Sabtu, 07 Desember 2013

Dream

BAB I
 
                Didekat rumah ku ada sebuah teater besar yang kini tak lagi terpakai. Tapi itu merupakan tempat persembunyianku jika aku ingin menari. Ruang latihan yang berada tepat di belakang panggung adalah markas ku. Aku biasanya latihan menari disana. Aku belajar tari secara otodidak. Aku memang memiliki bakat menari karena almarhum bundaku juga dulunya penari. Tapi ayah tak pernah mengizinkanku menari. Akhirnya akupun belajar menari sendiri di teater ini. Aku menemukan ruangan latihan ini sewaktu umurku masih 8 tahun. Awalnya aku takut memasuki teater ini karena menurut orang-orang disekitar rumahku, teater ini berhantu. Tapi ketika untuk pertama kalinya aku memasuki teater ini, aku langsung takjub. Panggungnya sangat besar. Persis di depan panggung, puluhan bahkan ratusan kursi penonton tersebar. Ketika aku menjelajahi teater itu, aku menemukan ruangan latihan ini. Untungnya ruang latihan ini tak pernah dikunci, jadi aku bisa leluasa datang sesukaku.
                Jika datang ke ruang latihan ini, aku teringat saat aku masih berusia 9 tahun. Saat itu aku sedang mempelajari tarian balet. Hari itu seperti biasa jam 3 sore aku pergi ke ruang latihan itu. Ketika aku memasuki teater, aku mendengar suara merdu dari sebuah biola. Ku kira itu merupakan suara hantu yang selama ini di ceritakan tetangga-tetanggaku, aku sempat takut, tapi ternyata bukan. Setelah aku memasuki teater dan melihat ke panggung, terlihatlah orang yang memainkan biola itu. Seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran denganku. Caranya memainkan biola sungguh hebat. Tapi tatapannya dan lagu yang dimainkan, melodinya sangat menyedihkan. Setelah anak itu selesai bermain biola, aku langsung menghampirinya. 
“kamu siapa?” tanya ku. Anak itu sempat terkejut. Namun alih-alih pergi, ia malah menatap mataku sangat lama. 
“kamu siapa?” ia malah bertanya balik. 
Karena saat itu aku masih kecil, jadi aku langsung saja menjawab siapa aku “aku? Aku Putri” seru ku sambil tersenyum lebar.
Anak laki-laki itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia pun mengangguk “kalo kamu putri, aku pangeran dong, hahaha” serunya tertawa 
“gak, bukan gitu. Maksud aku, namaku Putri. Kamu siapa?” tanya ku lagi 
“hmm, panggil aja aku pangeran” ujarnya tanpa memandangku. Ekspresinya kembali seperti saat dia sedang memainkan biola. 
Aku sempat heran dan bertanya-tanya kenapa dia tak mau menyebutkan nama aslinya. Tapi mungkin dia punya alasan tersendiri pikirku. “oke, pangeran, ngapain kamu disini?” tanya ku 
“kamu sendiri ngapain disini?” ia bertanya balik lagi. Aku hanya bisa memaklumi dan akhirnya aku duluan yang menjawab pertanyaannya “aku? Aku mau latihan disini” jawabku 
“latihan? Tapi kamu nggak bawa alat music” serunya 
“siapa bilang aku mau latihan music. Aku mau latihan nari disini” ujarku bersemangat 
“latihan nari? Kamu bisa nari?” tanyanya 
“heeh” seruku mengangguk. “sekarang kamu jawab pertanyaan aku. Kamu ngapain disini?” tanyaku 
“aku? Tadi kamu kan udah liat sendiri aku ngapain” serunya 
“iya aku tau kamu tadi main biola. Yaudah aku genti deh pertanyaannya. Kok kamu bisa tau teater ini?” tanya ku 
“oh jadi ini teater. Aku kira ini balai desa” serunya menyeringai. “aku juga gak tau gimana aku bisa sampai sini. Aku tadi Cuma berpikir pengen pergi ketempat yang tenang dan sepi. Dan tiba-tiba kakiku berhenti didepan teater ini.” Serunya 
“emang kamu tadi dari mana?” tanyaku lagi
