Jumat, 13 Desember 2013

Dream

BAB II

                Welcome to Jakarta. Akhirnya aku ada di Jakarta. Ayah juga menemani ku ke Jakarta. Tapi ayah udah balik lagi ke Bandung. Di Jakarta aku mengontrak rumah. Tadinya aku ingin kos-kosan aja, tapi Ayah sudah terlanjur membayar kontrakan yang tidak terlalu jauh dengan sekolahku. Akhirnya aku menempati kontrakan itu. Kontrakannya tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Tapi fasilitas yang ditawarkan memang memadai. Di dalam kontrakan ini sudah terdapat kasur, bantal, lemari, TV, kulkas, AC dan kompor gas. Jadi kemarin aku dan Ayah hanya berbelanja sedikit barang. Tapi biaya kontrakannya pun tak murah. Malam ini rasanya aku tak akan bisa tidur karena sudah tak sabar ingin segera hari esok.
                Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali sangking semangatnya. Aku langsung mengambil seragam sekolahku yang baru. Aku pun mulai membuat sarapan dan mengepak apa saja yang harus ku bawa hari ini sesuai dengan apa yang dituliskan di dalam buku panduan sekolahnya.  Hanya satu yang membingungkanku, apakah nanti aku harus mengikuti orientasi seperti murid baru atau langsung masuk kekelas. Setelah melihat jam yang sudah menunjukan pukul 7.30, aku pun langsung bergegas menuju sekolah baru ku. Dari rumah kontrakanku ke sekolah hanya 10 menit berjalan kaki. Begitu aku sampai didepan gerbang sekolahnya, aku melihat tulisan “Q Art School” yang di ukir dengan warna emas. Aku pun tersenyum dan langsung melangkah memasuki areal sekolah.
                Ketika memasuki areal sekolah, seorang guru muda yang cantik memanggil para murid baru untuk di berikan pengarahan. Aku langsung saja bergabung dengan para murid baru yang sudah membentuk barisan. Setelah terkumpul semuanya, guru itu memperkenalkan diri sebagai Miss Nova, koreografer divisi tari. Setelah memberikan penjelasan sebentar, Miss Nova memanggil nama ku. Aku pun keluar dari barisan dan maju kedepan
“Karena kamu satu-satunya murid tingkat 2 disini, kamu tidak perlu ikut orientasi. Setelah ini kamu ikut saya ke ruang divisi tari.” Ujarnya.
Aku pun mengangguk dan kembali ke tempatku semula. Miss Nova lalu menyerahkan para murid baru kepada BIS (Badan Internal Sekolah) –semacam OSIS jika di SMA-  dan membawaku ke ruang divisi tari. Setelah sampai di depan ruang Divisi tari, Miss Nova menyuruhku untuk menunggu sebentar sementara ia memanggil seorang murid. Aku sempat melirik sebentar kedalam ruangan itu. terlihat olehku murid-murid yang sedang melakukan pemanasan. Lalu miss Nova keluar dengan membawa seseorang.
“nah, Putri, perkenalkan ini Mona. Dia ketua tingkat di tingkat 2 divisi tari. Mona, ini Putri Viansa, murid baru di divisi kita. Karena dia sudah berada di tingkat 2, dia tidak perlu mengikuti orientasi sehingga miss minta kamu untuk memperkenalkan sekolah ini sama dia. Beritahu dia semua tempat yang ada disekolah ini. Kamu gak usah khawatir soal pelajaran karena hari ini gak ada pelajaran sampai makan siang, jadi tolong ya” seru Miss Nova tersenyum kepada anak perempuan yang tadi diperkenalkannya sebagai Mona. Mona pun menggangguk sebagai jawaban. Akhirnya miss Nova meninggalkan kami berdua.
“hmm, nama kamu Putri Viansa ya? Kalo gitu aku panggil Putri aja ya” serunya sambil tersenyum. Sepasang lesung pipi terpasang di kedua pipinya yang lumayan chubby. Aku pun mengangguk
“oke, kita mau mulai dari mana nih?” tanyanya
“terserah kamu aja” jawabku.
“hmm, yaudah kita mulai dari sini aja. Ini ruang latihan divisi tari tapi khusus yang tingkat 2. Sambil jalan yuk. Oh iya, kamu pindahan dari sekolah seni mana?” tanyanya sebelum melanjutkan
“ehh, saya teh dulunya di SMA biasa, hehe” seruku malu-malu
“loh? Jadi kamu bukan dari sekolah seni? Kok bisa lulus audisi?” tanyanya heran
