada ku. Seisi kantin melihatku di siram seperti itu oleh Juan, namun tak ada satu orang pun yang berusaha menghentikan Juan.
“ini hukuman buat apa yang baru aja lo omongin. Ini baru awal. Jangan sampe gue ngeliat lo lagi besok di sini!” ancamnya. Ia lalu pergi meninggalkanku yang terdiam kedinginan disana.
Anak-anak kembali melanjutkan aktifitas makan mereka tanpa memperdulikan aku yang kedinginan disana. Mereka kembali makan seperti kejadian tadi tidak pernah terjadi. Dan aku masih terduduk disana, tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba air mataku mengalir merasakan ketakutan dan kemarahan bercampur menjadi satu. Aku langsung berdiri dan pergi ke ruang ganti untuk membersihkan badanku. Untungnya ruang ganti ada kamar mandi nya. Dan untungnya ruang ganti sedang kosong. Aku langsung membersihkan diriku dan mengganti pakaianku dengan seragam sekolah. Aku menangis di dalam ruang ganti selama sisa waktu istirahatku. Setelah tenang, aku pun keluar dan langsung menuju ruang guru untuk meminta izin pulang. Aku tidak mungkin melanjutkan pelajaran dengan baju seragam apalagi di kelas Miss Nova.
Aku langsung menemui miss Nova setelah sampai di ruang guru. Aku menjelaskan alasan kenapa aku tidak bisa mengikuti kelasnya siang ini. Alasanku, baju latihanku basah.
“Juan berulah lagi ya?” tanya Miss Nova tiba-tiba
Aku langsung mengangkat kepalaku yang tadinya menunduk. Terkejut ternyata miss Nova mengetahuinya.
“kenapa miss tau? Karena udah sering kayak gini” ujar miss Nova seolah-olah bisa membaca pikiranku. “tenang aja, miss gak kayak guru-guru lain yang takut sama Juan. Kamu boleh pulang. Tapi kamu cari sendiri nanti materi yang akan miss ajarkan siang ini. Miss tidak akan mengulangnya minggu depan” lanjut miss Nova.
“iya miss, makasih miss” ujarku. Aku pun langssung beranjak dari ruang guru dan mengambil tasku di loker. Aku langsung melangkah pulang meninggalkan sekolah. Saat aku sampai di depan gerbang, seseorang memanggil namaku dari belakang, akupun menoleh dan melihat Dion sednag berlari ke arahku.
“Putri!!” panggilnya. Aku langsung berhenti berjalan dan menoleh. “lo mau ke mana?” tanyanya langsung
Aku sedikit terkejut melihat Dion yang langsung berlari kearahku. Aku pun segera melihat sekelilingku dan benar saja, siswa-siswa perempuan sedang berdiri di samping jendela-jendela kelas memperhatikanku dengan tatapan marah dan iri. “kamu ngapain ke sini?” tanyaku sambil tetap memperhatikan sekelilingku
“gue tadi denger lo disiram sama Juan. Lo gak pa-pa?” tanya Dion khawatir
“gak pa-pa kok. Cuma disiram doang. Lagian dia itu Cuma anak kecil yang lagi gak ada kerjaan” ujraku menenangkan. “udah kamu balik ke kelas aja. Gak enak diliatin sama anak-anak.” Ujarku. Barulah Dion menoleh kesekelilingnya dan dilihatnya siswa-siswa perempuan sudah berbaris melihati kami, seolah kami ini adalah sebuah tontonan.
Dion kembali menoleh kearahku. “ahh, mereka, biarin aja. Terus sekarang lo mau ke mana?” tanyanya mengembalikan topic pembicaraan
“aku mau pulang, gak enak badan. Aku udah izin kok” ujarku memaksakan senyum
“mau gue anter gak?” tawarnya
“gak deh makasih. Aku bisa pulang sendiri” ujarku tersenyum. Bisa gawat kalau Dion mengantarku pulang. Bisa-bisa besok aku akan di bunuh oleh siswi-siswi di sekolah ini. Aku masih mengedarkan pandanganku ke sekeliling sekolah dan tiba-tiba mataku menangkap satu sosok yang sedang berdiri di balkon lantai dua gedung divisi music melihat ke arahku dan Dion, dan dia tersenyum. Dan aku yakin sekali bahwa sosok tu adalah Juan. “aku pulang dulu ya” ujarku langsung meninggalkan Dion sebelum Dion sempat berkat-kata lagi.
Aku benar-benar ingin pulang sekarang. Entah mengapa sosok Juan yang tadi menatap ku sambil tersenyum sempat membuat ku takut. Saat aku melihat senyumnya yang penuh arti itu, aku merasa seluruh bulu kudukku berdiri. Apa mungkin besok akan terjadi hal yang tidak mengenakkan lagi? Tanyaku dalam hati. Senyum Juan tadi seperti pertanda bahwa akan terjadi sesuatu besok. Aku pun melenyapkan pikiran itu dan memepercepat langkahku. Aku ingin segera sampai dirumah dan berbaring karena nanti malam aku akan berlatih di teater kecil untuk videoku nanti. Begitu sampai di rumah, aku langsung menuju kamarku dan berbaring di kasurku tanpa sempat berganti pakaian. Tak lama setelah itu, akupun terlelap.
ΩΩΩ
Sementara itu, dirumah Juan….
                Ini sudah ketiga kalinya Dion menceburkan dirinya kedalam kolam renang. Ia terus mempertimbangkan kapan dia akan melaksanakan rencananya. Juan yang sedang berada di samping kolam renang, sedang membolak-balik halaman sebuah majalah otomotif yang sedang dilihatnya sambil sesekali melihat temannya yang sedang berenang itu. Dion pun keluar dari kolam renang dan menghampiri Juan. Ia duduk persis disebelah Juan. Juan hanya melihat sekilas kemudian beralih lagi ke majalah yang dipegangnya.
“kapan lo bakal ngelaksanain itu?” tanya Juan membuka percakapan
“belum ketemu timing yang pas. Bentar lagi mungkin” ujar Dion sambil mengambil handuk dan mulai meminum jus jeruknya
Juan menutup majalahnya dan menatap Dion. “dari kemaren lo selalu bilang ‘bentar lagi, bentar lagi’, gue penasaran nih. Sebenernya lo niat gak sih ngelakuinnya?” tanya Juan lagi
“sabar aja kenapa sih. Dia cewek wan, hatinya perlu ditaklukin dulu. Gak seru kalo cepet-cepet” ujar Dion
Juan hanya mengangguk-angguk mengerti. “terus, mau lo lakuin kayak yang terakhir kali?
“yang terakhir?” Dion pun mengingat-ingat. “ohh, si Mona. Ah, gak deh. Lo inget sendirikan berapa lama gue stay di rumah sakit gara-gara dipukulin suruhan bokapnya Mona. Gak lagi deh” ujar Dion kapok
“elo sih salah milih target. Mona lo jadiin target. Ngebully dia, sama aja lo bunuh diri kali. Dia kan anak orang kaya. Terus yang satu ini dari keluarga mana? Kok bisa masuk sekolah gue?”
“mana gue tau, lah kan bokap lo yang masukin dia.  Yang pasti kayaknya ni anak orang kampung. Gak ada yang perlu ditakutin. Tapi lo jangan terlalu kasar ama dia” ujar Dion memperingatkan
Juan tertawa singkat “kenapa? Lo suka sama dia?”
“dia cewek wan” ujar Dion
“alah, buat gue gak ada yang namanya cewek atau pun cowok dalam hal kayak gini. Selama itu mainan gue, gue bakal mainin dia sesuka hati gue” seru Juan tersenyum penuh arti
“gila lo. Terus lo mau ngehajar dia sama kayak lo ngehajar Doni?” tanya Dion
“kalo emang di perlukan, ya gue bakal ngelakuin hal yang sama kayak yang gue lakuin ke Doni. Kita liat aja, dia bakal tahan berapa lama” ujar Juan tanpa memandang Dion
“serah lo deh. Ngomong-ngomong soal Doni, gimana tu anak?” tanya Dion
“tau’ deh. Kayaknya udah kabur tuh anak. Baru juga seminggu. Cemen banget jadi cowok. Rencana gue sih kalo gue ntar ngeliat dia lagi, gue bakal sedikit berbaik hati sama dia” ujar Juan
“berbaik hati? sejak kapan lo bisa baik sama orang? Emang mau lo apain?” tanya Dion penasaran.
“gue bakal ngebolehin dia sekolah di sekolah gue tapi, gue bakal bikin dia gak bisa main piano lagi” ujar Juan dalam dengan tatapan tajam ke arah kolam renang
Seketika bulu kuduk Dion berdiri. Sesaat ia merasa takut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh temannya yang satu ini. Dion tak berani melihat ke arah Juan. Ia tau Juan memang senang sekali membully orang-orang yang menurut Juan tidak pantas ada di sekolahnya, tapi baru kali ini ia mendengar Juan akan menghilangkan bakat seseorang. Bagi seorang musisi, tidak bisa memainkan alatnya lagi sama saja dengan mati. Menghilangkan bakat seorang musisi sama saja seperti membunuh orang itu. Dion hanya bisa diam tak menganggapi ucapan Juan tadi. Suasana tegang langsung menyelimuti keduanya. Juan lalu berdiri dan meninggalkan Dion sendiri disana.

JJJ

Sabtu, 21 Desember 2013

Dream

BAB III

Tak terasa sudah 2 bulan aku di Jakarta, aku juga sudah mulai terbiasa dengan kehidupan sekolahku yang baru. Setiap 2 minggu sekali aku menelpon ayah. Pada awal-awal sekolahku, aku sedikit kesulitan mengikuti segala gerakan dan dasar-dasar tari yang di ajarkan oleh Miss Nova, oleh karena itu setiap malam aku kesekolah dan berlatih di teater kecil yang berada si dekat gerbang depan. Aku sedikit takut untuk masuk lebih jauh ke dalam sekolah jika malam hari. Dan seperti biasa malam ini aku kembali ke teater kecil untuk berlatih gerakan kombinasi balet yang tadi siang di ajarkan oleh Miss Nova. Aku pun membuka pintu teater secara perlahan, tapi ternyata lampu di dalam teater itu sudah menyala. Ini membuat ku heran karena biasanya akulah yang menyalakan lampu di dalam teater ini. Siapa orang yang telah menyalakannya? Dan pertanyaanku terjawab ketika aku mendengar suara biola. Aku pun langsung masuk dan terlihat seseorang di panggung sedang memainkan biola. Aku turun sedikit untuk melihat dengan jelas siapa yang mamainkan biola itu. Setelah kupasati dengan seksama ternyata orang itu Dion. Ngapain dia disini? pikirku.
Aku pun berbalik hendak pergi namun langkahku terhenti saat mendengar melodi yang sedang dimainkan oleh Dion. Melodi ini….segera saja ingatan ku melayang ke saat aku bertemu dengan Pangeran. Aku pun berbalik lagi ke arah panggung. Aku berjalan menuruni tangga. Semakin lama semakin cepat. Dan akhirnya aku berhenti tepat di depan panggung. Jantungku semakin lama berdetak semakin kencang. Pangeran yang selama ini kucari, ada di hadapan ku sekarang. Dan detak jantungku semakin kecang saat memikirkan bahwa orang yang berada didepanku adalah Si Pangeran.
Dion yang merasakan keberadaanku langsung berhenti memainkan biolanya. Dia lalu melihatku dan kemudian berbalik mengambil kotak biolanya. Ia lalu menyimpan biolanya dan meloncat turun dari panggung dan beranjak pergi melewatiku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku tak mungkin membiarkannya pergi seperti itu.
“tunggu!” cegah ku.
Dion pun berbalik dan menatapku. Aku pun balas menatapnya. Pandangan matanya, tak salah lagi dia memang Si Pangeran! Cara nya menatapku sama seperti saat itu.
“apa.. mungkin.. kamu ingat aku?” tanyaku ragu-ragu. Kulihat Dion sempat mengerutkan keningnya lalu menggeleng. Dia pun berbalik lagi hendak pergi
“Melodi itu! Dari mana kamu tau melodi itu?” tanya ku berusaha menahannya
Dion menghentikan langkahnya dan berbalik. Kali ini dia mengerutkan kening seolah-olah bertanya dari mana aku tau tentang melodi itu.
“lo tau melodi ini?” akhirnya Dion buka suara juga. Aku pun hanya mengangguk
“gak mungkin. Itu melodi bikinan gue sendiri dan belum pernah ada orang yang denger tentang melodi ini” serunya tak percaya.
“aku pernah mendengarnya. Dulu kamu pernah kebandung kan? Aku mendengarnya di sana” ujarku
“bohong! Lo pasti salah satu stalker gue kan?” tanyanya tak percaya
“aku dulu emang pernah dengernya” seru ku keras kepala
“oh ya, kapan?” ujar Dion yang sepertinya mulai kesal karena ada orang yang mendengarkan melodi pribadinya
“waktu ibu kandung kamu meninggal. Kamu Si Pangeran kan?” seru ku yakin
Seketika raut wajah Dion berubah pucat. Ia sepertinya terkejut. Dion lalu berbalik dan pergi meninggalkanku tanpa berbicara sepatah katapun lagi.
“tunggu… Dion…Dion..” walau pun kupanggil, dia tak menoleh dan terus berjalan keluar. Aku bingung sendiri melihat sikap Dion. Sepertinya dia tidak suka melihatku, pikirku. Aku mengurungkan niatku untuk berlatih dan pulang ke rumah.
Keesokan harinya aku berangkat seperti biasa kesekolah. Sesampainya di sekolah, sebuah mobil mewah hampir saja menabrak ku. Aku terjatuh dan sangat terkejut. Orang-orang yang beada di sekitarku juga terkejut. Beberapa dari mereka membantuku berdiri dan menanyakan keadaanku. Aku menjawab mereka dengan “tidak apa-apa” dan langsung menatap tajam mobil yang tadi hampir saja menabrakku. Akhirnya sang pemilik mobil pun keluar. Seorang murid laki-laki yang mungkin saja seumuran denganku. Badannya tinggi tegap, dadanya bidang, rambutnya sedikit pirang. Aku tak mengenali wajahnya karena ia memakai kacamata hitam. Setelah ia berdiri di depanku, ia baru melepaskan kacamatanya. Alis yang tebal, mata yang tidak terlalu sipit, hidung mancung. Sangat sempurna. Kalau sekarang aku sedang tidak dalam keadaan kesal, aku mungkin akan jatuh cinta padanya.
Ia memandangiku sebentar. Ia memandangiku dari atas sampai bawah. Mungkin dia ingin memastikan apakah ada luka atau tidak, pikirku. Tapi ternyata
“PUNYA MATA GAK SIH??” bentaknya tiba-tiba. “lo gak liat apa ada mobil yang mau lewat?? Punya mata tuh digunain, bukan buat di pajang doang!!!” serunya marah-marah
Aku langsung saja terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku lalu meghela napas dan menjawabinya. “eh, yang gak punya mata itu kamu kali. Kamu teh tidak lihat saya lagi jalan? Mobil kamu gak ada klakson ya? Lagian disini itu emang jalan khusus buat orang, mobil lewatnya di belakang. Apa kamu anak baru jadi gak tau jalan?” tanyaku tak kalah marah
Murid laki-laki itu pun berkacak pinggang tanda tak percaya dengan apa yang didengarnya. “lo gak tau siapa gue?” tanya cowok itu
“kamu? Buat apa saya tau siapa kamu, seharusnya yang saya denger sekarang itu permintaan maaf, bukan ocehan dari kamu. Ayo, buruan minta maaf” seru ku
“ckckck, lo gue lepasin kali ini kerena kayaknya lo belum tau siapa gue. tapi awas lo kalo ketemu gue lagi” ujarnya sambil berjalan ke mobilnya meninggalkanku. Aku tercengang disana, tak percaya. Mobil itu pun meluncur meninggalkanku menuju parkiran sekolah. Aku sempat melihat satu orang lagi yang duduk di bangku sebelah bangku supir, orang itu..Dion. Aku pun kembali berjalan menuju ke ruang loker dan ruang ganti.
                 Setelah bergantai pakaian, aku pun langsung bergegas menuju ke ruang latihan karena pelajaran akan dilangsungkan 5 menit lagi. Dalam perjalananku ke ruang latihan, aku melihat banyak anak-anak yang berkumpul di depan papan informasi. Aku pun segera kesana dan melihat apa yang membuat anak-anak berkumpul. ternyata mereka sedang mengerumuni pengumuman dari Juilliard School of Performing Art yang membuka Open Audition khusus untuk divisi tari baik itu kontemporer ataupun modern. Tanggal audisinya masih 1 minggu lagi. Aku pun tersenyum. Akhirnya aku bisa mewujudkan cita-citaku segera.
                Pelajaran kali ini di berikan oleh Mas Galih yang merupakan koreograver tari untuk modern dance. Karena dulu aku hanya terfokus kepada tarian kontemporer, agak susah mengikuti gerakan modern dance yang di ajarkan Mas Galih. Untungnya badanku bisa menyesuaikan dengan gerakannya. Setelah menari selama 15 menit, kami pun dipersilahkan untuk istirahat. Tiba-tiba Miss Nova masuk keruang latihan sambil membawa beberapa berkas. Ia lalu berbicara dengan mas Galih sebentar setelah itu berjalan ke tengah ruangan.
“seperti yang udah kalian tau, Juiliard lagi open Audition. Jadi yang mau ikut, tunjuk tangan sekarang” ujar Miss Nova. Aku langsung saja menunjuk. “gak ada yang mau ikut lagi selain mereka?” tanya Miss Nova. Aku pun menoleh ke seluruh ruangan dan ternyata hanya aku dan Mona yang menunjuk. Aku sedikit heran. “yaudah, kalian berdua ambil ini terus isi semua pertanyaan di dalam nya abis makan siang nanti, serahin lagi sama saya” seru Miss Nova sambil menyerahkan 2 formulir. “oh iya, in English ya” lanjutnya
Aku tercengang. Dalam bahasa inggris? Aku pun melihat formulir yang berada di tanganku. Dan benar saja semua tulisan yang ada di sana di tulis dalam bahasa Inggris. Aku langsung berfikir bagaimana cara mengisinya sedangkan aku sendiri tak tau apa saja pertanyaannya. Pantas saja anak-anak lain gak ada yang nunjuk, ini alasannya. Aku melirik sebentar ke arah Mona. Ia tersenyum melihat kertas didepannya.  Sepertinya ia mengerti pertanyaan-pertanyaan itu. Aku pun menyingkirkan formulir itu sebentar karena Mas Galih meminta kami untuk latihan lagi.
Akhirnya tepat pukul 10 kelas Mas Galih selesai. Aku pun keluar dari kelas sambil kembali memandangi formulir di tanganku. Tiba-tiba seseorang menarik lenganku. Aku tak sempat memprotes karena orang itu langsung membawaku pergi. Aku mencoba melihat siapa yang menarikku. Ternyata orang itu Dion. Cengkramannya sangat kuat. Sepertinya dia sedang marah pikirku. Orang-orang melihat ke arah kami saat kami lewat. Seolah kami adalah tontonan. Sambil terus berjalan, aku mencoba untuk berbicara dengan nya.
“anu, itu….kita mau kemana sih?” tanya ku. Dion hanya menoleh sebentar dan meneruskan jalannya sambil terus mencengkram lengan ku.
Akhirnya kami berhenti di depan teater kecil tempat aku dan dia bertemu semalam. Dion melepaskan cengkramannya dan memperhatikan sekelilingnya dulu sebelum masuk. Kemudian dia menyuruhku masuk
“masuk!” ujarnya dengan nada yang ketus. Aku pun menuruti perintahnya dan masuk kedalam teater itu. Dion lalu mengikutiku masuk dan berjalan mendahuluiku ke arah panggung. Ia lalu naik ke atas panggung dan duduk di tepinya. Aku hanya menikutinya dan berhenti tepat didepannya.
“sebenernya lo itu siapa sih?” tanyanya tanpa basa basi
“aku? Putri” seruku polos
“heeh” ia mendengus. “kalo lo Putri, gue..”
“pangeran, iya?” potongku langsung.
Ekspresi Dion langsung berubah. “lo peramal ya? kok bisa tau apa yang mau gue omongin?” tanya nya heran
Aku pun tersenyum. “karena kamu pernah ngomong kayak gitu ke aku”. Ekspresi Dion semakin menunjukkan keheranan. Aku pun beranjak ke atas panggung dan duduk di sampingnya. “iya, kamu pernah ngomong itu ke aku 7 tahun lalu, di Teater di deket rumahku di Bandung” ujarku akhirnya
Dion lalu memandangiku lalu ia mulai mengingat-ingat kejadian 7 tahun lagi yang mungkin sudah dilupakannya. Tiba-tiba Dion menoleh ke arahku
“lo…!!!” serunya tak percaya. “jadi lo Putri? anak kecil itu?” tanya nya meyakinkan
Aku pun mengangguk mantap. “wah, udah gede aja lo. Makan apa bisa segede ini? Perasaan dulu agak gendut deh” serunya sambil tersenyum mengacak-acak rambutku
“apaan sih..” seruku menyingkirkan tangannya. “masa yang kamu ingat Cuma gendutku aja?” seru ku cemberut
“hahaha, abisnya lo berubah banget. Yang gue inget waktu gue ketemu lo waktu itu, lo itu cewek terchubby yang pernah gue liat. Tapi sekarang kok bisa jadi sekurus ini?” seru Dion sambil tersenyum
“namanya juga udah 7 tahun. Lagian kitakan Cuma satu kali ketemu. Dan pas kita ketemu itu aku emang lagi gendut-gendutnya. Tapi karena aku ini penari, jadi aku diet bisar jadi kurus” ujarku
“hahaha, kayaknya kerja keras lo berhasil ya. eh tunggu, lo di divisi tari kan? Tapi kok lo bisa masuk sini? Nah, jangan-jangan lo ngikutin gue kesini ya?” tanyanya jahil
“enak aja! Aku masuk sini emang udah kemauan aku dari dulu. Ngapaiin aku ngikutin kamu. Waktu itu kan aku belum tau nama kamu siapa. Jadi mana mungkin aku bisa ngikutin kamu kesini. Lagian kalo bukan karena melodi biola kamu, aku gak bakal tau kalo kamu itu si pangeran” ujarku panjang lebar.
Dion pun hanya tertawa kecil. Aku pun ikut tertawa. Aku sangat senang akhirnya aku bisa bertemu dengan cinta pertamaku. Aku lalu tak sengaja melihat ke arah pintu masuk teater. Aku pun berhenti tertawa dan semakin memperhatikan pintu itu. Dan jika aku tidak salah lihat, mungkin ada beberapa orang yang sedang mengintip di balik pintu itu. Dion yang menyadari keanehanku akhirnya menoleh kearahku. Dion lalu mengikuti arah pandanganku. Setelah melihat sebentar, akhirnya Dion mengerti apa yang sedang terjadi di luar sana. Ia pun tersenyum.
“udah gak usah diliatin. Biarin aja” seru nya yang membuatku menyudahi pencarianku. Aku pun memandanginya. Seolah mengerti dengan arti pandanganku, Dion pun memberitahuku
“itu paling juga fans-fans gue yang penasaran kenapa gue bawa lo kesini. Mungkin juga mereka penasaran kok gue mau ngomong sama lo. Yah, resiko jadi orang terkenal” serunya membanggakan diri
“hah?” aku pun mendengus. “emang kenapa sih kamu gak mau ngomong sama orang lain? Kata Mona juga kamu tu gak mau ngomong kecuali ada perlu, bener gak sih?” tanya ku langsung.
“haahh” Dion pun menghela napas. “gue gak suka mereka semua. Cara mereka ngomong sama gue, cara mereka mandang gue, cara mereka tersenyum sama gue, semuanya palsu. Didepan gue mereka pada ngomong yang manis-manis, eh gak taunya di belakang gue mereka pada ngatain gue.” serunya
“masa sih? Kayaknya gak mungkin deh” ujarku tak percaya
“yaudah kalo gak percaya” Dion lalu turun dari panggung dan beranjak pergi ke luar
“eh, mau kemana?” tanya ku
Dion lalu berbalik “kekelas dong, gue ada kelas abis ini” ujarnya
“ahh….gak jadi deh” aku sebenarnya ingin meminta dion membantuku menjawab pertanyaan yang ada di lembar pendaftaran
“kanapa?” tanyanya sambil menyilangkan kedua lengannya didepan dada
“gak pa-pa. kamu teh balik aja ke kelas” ujarku
“ada apa sih? Gue jadi penasaran nih” serunya kembali mendekatiku
“hmm, gini…” aku pun bingung bagaimana harus meminta tolong kepada Dion. Tiba-tiba Dion melihat kertas yang dari tadi kupegang dan mengambilnya.
“ini apa?” tanyanya
“itu, formulir pendaftaran buat ke Juiliard” jawab ku. “hmm, bisa minta tolong gak?” tanyaku
“minta tolong apa?” ujarnya
“kamu bisa bahasa inggris kan?” tanyaku lagi sebelum melanjutkan
“ehhmm” serunya mengangguk
“bisa tolongin aku ngisi itu gak?” pintaku sambil menunjuk formulir yang sedang di pegangnya.
“ini?” Dion lalu melihat baik-baik isi formulir itu. Ia lalu tertawa. “lo gak bisa bahasa inggris?” tanyanya
Aku hanya mengangguk. Dion lalu kembali duduk disebelahku. “loh? Kamu bukannya ada kelas?” tanyaku ketika Dion sudah duduk disebelahku
“iya, emang kenapa?” dia malah bertanya balik
“terus ngapain kamu teh duduk disini?” tanyaku lagi
“kan tadi lo menta tolong, jadi gue disini mau bantuin lo ngisi ini” serunya sambil menunjukkan formulir yang masih di peganggnya. “lagian kelas abis ini ngebosenin, dari pada gue tidur di kelas, mendingan gue bantuin lo ngisi ini” ujarnya sambil tersenyum.
Aku pun tersenyum senang. “makasih ya pangeran, makasih banget” seru ku senang.
Dion pun mulai membantuku mengartikan pertanyaan-pertanyaan dari formulir itu. Dion juga membantuku menjawab setiap pertanyaan yang ada di dalam formulir itu. Sekitar jam makan siang, aku dan Dion baru keluar dari teater. Aku langsung menuju ke ruang guru untuk menemui Miss Nova untuk menyerahkan formulir pendaftaran. Setelah itu, aku langsung menuju kantin untuk mengisi perutku. Sepanjang perjalanan kekantin, aku merasa semua orang sepertinya sedang memperhatikanku. Aku sedikit risih, namun aku menepiskan pikiran itu dan tetap berjalan ke kantin.
Aku pun memesan makanan dan mulai mencari bangku kosong. Aku pun melihat sekelilingku dan perasaan aneh itu muncul lagi. Kali ini kau tidak mungkin salah. Orang-orang memang sepertinya sedang memperhatikan dan membicarakan ku. Tiba-tiba aku melihat ada satu meja kosong di sudut ruangan kantin, aku pun langsung menuju ke meja itu dan duduk di bangkunya. Aku merasa sepertinya orang-orang semakin memperhatikanku. Aku mempercepat makanku. Tiba-tiba ada seseorang yang menendang mejaku, aku tersentak dan langsung menoleh ke arah orang yang menendangnya. Dan ternyata orang itu adalah orang yang tadi pagi hampir menabrakku. Dan dia tidak sendiri, ada dua orang pengikutnya di belakangnya.
“minggir, ini tempat gue” ujarnya sambil kembali menendang meja.
Aku melihat sekelilingku dan kulihat ada beberapa meja kosong di tengah ruangan. “itu, di sana ada yang kosong” ujarku, aku pun kembali meneruskan makanku. Tiba-tiba dia mengambil makan siangku dan membuangnya. Kejadian itu sempat membuatku dan hampir seluruh orang di kantin terkejut.
“gue bilang, INI TEMPAT GUE!” bentaknya
Aku tak percaya dia akan membuang makan siangku. Aku pun mencoba menahan emosiku dan menghadapinya. “kayaknya gak ada nama kamu deh di meja ini, jadi ini bukan meja milik kamu. Lagian disana banyak tempat kosong. Terus, kamu pikir kamu hebat gitu bisa buang makan siang orang seenaknya? Emang kamu siapa sih? Anak presiden yang bisa sesuka hati kamu sama orang lain? Bukan kan?” seru ku
“lo.. lo yang tadi pagi kan?” serunya saat –sepertinya- sudah mengenaliku. Ia pun berkacak pinggang. “bukannya udah gue peringatin sama lo tadi pagi, jangan sampe lo ketemu gue lagi”
“eh, kamu kira saya teh suka apa ketemu kamu? Lagian saya juga siswa disini, jadi gak mungkin kita gak bakal ketemu” ujar ku mulai kesal. Aku merasakan orang-orang sekelilingku semakin memperhatikanku. Aku melihat sepertinya orang didepanku ini sudah mulai emosi. Baru saja ia ingin mengeluarkan kata-katanya lagi, seseorang memanggilnya.
“Juan!” panggil orang itu yang ternyata adalah Dion. Ia pun menaruh makan siangnya di meja yang berada didekatnya dan menghampiri kami. “ada apaan nih?” tanya Dion
“ngapain lo disini?” tanya si cowok itu -yang akhirnya ku tau namanya Juan-
Dion melihat kea rah ku sebentar dan tersenyum. “udahlah, dia Cuma anak baru, lagian banyak orang lagi makan. Jangan ngerusak mood mereka. Lain kali aja kita lakuin ini oke?” seru Dion.
Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi tiba-tiba sekelilingku kembali ke aktifitas mereka lagi. Dan Juan juga sepertinya mengangguk mengerti.
“lo beruntung hari ini, anak baru!” ujarnya sebelum meninggalkan kantin.
Aku hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh. Aku pun mulai membersihkan apa yang di tumpahkan oleh Juan tadi.
“gak usah di bersihin. Ntar ada petugas kantinnya yang bakal ngeberesin. Lo, pulang sekolah temui gue di terater kecil” ujar Dion tanpa melihatku. Mukanya sangat serius. Ia pun berlalu meninggalkanku. Tingkahnya semakin membuatku heran.
Akhirnya aku pun meninggalkan kantin dan kembali ke kelas.  Aku masih tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Dion dan Juan tadi. Kelas siang ini kelasnya Miss Nova, Balet. Tapi berhubung miss Nova sedang ada urusan, pelajaran kosong. Karena bosan dikelas, aku pun keluar kelas dan berkeliling sekolah.  Ketika berada di depan gedung divisi music dan tarik suara, aku melihat ke atas sejenak. Lalu aku pun melangkahkan kaki memasuki gedung tersebut dan menuju lift. Aku memencet nomor lantai paling atas yaitu lantai delapan. Tujuanku kali ini, atap gedung. Aku ingin menenangkan pikiranku.
Kurang lebih 5 menit kemudian, aku sampai di atap gedung. Aku langsung berjalan ke tepi atap dan melihat kebawah. Angin di sini sangat menyejukkan pikirku. Aku pun mengambil ponsel ku dan berfoto disana dan nantinya akan ku upload ke akun Twitter ku. Tiba-tiba aku mendengar pintu atap terbuka, dan suara-suara orang. Langsung saja aku mencari tempat sembunyi. Setelah bersembunyi aku baru sadar, untuk apa aku bersembunyi? Aku  kan tidak melakukan apa yang di larang. Aku baru saja ingin keluar dari persembunyian ku, tapi tiba-tiba aku melihat orang-orang itu sedang memukuli seseorang. Dan setelah kuperhatikan dengan baik-baik, orang yang sedang memukul adalah Juan dan teman-temannya. Setelah mereka selesai memukuli anak laki-laki itu, kedua teman Juan mengangkatnya menghadap Juan.
“doni” kudengar Juan memanggil nama anak yang sedang di pukuli itu. “gue harus bilang berapa kali sih, lo itu gak punya bakat buat sekolah disini, jadi ngapain lo tadi pamer ke semua orang? Lo kira permainan piano lo bagus apa? Hah? Mau nyaingin gue? HAH?” ujar Juan sambil mendorong kepala Doni
“heh, seenggaknya gue gak pernah gunain koneksi bonyok buat masuk ke sini” ujar doni melawan
“apa lo bilang? Sialan lo!” ujar Juan. Langsung saja Juan meninju perut Doni dan Doni langsung terjatuh ke lantai. Lalu kedua anak buah Juan mulai menendangi tubuh Doni lagi. Semakin lama melihatnya, aku semakin tak tahan. Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berlari ke arah mereka.
“BERENTI!” ujar ku berteriak pada mereka. Kedua anak buah Juan langsung berhenti menendangi Doni dan melihat ke arah ku. Juan juga langsung menoleh ke arah ku. Aku langsung berlari menghampiri Doni. Dan memeriksa lukanya. Wajahnya sudah penuh oleh darah. “kamu gak pa-pa kan?” tanya ku
Doni kelihatannya sedikit terkejut dengan kehadiranku. “gue…gak..pa-pa..” ujarnya terbata-bata
 Aku langsung berdiri dan berjalan ke arah Juan. “eh, kamu ini manusia apa bukan sih? Kamu gak liat apa dia udah sekarat gitu masih aja kamu pukulin. Emang kamu teh siapa? Gangster? Hah? Kamu mau sok hebat mukulin orang yang lebih lemah dari kamu? IYA?” ujarku marah
“ngapain lo disini? Ini bukan urusan lo! Jadi lo minggir” ujarnya menatap ku tajam
“kamu pikir, aku bakal diem aja ngeliat yang kayak gini? Kamu punya otak apa gak sih? Ada orang sekarat didepan kamu, masa kamu biarin aja” seru ku
“oh, jadi lo mau jadi pahlawan kesiangan? Udah telat” ujarnya lagi
“hah? Lebih baik telat dari pada gak sama sekali. Emang dia salah apa sama kamu? Cuma gara-gara di lebih jago main music ketimbang kamu, kamu mukulin dia, iya? Anak kecil banget” sindir ku
“apa lo bilang? Eh, kalo lo gak tau apa-apa gak usah ikut campur deh! Mending sekarang lo pergi sebelum gue ngejadiin lo target berikutnya” ancam nya
“ayo, jadiin aja. Siapa takut. Anak kecil kayak kamu bisanya Cuma pake fisik doang” ujar ku meremehkan
“mending sekarang lo pergi sebelum lo nyeselin ini. Gak usah sok berani deh sama gue” ancamnya lagi
“eh, takut itu sama tuhan bukan sama kamu. Emang kamu siapa musti ditakutin?” ujarku masih meremehkannya
“oke, lo yang minta. Guys, cabut” ujar nya pergi meninggalkan aku dan Doni
Aku hanya mencibir mereka dari belakang. Dan setelah mereka benar-benar sudah pergi, aku langsung menghampiri Doni lagi.
“eh, kamu gak pa-pa kan?” tanya ku khawatir. Tapi tiba-tiba Doni menepiskan tanganku dan berdiri sempoyongan. Aku pun membantunya berdiri, tapi lagi-lagi tanganku di tepisnya. Ia hanya menatapku tajam, lalu berlalu meninggalkanku. Aku terheran sendiri di tempatku. “paling gak ngomong terima kasih gitu,” ujar ku. Aku pun turun dan segera menuju gedung divisi tari.
Bel pulang sekolah berbunyi lebih cepat dari biasanya. Aku dan hampir semua orang di kelas bertanya-tanya. Namun, tepat setelah bel tersebut, ada pemberitahuan bahwa para staff, guru, dan pelatih akan mengadakan rapat jadi para siswa di izin kan pulang lebih awal. Banyak siswa yang langsung senang mendengar berita itu. Aku pun teringat janjiku dengan Dion. Baru saja aku akan beranjak keluar, Miss Nova memanggilku dan Mona. Ia memberitahu kami untuk menyiapkan satu video tari berdurasi 3 menit yang terdiri dari tari kontemporer dan modern. Gerakkannya dan koreo nya harus real, asli buatan kami sendiri. Dan dikumpul paling lambat Senin nanti. Aku pun mengangguk mengerti dan mohon diri dari miss Nova. Aku langsung menuju teater kecil.
Ketika sudah sampai di teater kecil, belum ada orang disana. aku pun duduk di tepi panggung. Sambil menunggu, aku pun mendengarkan beberapa lagu klasik yang nantinya akan kujadikan background untuk tarianku. Aku pun menutup mataku membayangkan berbagai gerakan tari yang nantinya akan kupakai. Tiba-tiba ada yang menarik headset lepas dari telingaku. Aku pun membuka mata dan melihat Dion sedang tersenyum memandangi ku.
“oh, u..dah dateng ya” seru ku salah tingkah. Aku sedikit aneh diperhatikannya seperti itu.
Dion pun naik keatas panggung dan ikut duduk di tepi panggung sepertiku. “lagi ngapain?” tanyanya
“lagi nyari-nyari lagu aja buat background tarian nanti. Eh, tapi kenapa kamu teh pengen ketemu sama saya di sini?” tanyaku
“hmm, sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue mau nanya, lo kenal sama Juan?” tanya nya lagi
“Juan? Nggak tuh” ujar ku ketus begitu mendengar nama Juan
“terus tadi kenapa di kantin lo bisa punya masalah sama dia?” tanya Dion lagi
“ohh, yang tadi, aku juga gak tau. Tiba-tiba dia dateng, ngeklaim meja yang tadi kutempati itu meja dia, dan akhirnya dia ngebuang makanan aku. Oh iya, tadi pagi juga dia hampir aja nabrak aku di gerbang. Emang dia itu siapa sih?” tanya ku setelah menjelaskan kejadian di kantin tadi
“ohh, gitu. Juan itu anak yang punya sekolah ini. Dia juga salah satu siswa di sini. Tingkat tiga, divisi music. Sama kayak gue. Cuma beda alat music aja. Gue biola, dia piano. Tapi dia gak pernah sekalipun mainin piano sejak dia pindah ke sini tahun lalu. Kerjaannya Cuma ngebully anak-anak yang menurut dia “gak sesuai” dengan status mereka. Gue salaah satu temen deketnya, deket banget malah” ujarnya panjang lebar. “tapi gue gak ikut ngebully ya” bantahnya langsung ketika melihat tatapanku.
“oh, iya, mending lo jangan sampe ketemu dia lagi. Kalo dia udah nemuin target dia, dia gak bakal ngelepasin tu orang sampe orang itu berhenti di rumah sakit atau pun keluar dari sekolah. Bukan Cuma orang itu, tapi orang-orang terdekat orang itu juga bakal jadi korban. Makanya hampir semua orang disekolah ini takut sama dia. Kecuali gue. Jadi lo harus usahain supaya jangan sampe lo ketemu lagi sama dia” ujarnya memperingatiku
“masa sih seserem itu? ah gak mungkin deh. Lagian tanpa kamu peringatin pun aku pasti gak bakal mau ketemu lagi sama orang nyebelin kayak gitu” ujarku
“yakin kamu gak bakal ketemu lagi?” tanya Dion yang sepertinya masih tidak percaya dengan ku
“yakin. Udah kamu tenang aja. Aku bukan anak kecil lagi, jadi buat apa takut sama orang kayak Juan. Takut itu sama tuhan bukan sama Juan” ujarku tersenyum. Padahal dalam hati aku mulai takut. Apalagi setelah tadi aku menantang Juan. Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk akan menimpaku
“eh lo pulang naik apa?” tanya Dion membuyarkan lamunanku
“ahh? Ohh, aku pulang jalan kaki. Deket kok kontrakan aku dari sini” ujarku
“mau gue anter gak?” ujarnya menawariku
Aku berpikir sejenak. “gak usah deh. Tadi siang aja aku udah di perhatiin anak-anak gara-gara ngobrol sama kamu. Gimana nanti kalo mereka tau kamu nganter aku? Bisa heboh satu sekolah. Gak usah deh, haha” tolakku sambilk bercanda. Aku pun beranjak dari panggung dan meninggalkan Dion sendirian disana.
“eh, tunggu bentar” cegah Dion. Ia langsung turun panggung dan menghampiriku. Ia mengacungkan handphonenya ke arah ku “masukkin nomor lo dulu” ujarnya.
Akupun langsung mengambil handphonenya dan mengetik nomor handphone ku di sana. Setelah selesai aku pun mengembalikannya “aku duluan ya” ujarku pamit. Aku pun berjalan keluar dari teater kecil.

(cont)

Jumat, 13 Desember 2013

Dream

BAB II

                Welcome to Jakarta. Akhirnya aku ada di Jakarta. Ayah juga menemani ku ke Jakarta. Tapi ayah udah balik lagi ke Bandung. Di Jakarta aku mengontrak rumah. Tadinya aku ingin kos-kosan aja, tapi Ayah sudah terlanjur membayar kontrakan yang tidak terlalu jauh dengan sekolahku. Akhirnya aku menempati kontrakan itu. Kontrakannya tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Tapi fasilitas yang ditawarkan memang memadai. Di dalam kontrakan ini sudah terdapat kasur, bantal, lemari, TV, kulkas, AC dan kompor gas. Jadi kemarin aku dan Ayah hanya berbelanja sedikit barang. Tapi biaya kontrakannya pun tak murah. Malam ini rasanya aku tak akan bisa tidur karena sudah tak sabar ingin segera hari esok.
                Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali sangking semangatnya. Aku langsung mengambil seragam sekolahku yang baru. Aku pun mulai membuat sarapan dan mengepak apa saja yang harus ku bawa hari ini sesuai dengan apa yang dituliskan di dalam buku panduan sekolahnya.  Hanya satu yang membingungkanku, apakah nanti aku harus mengikuti orientasi seperti murid baru atau langsung masuk kekelas. Setelah melihat jam yang sudah menunjukan pukul 7.30, aku pun langsung bergegas menuju sekolah baru ku. Dari rumah kontrakanku ke sekolah hanya 10 menit berjalan kaki. Begitu aku sampai didepan gerbang sekolahnya, aku melihat tulisan “Q Art School” yang di ukir dengan warna emas. Aku pun tersenyum dan langsung melangkah memasuki areal sekolah.
                Ketika memasuki areal sekolah, seorang guru muda yang cantik memanggil para murid baru untuk di berikan pengarahan. Aku langsung saja bergabung dengan para murid baru yang sudah membentuk barisan. Setelah terkumpul semuanya, guru itu memperkenalkan diri sebagai Miss Nova, koreografer divisi tari. Setelah memberikan penjelasan sebentar, Miss Nova memanggil nama ku. Aku pun keluar dari barisan dan maju kedepan
“Karena kamu satu-satunya murid tingkat 2 disini, kamu tidak perlu ikut orientasi. Setelah ini kamu ikut saya ke ruang divisi tari.” Ujarnya.
Aku pun mengangguk dan kembali ke tempatku semula. Miss Nova lalu menyerahkan para murid baru kepada BIS (Badan Internal Sekolah) –semacam OSIS jika di SMA-  dan membawaku ke ruang divisi tari. Setelah sampai di depan ruang Divisi tari, Miss Nova menyuruhku untuk menunggu sebentar sementara ia memanggil seorang murid. Aku sempat melirik sebentar kedalam ruangan itu. terlihat olehku murid-murid yang sedang melakukan pemanasan. Lalu miss Nova keluar dengan membawa seseorang.
“nah, Putri, perkenalkan ini Mona. Dia ketua tingkat di tingkat 2 divisi tari. Mona, ini Putri Viansa, murid baru di divisi kita. Karena dia sudah berada di tingkat 2, dia tidak perlu mengikuti orientasi sehingga miss minta kamu untuk memperkenalkan sekolah ini sama dia. Beritahu dia semua tempat yang ada disekolah ini. Kamu gak usah khawatir soal pelajaran karena hari ini gak ada pelajaran sampai makan siang, jadi tolong ya” seru Miss Nova tersenyum kepada anak perempuan yang tadi diperkenalkannya sebagai Mona. Mona pun menggangguk sebagai jawaban. Akhirnya miss Nova meninggalkan kami berdua.
“hmm, nama kamu Putri Viansa ya? Kalo gitu aku panggil Putri aja ya” serunya sambil tersenyum. Sepasang lesung pipi terpasang di kedua pipinya yang lumayan chubby. Aku pun mengangguk
“oke, kita mau mulai dari mana nih?” tanyanya
“terserah kamu aja” jawabku.
“hmm, yaudah kita mulai dari sini aja. Ini ruang latihan divisi tari tapi khusus yang tingkat 2. Sambil jalan yuk. Oh iya, kamu pindahan dari sekolah seni mana?” tanyanya sebelum melanjutkan
“ehh, saya teh dulunya di SMA biasa, hehe” seruku malu-malu
“loh? Jadi kamu bukan dari sekolah seni? Kok bisa lulus audisi?” tanyanya heran
“saya juga heran, saya kira gak bakal masuk eh gak taunya nama nya muncul” jawabku seadanya
“ohh, artinya kamu ini sama kayak kak Lia ya, dia juga pindahan dari SMA biasa tapi dia udah di tingkat 3 sekarang. Oh iya, mungkin kamu belum tau, tapi di sini sistemnya agak beda sama SMA biasa. Kalo di SMA kan biasanya grade-nya itu pake kelas 10, 11, ama 12, nah disini pakenya tingkat 1, tingkat 2, tingkat 3, sama tingkat 4. Kalo lamanya belajar sama kok kayak di SMA. Dalam satu tingkat itu ada 2 semester. Bedanya kita jarang bahkan gak ada sama sekali teori, semuanya praktek. Mungkin Cuma divisi music sama tarik suara yang ada teorinya. Kalo untuk divisi tari, teorinya dikasih di sela-sela latihan. Jadi kamu gak perlu bawa buku tulis. Kalo kamu masih di tingkat 1 mungkin kamu masih perlu buku tulis, tapi kalo udah di tingkat 2, gak perlu lagi” seru Mona menjelaskan panjang lebar. Dia pun mengajak aku untuk duduk di bawah pohon akasia yang besar dan rindang. Mona pun melanjutkan penjelasannya
“nah, untuk tingkat 3 sama 4 beda banget sama SMA. Di tingkat 3 kamu bakal ngambil ujian, terus kalo kamu lulus ujian itu kamu bisa milih mau lanjut ke universitas seni atau mau lanjut ke tingkat 4. Orang tingkat 4 biasanya yang pada mau kerja di orchestra atau pun di grup tari yang bakal keliling dunia. Jadi mereka dikasih satu tahun ekstra buat pelatihan. Baik mental maupun fisik” serunya panjang lebar. Mona pun  mulai mengenalkan ruangan yang terlihat dari tempat kami duduk itu kepadaku.
Kami pun beranjak dari tempat kami duduk dan beralih ke gedung tempat divisi music dan tarik suara. Kami melewati koridor di setiap ruangan dan Mona menjelaskan kepadaku ruangan-ruangan itu. Namun kaki ku berhenti pada satu ruangan, aku melihat dari jendela luar seorang anak laki-laki sedang memainkan biola di tengah ruangan di kelilingi oleh beberapa orang. Aku mengamati dengan seksama cara anak laki-laki itu memainkan biola, ekspresinya, melodinya. Entah mengapa aku sangat merindukan suara dari biola itu. Mona yang menyadari aku berhenti segera menghampiriku
“ngapain kamu disini?” tanya nya yang sempat mengejutkanku
“hah? Ahh nggak, aku Cuma..” seruku salah tingkah
“oh dia, namanya Dion. Keren ya kalo lagi main biola, tapi jangan harap deh dia bakal ngomong sama kamu” seru Mona sambil kembali berjalan
Aku melihat lagi sebentar ke dalam ruangan lalu menyusul Mona. “kanapa?” tanya ku
“dia itu orangnya pendiemmm banget. Dia Cuma ngomong kalo lagi ada perlu sama orang aja. Kamu mau ngomong sampe mulut kamu capek juga gak bakal di jawab in. Jadi mending gak usah di ajak ngomong deh” serunya panjang lebar
“ohh” respon ku seadanya. Entah mengapa sosok Dion yang sedang memainkan biola terus muncul di dalam benakku. Selain itu, suara dari biolanya juga seakan pernah kudengar. Aku pun menepiskan pikiran itu dan kembali focus mendengar penjelasan Mona. Dan tur kami berhenti pada satu ruangan di gedung yang lumayan jauh dari gedung utama sekolah dan berada tak jauh dari Gerbang depan.
“ini ruang latihan bersama untuk seluruh divisi, bisa dibilang teater kecil. Tapi sekarang udah gak di gunain lagi karena kita udah pindah ke gedung yang baru di sana” seru Mona sambil menunjuk ke arah Gedung baru yang berada di sebelah gedung divisi tari dan drama. Aku pun mengangguk-angguk
“kayaknya udah semua deh. Sekarang mending kamu ganti baju sama baju latihan udah itu langsung ke ruang latihan. Tau kan ruang gantinya di mana?” seru Mona
“tau kok” jawabku sambil tersenyum. Aku dan Mona pun berpisah di depan ruang ganti. Mona langsung menuju ruang latihan sedangkan aku berganti pakaian dulu sebelum ikut pelajaran.


JJJ

Sabtu, 07 Desember 2013

Dream

BAB I
 
                Didekat rumah ku ada sebuah teater besar yang kini tak lagi terpakai. Tapi itu merupakan tempat persembunyianku jika aku ingin menari. Ruang latihan yang berada tepat di belakang panggung adalah markas ku. Aku biasanya latihan menari disana. Aku belajar tari secara otodidak. Aku memang memiliki bakat menari karena almarhum bundaku juga dulunya penari. Tapi ayah tak pernah mengizinkanku menari. Akhirnya akupun belajar menari sendiri di teater ini. Aku menemukan ruangan latihan ini sewaktu umurku masih 8 tahun. Awalnya aku takut memasuki teater ini karena menurut orang-orang disekitar rumahku, teater ini berhantu. Tapi ketika untuk pertama kalinya aku memasuki teater ini, aku langsung takjub. Panggungnya sangat besar. Persis di depan panggung, puluhan bahkan ratusan kursi penonton tersebar. Ketika aku menjelajahi teater itu, aku menemukan ruangan latihan ini. Untungnya ruang latihan ini tak pernah dikunci, jadi aku bisa leluasa datang sesukaku.
                Jika datang ke ruang latihan ini, aku teringat saat aku masih berusia 9 tahun. Saat itu aku sedang mempelajari tarian balet. Hari itu seperti biasa jam 3 sore aku pergi ke ruang latihan itu. Ketika aku memasuki teater, aku mendengar suara merdu dari sebuah biola. Ku kira itu merupakan suara hantu yang selama ini di ceritakan tetangga-tetanggaku, aku sempat takut, tapi ternyata bukan. Setelah aku memasuki teater dan melihat ke panggung, terlihatlah orang yang memainkan biola itu. Seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran denganku. Caranya memainkan biola sungguh hebat. Tapi tatapannya dan lagu yang dimainkan, melodinya sangat menyedihkan. Setelah anak itu selesai bermain biola, aku langsung menghampirinya. 
“kamu siapa?” tanya ku. Anak itu sempat terkejut. Namun alih-alih pergi, ia malah menatap mataku sangat lama. 
“kamu siapa?” ia malah bertanya balik. 
Karena saat itu aku masih kecil, jadi aku langsung saja menjawab siapa aku “aku? Aku Putri” seru ku sambil tersenyum lebar.
Anak laki-laki itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia pun mengangguk “kalo kamu putri, aku pangeran dong, hahaha” serunya tertawa 
“gak, bukan gitu. Maksud aku, namaku Putri. Kamu siapa?” tanya ku lagi 
“hmm, panggil aja aku pangeran” ujarnya tanpa memandangku. Ekspresinya kembali seperti saat dia sedang memainkan biola. 
Aku sempat heran dan bertanya-tanya kenapa dia tak mau menyebutkan nama aslinya. Tapi mungkin dia punya alasan tersendiri pikirku. “oke, pangeran, ngapain kamu disini?” tanya ku 
“kamu sendiri ngapain disini?” ia bertanya balik lagi. Aku hanya bisa memaklumi dan akhirnya aku duluan yang menjawab pertanyaannya “aku? Aku mau latihan disini” jawabku 
“latihan? Tapi kamu nggak bawa alat music” serunya 
“siapa bilang aku mau latihan music. Aku mau latihan nari disini” ujarku bersemangat 
“latihan nari? Kamu bisa nari?” tanyanya 
“heeh” seruku mengangguk. “sekarang kamu jawab pertanyaan aku. Kamu ngapain disini?” tanyaku 
“aku? Tadi kamu kan udah liat sendiri aku ngapain” serunya 
“iya aku tau kamu tadi main biola. Yaudah aku genti deh pertanyaannya. Kok kamu bisa tau teater ini?” tanya ku 
“oh jadi ini teater. Aku kira ini balai desa” serunya menyeringai. “aku juga gak tau gimana aku bisa sampai sini. Aku tadi Cuma berpikir pengen pergi ketempat yang tenang dan sepi. Dan tiba-tiba kakiku berhenti didepan teater ini.” Serunya 
“emang kamu tadi dari mana?” tanyaku lagi
“dari makam. Ibu kandungku meninggal hari ini” jawabnya tanpa memandangku 
Pantas saja dia memainkan melodi sesedih itu tadi. Aku juga baru menyadari pakaiannya serba hitam. Tapi tak terlihat bekas airmata  diwajahnya. Kenapa dia tidak menangis? Seharusnya ketika ada orang terdekat kita meninggal, secara alami kita akan menangis. Ketika bunda meninggal, aku menangis sejadi-jadinya padahal umurku waktu itu baru 6 tahun. 
“kenapa aku gak nangis? Mungkin karena aku baru tau dia ibu kandungku, ketika dia udah meninggal” ujarnya seolah-olah bisa membaca pikiranku. Aku pun langsung menoleh kearahnya. 
“baru tau? maksudnya?” tanyaku tak mengerti 
“iya, aku baru tau dia ibu kandungku hari ini. Saat dia meninggal” ujarnya 
“aku gak ngerti deh maksudnya apa” seru ku tak mengerti 
“jadi gini, aku punya satu keluarga. Dari aku kecil sampe kemarin, aku menganggap ibu yang ada dirumah aku itu ibu kandungku, tapi ternyata bukan. Aku baru dikasih tau papa hari ini.” Serunya menjelaskan. 
“ohh, kamu gak ngerasa sedih?” tanya ku lagi 
“aku sendiri bingung harus sedih atau marah. Karena itu aku kesini. Dan setelah kesini….” Ia menggantung kata-katanya. 
“setelah kesini kenapa?” tanya ku lagi 
Si pangeran tidak menjawab. Tiba-tiba ia beranjak dari panggung itu sambil membawa biolanya kearah pintu keluar. 
“kamu mau kemana?” tanya ku 
“pulang” jawabnya singkat memunggungiku 
“besok main kesini lagi ya” seru ku tersenyum 
Ia pun berbalik dan meihat kearah ku. “senang berkenalan  denganmu, Putri.” Serunya tersenyum. Aku terkesiap. Baru kali itulah aku melihat senyum yang sangat indah. Jantungku berdebar kencang. Ia masih menatapku sambil tersenyum. “besok aku akan kembali ke negeriku” serunya 
Akupun tersadar dari lamunan ku. “loh? Kamu orang luar negeri?” tanyaku 
“gak, aku orang Indonesia, tapi aku gak tinggal di sini. Besok aku balik ketempat ku” ujarnya 
“yah, gak bisa ketemu lagi dong” seru ku murung
“kalo kita jodoh, kita pasti ketemu” serunya sambil tersenyum. Sekali lagi aku terpesona oleh senyumnya. Mungkin ini lah yang dinamakan cinta pertama. Si pangeran pun pergi meninggalkanku sendiri di teater itu.
                Keesokkan harinya, aku kembali ke teater itu. Tapi ternyata Pangeran sudah benar-benar pergi. Semenjak hari itu, aku gak pernah lagi bertemu dengan Si Pangeran, cinta pertamaku. Dan kini usia ku menginjak 16 tahun. Saat ini sedang libur kenaikan kelas. Namun kesempatan berlibur ini aku manfaatkan untuk mengikuti audisi untuk memasuki sekolah seni yang lumayan terkenal di Jakarta. Sebenarnya tahun kemarin aku ingin mengikuti audisi itu, tapi ayah melarangku saat aku minta izin darinya. Jadi, sekarang aku mengikuti ujian dulu, baru nanti setelah pengumuman lulus aku kasih tau ke ayah. Awalnya kukira aku tidak boleh mengikuti audisi itu dikarenakan aku sudah menjadi siswi SMA, tapi ternyata direktur sekolah itu –yang juga juri audisi- ingin melihat bakatku dulu sebelum memutuskan boleh atau tidaknya aku ikut.
                Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya pengumumannya keluar. Aku mengamati layar laptopku dengan seksama, melihat apakah namaku keluar atau tidak. Setelah sampai di barisan huruf P, aku menggerakkan kursor sedikit lebih pelan. Mengamati nama satu persatu dan mataku berhenti pada satu nama. Namaku keluar!! Seolah tak mempercayai apa yang kulihat, aku memperbesar view nya. 
“ ‘Putri Viansa, tingkat dua, divisi Tari’ kyaaaa!!! AYAHHH!! Nama teteh keluar!! Ayah!!!” seru ku kegirangan. 
Ayahpun langsung keluar dari kamarnya begitu mendengar teriakanku
aya naon atuh teh? Apa na yang keluar?” tanya Ayah dengan logat sundanya 
“itu yah, nama teteh keluar. Teteh lulus audisi atuh yah” seru ku senang
“audisi? Audisi apa teh?” tanya Ayah 
Aku pun tersadar. Ayah kan belum tau apa-apa pikirku. Karena sudah terlanjur basah, akupun akhirnya menceritakannya kepada ayah.
“aduh, gimana ngomongnya ya?” gumamku 
“kenapa atuh teh?” tanya ayah lagi 
“gini yah, kemaren pas liburan teteh ikut audisi di Jakarta” seru ku memulai cerita 
“audisi? Audisi apa atuh teh? Kapan teteh keJakarta?” tanya Ayah 
“itu yah kemaren pas teteh pergi sama Dinda. Maaf atuh yah sebelumnya teteh gak bilang dulu sama ayah. Teteh ikut audisi untuk masuk sekolah seni di Jakarta. Terus sekarang teteh lulus yah” seruku menunduk, takut melihat muka ayah yang sepertinya mulai marah. 
“sekolah seni? Seni tari?” tanya Ayah meyakinkan. Dan aku pun mengangguk. “Gak. Teteh gak boleh pergi” seru ayah langsung. Aku kontan mengangkat kepalaku menatap ayah 
“loh? Kenapa yah? Teteh kan udah lulus yah, sayang kalo gak diambil. Boleh ya yah? Sekali ini aja, teteh gak pernah minta yang macem-macem sama ayah, Cuma kali ini aja yah” ujarku memohon 
“sekali ayah bilang nggak ya nggak! Ayah kan udah berapa kali bilang ke teteh, ayah gak suka teteh nari. Lagian, di Jakarta teteh mau tinggal sama saha? Kenalan gak ada, keluarga juga gak ada. Terus itu sekolah seni itu biayanya sabaraha? Belum biaya hidup teteh nanti di Jakarta. Hidup di Jakarta mahal atuh teh” seru Ayah menjelaskan 
“teteh kan bisa ngekos di deket sekolah yah. Yah, tari itu segalanya buat teteh. Teteh mohon yah, sekali ini aja. Teteh mah pengen ngejer cita-cita teteh buat bisa ke Juiliard kayak Bunda.” Begitu aku menyebut Bunda, raut muka Ayah langsung berubah. Seketika aku langsung menyesali apa yang barusan kukatakan. Ayah paling tidak suka mengungkit-ungkit tentang Bunda 
Ayah pun menghela napas panjang. “yaudah sok atuh ke Jakarta. Mau gimana pun ayah ngelarang,  toh nanti teteh masih tetep pergi. Tapi buat kali ini aja ayah kabulin apa kemauan teteh. Kapan atuh teteh berangkat?” seru ayah akhirnya 
Senyum pun mengembang di wajahku. Aku pun langsung berlari memeluk Ayah. “makasih ayah!! Makasih banget! Satu minggu lagi keJakarta nya Teteh juga mau ngurusin berkas di sekolah teteh” ujarku seraya melepaskan pelukanku. 
“kalo urusan sekolah mah, biar ayah aja yang urus. Teteh sekarang siapin aja apa yang mau di bawa. Ayah punya temen di Jakarta, nanti ayah minta tolong sama dia buat nyariin teteh kosan deket sekolah” Ujar Ayah 
“makasih ayah” seru ku sambil tersenyum. Akhirnya beban dipundakku pun lepas. 
                Satu hari sebelum aku pergi kejakarta, aku mengunjungi teater tempatku latihan selama ini. Ketika memasuki teater, aku sempat merasa sedih karena harus pergi meninggalkan teater yang penuh kenangan ini. Aku pun duduk di panggung teater. 
“aku pasti bakal kesini lagi. Liburan nanti aku pasti bakal kesini. Jadi, jangan rubuh dulu ya sebelum aku dateng.” Ujarku tersenyum. Aku pun beranjak dari panggung dan berjalan menuju pintu keluar. Aku sempat melihat lagi ke arah panggung sebentar dan akhirnya keluar dari teater itu. Jakarta, I’m coming..

(cont)

Rabu, 29 Februari 2012

secret admirer

Jadi "secret admirer" itu gak enak yaa,. dia gak tau kalo kita itu suka ama dia. gak enak kan. tapi kenapa yaa hampir semua cewek pengen banget jadi "secret admirer". padahal kalo mau di teliti, banyak gak enaknya ketimbang enaknya. gak enaknya pertama, lo cuma bisa mandangin and menyukai dia dari jauh. gak percaya? ok, coba deh kalo lo suka ama cowo , lo bilang gini "eh, gue suka ama lo" gak berani kan? lo lebih milih nyandang gelar "secret admirer" daripada ngomong kayak gitu. gak enak tau! ntar dia ngira lo itu penguntit, terus jadi ilfeel ama lo. kedua, lo cuma bisa mendem perasaan lo sendiri. gak baik tau mendem perasaan sendiri, kalo di pendem terus ntar jadinya depresi, terus ujung-ujungnya bisa gil. mau? gue mah ogah ! ketiga, lo salting and malu-malu kalo lagi deket ama dia, sikap lo itu bakal ketauan ama temen-temen cewe lo. lo mau ketauan terus diolok-olok ama temen-temen lo? gak kan?. nah dari surfey yang udah gue lakuin ama 6 cewe classmate gue, 4 diantaranya bilang jadi "secret admirer" itu gak enak. ada yang bilang tertekan, gak bebas, pokoknya banyak deh. tapi ada juga yang bilang jadi secret admirer itu enak and seru. well, kalo menurut gue dari pada lo mendem perasaan lo, mending lo ungkapin. yah, gak harus dengan nembak juga sih. mungkin kalian yang baca blog gue punya cara-cara tersendiri buat ngungkapin perasaan lo tanpa harus nembak. well, that all my opinion about "secret admirer". I need your comment in my first post on my blog. thanks for read this :)