“dari makam. Ibu kandungku meninggal hari ini” jawabnya tanpa memandangku 
Pantas saja dia memainkan melodi sesedih itu tadi. Aku juga baru menyadari pakaiannya serba hitam. Tapi tak terlihat bekas airmata  diwajahnya. Kenapa dia tidak menangis? Seharusnya ketika ada orang terdekat kita meninggal, secara alami kita akan menangis. Ketika bunda meninggal, aku menangis sejadi-jadinya padahal umurku waktu itu baru 6 tahun. 
“kenapa aku gak nangis? Mungkin karena aku baru tau dia ibu kandungku, ketika dia udah meninggal” ujarnya seolah-olah bisa membaca pikiranku. Aku pun langsung menoleh kearahnya. 
“baru tau? maksudnya?” tanyaku tak mengerti 
“iya, aku baru tau dia ibu kandungku hari ini. Saat dia meninggal” ujarnya 
“aku gak ngerti deh maksudnya apa” seru ku tak mengerti 
“jadi gini, aku punya satu keluarga. Dari aku kecil sampe kemarin, aku menganggap ibu yang ada dirumah aku itu ibu kandungku, tapi ternyata bukan. Aku baru dikasih tau papa hari ini.” Serunya menjelaskan. 
“ohh, kamu gak ngerasa sedih?” tanya ku lagi 
“aku sendiri bingung harus sedih atau marah. Karena itu aku kesini. Dan setelah kesini….” Ia menggantung kata-katanya. 
“setelah kesini kenapa?” tanya ku lagi 
Si pangeran tidak menjawab. Tiba-tiba ia beranjak dari panggung itu sambil membawa biolanya kearah pintu keluar. 
“kamu mau kemana?” tanya ku 
“pulang” jawabnya singkat memunggungiku 
“besok main kesini lagi ya” seru ku tersenyum 
Ia pun berbalik dan meihat kearah ku. “senang berkenalan  denganmu, Putri.” Serunya tersenyum. Aku terkesiap. Baru kali itulah aku melihat senyum yang sangat indah. Jantungku berdebar kencang. Ia masih menatapku sambil tersenyum. “besok aku akan kembali ke negeriku” serunya 
Akupun tersadar dari lamunan ku. “loh? Kamu orang luar negeri?” tanyaku 
“gak, aku orang Indonesia, tapi aku gak tinggal di sini. Besok aku balik ketempat ku” ujarnya 
“yah, gak bisa ketemu lagi dong” seru ku murung
“kalo kita jodoh, kita pasti ketemu” serunya sambil tersenyum. Sekali lagi aku terpesona oleh senyumnya. Mungkin ini lah yang dinamakan cinta pertama. Si pangeran pun pergi meninggalkanku sendiri di teater itu.
                Keesokkan harinya, aku kembali ke teater itu. Tapi ternyata Pangeran sudah benar-benar pergi. Semenjak hari itu, aku gak pernah lagi bertemu dengan Si Pangeran, cinta pertamaku. Dan kini usia ku menginjak 16 tahun. Saat ini sedang libur kenaikan kelas. Namun kesempatan berlibur ini aku manfaatkan untuk mengikuti audisi untuk memasuki sekolah seni yang lumayan terkenal di Jakarta. Sebenarnya tahun kemarin aku ingin mengikuti audisi itu, tapi ayah melarangku saat aku minta izin darinya. Jadi, sekarang aku mengikuti ujian dulu, baru nanti setelah pengumuman lulus aku kasih tau ke ayah. Awalnya kukira aku tidak boleh mengikuti audisi itu dikarenakan aku sudah menjadi siswi SMA, tapi ternyata direktur sekolah itu –yang juga juri audisi- ingin melihat bakatku dulu sebelum memutuskan boleh atau tidaknya aku ikut.
                Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya pengumumannya keluar. Aku mengamati layar laptopku dengan seksama, melihat apakah namaku keluar atau tidak. Setelah sampai di barisan huruf P, aku menggerakkan kursor sedikit lebih pelan. Mengamati nama satu persatu dan mataku berhenti pada satu nama. Namaku keluar!! Seolah tak mempercayai apa yang kulihat, aku memperbesar view nya. 