“saya juga heran, saya kira gak bakal masuk eh gak taunya nama nya muncul” jawabku seadanya
“ohh, artinya kamu ini sama kayak kak Lia ya, dia juga pindahan dari SMA biasa tapi dia udah di tingkat 3 sekarang. Oh iya, mungkin kamu belum tau, tapi di sini sistemnya agak beda sama SMA biasa. Kalo di SMA kan biasanya grade-nya itu pake kelas 10, 11, ama 12, nah disini pakenya tingkat 1, tingkat 2, tingkat 3, sama tingkat 4. Kalo lamanya belajar sama kok kayak di SMA. Dalam satu tingkat itu ada 2 semester. Bedanya kita jarang bahkan gak ada sama sekali teori, semuanya praktek. Mungkin Cuma divisi music sama tarik suara yang ada teorinya. Kalo untuk divisi tari, teorinya dikasih di sela-sela latihan. Jadi kamu gak perlu bawa buku tulis. Kalo kamu masih di tingkat 1 mungkin kamu masih perlu buku tulis, tapi kalo udah di tingkat 2, gak perlu lagi” seru Mona menjelaskan panjang lebar. Dia pun mengajak aku untuk duduk di bawah pohon akasia yang besar dan rindang. Mona pun melanjutkan penjelasannya
“nah, untuk tingkat 3 sama 4 beda banget sama SMA. Di tingkat 3 kamu bakal ngambil ujian, terus kalo kamu lulus ujian itu kamu bisa milih mau lanjut ke universitas seni atau mau lanjut ke tingkat 4. Orang tingkat 4 biasanya yang pada mau kerja di orchestra atau pun di grup tari yang bakal keliling dunia. Jadi mereka dikasih satu tahun ekstra buat pelatihan. Baik mental maupun fisik” serunya panjang lebar. Mona pun  mulai mengenalkan ruangan yang terlihat dari tempat kami duduk itu kepadaku.
Kami pun beranjak dari tempat kami duduk dan beralih ke gedung tempat divisi music dan tarik suara. Kami melewati koridor di setiap ruangan dan Mona menjelaskan kepadaku ruangan-ruangan itu. Namun kaki ku berhenti pada satu ruangan, aku melihat dari jendela luar seorang anak laki-laki sedang memainkan biola di tengah ruangan di kelilingi oleh beberapa orang. Aku mengamati dengan seksama cara anak laki-laki itu memainkan biola, ekspresinya, melodinya. Entah mengapa aku sangat merindukan suara dari biola itu. Mona yang menyadari aku berhenti segera menghampiriku
“ngapain kamu disini?” tanya nya yang sempat mengejutkanku
“hah? Ahh nggak, aku Cuma..” seruku salah tingkah
“oh dia, namanya Dion. Keren ya kalo lagi main biola, tapi jangan harap deh dia bakal ngomong sama kamu” seru Mona sambil kembali berjalan
Aku melihat lagi sebentar ke dalam ruangan lalu menyusul Mona. “kanapa?” tanya ku
“dia itu orangnya pendiemmm banget. Dia Cuma ngomong kalo lagi ada perlu sama orang aja. Kamu mau ngomong sampe mulut kamu capek juga gak bakal di jawab in. Jadi mending gak usah di ajak ngomong deh” serunya panjang lebar
“ohh” respon ku seadanya. Entah mengapa sosok Dion yang sedang memainkan biola terus muncul di dalam benakku. Selain itu, suara dari biolanya juga seakan pernah kudengar. Aku pun menepiskan pikiran itu dan kembali focus mendengar penjelasan Mona. Dan tur kami berhenti pada satu ruangan di gedung yang lumayan jauh dari gedung utama sekolah dan berada tak jauh dari Gerbang depan.
“ini ruang latihan bersama untuk seluruh divisi, bisa dibilang teater kecil. Tapi sekarang udah gak di gunain lagi karena kita udah pindah ke gedung yang baru di sana” seru Mona sambil menunjuk ke arah Gedung baru yang berada di sebelah gedung divisi tari dan drama. Aku pun mengangguk-angguk
“kayaknya udah semua deh. Sekarang mending kamu ganti baju sama baju latihan udah itu langsung ke ruang latihan. Tau kan ruang gantinya di mana?” seru Mona
“tau kok” jawabku sambil tersenyum. Aku dan Mona pun berpisah di depan ruang ganti. Mona langsung menuju ruang latihan sedangkan aku berganti pakaian dulu sebelum ikut pelajaran.


JJJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar