BAB II
Welcome
to Jakarta. Akhirnya aku ada di Jakarta. Ayah juga menemani ku ke Jakarta. Tapi
ayah udah balik lagi ke Bandung. Di Jakarta aku mengontrak rumah. Tadinya aku
ingin kos-kosan aja, tapi Ayah sudah terlanjur membayar kontrakan yang tidak
terlalu jauh dengan sekolahku. Akhirnya aku menempati kontrakan itu.
Kontrakannya tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi,
dapur dan ruang tamu. Tapi fasilitas yang ditawarkan memang memadai. Di dalam
kontrakan ini sudah terdapat kasur, bantal, lemari, TV, kulkas, AC dan kompor
gas. Jadi kemarin aku dan Ayah hanya berbelanja sedikit barang. Tapi biaya
kontrakannya pun tak murah. Malam ini rasanya aku tak akan bisa tidur karena
sudah tak sabar ingin segera hari esok.
Keesokan
harinya aku bangun pagi-pagi sekali sangking semangatnya. Aku langsung
mengambil seragam sekolahku yang baru. Aku pun mulai membuat sarapan dan
mengepak apa saja yang harus ku bawa hari ini sesuai dengan apa yang dituliskan
di dalam buku panduan sekolahnya. Hanya
satu yang membingungkanku, apakah nanti aku harus mengikuti orientasi seperti
murid baru atau langsung masuk kekelas. Setelah melihat jam yang sudah
menunjukan pukul 7.30, aku pun langsung bergegas menuju sekolah baru ku. Dari
rumah kontrakanku ke sekolah hanya 10 menit berjalan kaki. Begitu aku sampai
didepan gerbang sekolahnya, aku melihat tulisan “Q Art School” yang di ukir
dengan warna emas. Aku pun tersenyum dan langsung melangkah memasuki areal
sekolah.
Ketika
memasuki areal sekolah, seorang guru muda yang cantik memanggil para murid baru
untuk di berikan pengarahan. Aku langsung saja bergabung dengan para murid baru
yang sudah membentuk barisan. Setelah terkumpul semuanya, guru itu
memperkenalkan diri sebagai Miss Nova, koreografer divisi tari. Setelah
memberikan penjelasan sebentar, Miss Nova memanggil nama ku. Aku pun keluar
dari barisan dan maju kedepan
“Karena kamu satu-satunya murid
tingkat 2 disini, kamu tidak perlu ikut orientasi. Setelah ini kamu ikut saya
ke ruang divisi tari.” Ujarnya.
Aku pun mengangguk dan kembali ke
tempatku semula. Miss Nova lalu menyerahkan para murid baru kepada BIS (Badan
Internal Sekolah) –semacam OSIS jika di SMA-
dan membawaku ke ruang divisi tari. Setelah sampai di depan ruang Divisi
tari, Miss Nova menyuruhku untuk menunggu sebentar sementara ia memanggil
seorang murid. Aku sempat melirik sebentar kedalam ruangan itu. terlihat olehku
murid-murid yang sedang melakukan pemanasan. Lalu miss Nova keluar dengan membawa
seseorang.
“nah, Putri, perkenalkan ini
Mona. Dia ketua tingkat di tingkat 2 divisi tari. Mona, ini Putri Viansa, murid
baru di divisi kita. Karena dia sudah berada di tingkat 2, dia tidak perlu
mengikuti orientasi sehingga miss minta kamu untuk memperkenalkan sekolah ini
sama dia. Beritahu dia semua tempat yang ada disekolah ini. Kamu gak usah
khawatir soal pelajaran karena hari ini gak ada pelajaran sampai makan siang,
jadi tolong ya” seru Miss Nova tersenyum kepada anak perempuan yang tadi
diperkenalkannya sebagai Mona. Mona pun menggangguk sebagai jawaban. Akhirnya
miss Nova meninggalkan kami berdua.
“hmm, nama kamu Putri Viansa ya?
Kalo gitu aku panggil Putri aja ya” serunya sambil tersenyum. Sepasang lesung
pipi terpasang di kedua pipinya yang lumayan chubby. Aku pun mengangguk
“oke, kita mau mulai dari mana
nih?” tanyanya
“terserah kamu aja” jawabku.