“ ‘Putri Viansa, tingkat dua, divisi Tari’ kyaaaa!!! AYAHHH!! Nama teteh keluar!! Ayah!!!” seru ku kegirangan. 
Ayahpun langsung keluar dari kamarnya begitu mendengar teriakanku
“aya naon atuh teh? Apa na yang keluar?” tanya Ayah dengan logat sundanya 
“itu yah, nama teteh keluar. Teteh lulus audisi atuh yah” seru ku senang
“audisi? Audisi apa teh?” tanya Ayah 
Aku pun tersadar. Ayah kan belum tau apa-apa pikirku. Karena sudah terlanjur basah, akupun akhirnya menceritakannya kepada ayah.
“aduh, gimana ngomongnya ya?” gumamku 
“kenapa atuh teh?” tanya ayah lagi 
“gini yah, kemaren pas liburan teteh ikut audisi di Jakarta” seru ku memulai cerita 
“audisi? Audisi apa atuh teh? Kapan teteh keJakarta?” tanya Ayah 
“itu yah kemaren pas teteh pergi sama Dinda. Maaf atuh yah sebelumnya teteh gak bilang dulu sama ayah. Teteh ikut audisi untuk masuk sekolah seni di Jakarta. Terus sekarang teteh lulus yah” seruku menunduk, takut melihat muka ayah yang sepertinya mulai marah. 
“sekolah seni? Seni tari?” tanya Ayah meyakinkan. Dan aku pun mengangguk. “Gak. Teteh gak boleh pergi” seru ayah langsung. Aku kontan mengangkat kepalaku menatap ayah 
“loh? Kenapa yah? Teteh kan udah lulus yah, sayang kalo gak diambil. Boleh ya yah? Sekali ini aja, teteh gak pernah minta yang macem-macem sama ayah, Cuma kali ini aja yah” ujarku memohon 
“sekali ayah bilang nggak ya nggak! Ayah kan udah berapa kali bilang ke teteh, ayah gak suka teteh nari. Lagian, di Jakarta teteh mau tinggal sama saha? Kenalan gak ada, keluarga juga gak ada. Terus itu sekolah seni itu biayanya sabaraha? Belum biaya hidup teteh nanti di Jakarta. Hidup di Jakarta mahal atuh teh” seru Ayah menjelaskan 
“teteh kan bisa ngekos di deket sekolah yah. Yah, tari itu segalanya buat teteh. Teteh mohon yah, sekali ini aja. Teteh mah pengen ngejer cita-cita teteh buat bisa ke Juiliard kayak Bunda.” Begitu aku menyebut Bunda, raut muka Ayah langsung berubah. Seketika aku langsung menyesali apa yang barusan kukatakan. Ayah paling tidak suka mengungkit-ungkit tentang Bunda 
Ayah pun menghela napas panjang. “yaudah sok atuh ke Jakarta. Mau gimana pun ayah ngelarang,  toh nanti teteh masih tetep pergi. Tapi buat kali ini aja ayah kabulin apa kemauan teteh. Kapan atuh teteh berangkat?” seru ayah akhirnya 
Senyum pun mengembang di wajahku. Aku pun langsung berlari memeluk Ayah. “makasih ayah!! Makasih banget! Satu minggu lagi keJakarta nya Teteh juga mau ngurusin berkas di sekolah teteh” ujarku seraya melepaskan pelukanku. 
“kalo urusan sekolah mah, biar ayah aja yang urus. Teteh sekarang siapin aja apa yang mau di bawa. Ayah punya temen di Jakarta, nanti ayah minta tolong sama dia buat nyariin teteh kosan deket sekolah” Ujar Ayah 
“makasih ayah” seru ku sambil tersenyum. Akhirnya beban dipundakku pun lepas. 
                Satu hari sebelum aku pergi kejakarta, aku mengunjungi teater tempatku latihan selama ini. Ketika memasuki teater, aku sempat merasa sedih karena harus pergi meninggalkan teater yang penuh kenangan ini. Aku pun duduk di panggung teater. 
“aku pasti bakal kesini lagi. Liburan nanti aku pasti bakal kesini. Jadi, jangan rubuh dulu ya sebelum aku dateng.” Ujarku tersenyum. Aku pun beranjak dari panggung dan berjalan menuju pintu keluar. Aku sempat melihat lagi ke arah panggung sebentar dan akhirnya keluar dari teater itu. Jakarta, I’m coming..

(cont)

2 komentar:

  1. Keren ceritanya apalagi tentang mengejar impian , backgroundnya juga bagus soalnya ada Luhan gege.

    BalasHapus