“hmm, yaudah kita mulai dari sini
aja. Ini ruang latihan divisi tari tapi khusus yang tingkat 2. Sambil jalan
yuk. Oh iya, kamu pindahan dari sekolah seni mana?” tanyanya sebelum
melanjutkan
“ehh, saya teh dulunya di SMA biasa, hehe” seruku malu-malu
“loh? Jadi kamu bukan dari
sekolah seni? Kok bisa lulus audisi?” tanyanya heran
“saya juga heran, saya kira gak
bakal masuk eh gak taunya nama nya muncul” jawabku seadanya
“ohh, artinya kamu ini sama kayak
kak Lia ya, dia juga pindahan dari SMA biasa tapi dia udah di tingkat 3
sekarang. Oh iya, mungkin kamu belum tau, tapi di sini sistemnya agak beda sama
SMA biasa. Kalo di SMA kan biasanya grade-nya itu pake kelas 10, 11, ama 12,
nah disini pakenya tingkat 1, tingkat 2, tingkat 3, sama tingkat 4. Kalo
lamanya belajar sama kok kayak di SMA. Dalam satu tingkat itu ada 2 semester.
Bedanya kita jarang bahkan gak ada sama sekali teori, semuanya praktek. Mungkin
Cuma divisi music sama tarik suara yang ada teorinya. Kalo untuk divisi tari,
teorinya dikasih di sela-sela latihan. Jadi kamu gak perlu bawa buku tulis.
Kalo kamu masih di tingkat 1 mungkin kamu masih perlu buku tulis, tapi kalo
udah di tingkat 2, gak perlu lagi” seru Mona menjelaskan panjang lebar. Dia pun
mengajak aku untuk duduk di bawah pohon akasia yang besar dan rindang. Mona pun
melanjutkan penjelasannya
“nah, untuk tingkat 3 sama 4 beda
banget sama SMA. Di tingkat 3 kamu bakal ngambil ujian, terus kalo kamu lulus
ujian itu kamu bisa milih mau lanjut ke universitas seni atau mau lanjut ke
tingkat 4. Orang tingkat 4 biasanya yang pada mau kerja di orchestra atau pun
di grup tari yang bakal keliling dunia. Jadi mereka dikasih satu tahun ekstra buat
pelatihan. Baik mental maupun fisik” serunya panjang lebar. Mona pun mulai mengenalkan ruangan yang terlihat dari
tempat kami duduk itu kepadaku.
Kami pun
beranjak dari tempat kami duduk dan beralih ke gedung tempat divisi music dan
tarik suara. Kami melewati koridor di setiap ruangan dan Mona menjelaskan
kepadaku ruangan-ruangan itu. Namun kaki ku berhenti pada satu ruangan, aku
melihat dari jendela luar seorang anak laki-laki sedang memainkan biola di
tengah ruangan di kelilingi oleh beberapa orang. Aku mengamati dengan seksama
cara anak laki-laki itu memainkan biola, ekspresinya, melodinya. Entah mengapa
aku sangat merindukan suara dari biola itu. Mona yang menyadari aku berhenti
segera menghampiriku
“ngapain kamu disini?” tanya nya
yang sempat mengejutkanku
“hah? Ahh nggak, aku Cuma..”
seruku salah tingkah
“oh dia, namanya Dion. Keren ya
kalo lagi main biola, tapi jangan harap deh dia bakal ngomong sama kamu” seru Mona
sambil kembali berjalan
Aku melihat lagi sebentar ke
dalam ruangan lalu menyusul Mona. “kanapa?” tanya ku
“dia itu orangnya pendiemmm
banget. Dia Cuma ngomong kalo lagi ada perlu sama orang aja. Kamu mau ngomong
sampe mulut kamu capek juga gak bakal di jawab in. Jadi mending gak usah di
ajak ngomong deh” serunya panjang lebar
“ohh” respon ku seadanya. Entah
mengapa sosok Dion yang sedang memainkan biola terus muncul di dalam benakku.
Selain itu, suara dari biolanya juga seakan pernah kudengar. Aku pun menepiskan
pikiran itu dan kembali focus mendengar penjelasan Mona. Dan tur kami berhenti
pada satu ruangan di gedung yang lumayan jauh dari gedung utama sekolah dan
berada tak jauh dari Gerbang depan.
“ini ruang latihan bersama untuk
seluruh divisi, bisa dibilang teater kecil. Tapi sekarang udah gak di gunain
lagi karena kita udah pindah ke gedung yang baru di sana” seru Mona sambil
menunjuk ke arah Gedung baru yang berada di sebelah gedung divisi tari dan
drama. Aku pun mengangguk-angguk
“kayaknya udah semua deh.
Sekarang mending kamu ganti baju sama baju latihan udah itu langsung ke ruang
latihan. Tau kan ruang gantinya di mana?” seru Mona
“tau kok” jawabku sambil
tersenyum. Aku dan Mona pun berpisah di depan ruang ganti. Mona langsung menuju
ruang latihan sedangkan aku berganti pakaian dulu sebelum ikut pelajaran.
JJJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar