BAB III
Tak terasa
sudah 2 bulan aku di Jakarta, aku juga sudah mulai terbiasa dengan kehidupan
sekolahku yang baru. Setiap 2 minggu sekali aku menelpon ayah. Pada awal-awal
sekolahku, aku sedikit kesulitan mengikuti segala gerakan dan dasar-dasar tari
yang di ajarkan oleh Miss Nova, oleh karena itu setiap malam aku kesekolah dan
berlatih di teater kecil yang berada si dekat gerbang depan. Aku sedikit takut
untuk masuk lebih jauh ke dalam sekolah jika malam hari. Dan seperti biasa
malam ini aku kembali ke teater kecil untuk berlatih gerakan kombinasi balet
yang tadi siang di ajarkan oleh Miss Nova. Aku pun membuka pintu teater secara
perlahan, tapi ternyata lampu di dalam teater itu sudah menyala. Ini membuat ku
heran karena biasanya akulah yang menyalakan lampu di dalam teater ini. Siapa
orang yang telah menyalakannya? Dan pertanyaanku terjawab ketika aku mendengar
suara biola. Aku pun langsung masuk dan terlihat seseorang di panggung sedang
memainkan biola. Aku turun sedikit untuk melihat dengan jelas siapa yang mamainkan
biola itu. Setelah kupasati dengan seksama ternyata orang itu Dion. Ngapain dia
disini? pikirku.
Aku pun
berbalik hendak pergi namun langkahku terhenti saat mendengar melodi yang
sedang dimainkan oleh Dion. Melodi ini….segera saja ingatan ku melayang ke saat
aku bertemu dengan Pangeran. Aku pun berbalik lagi ke arah panggung. Aku
berjalan menuruni tangga. Semakin lama semakin cepat. Dan akhirnya aku berhenti
tepat di depan panggung. Jantungku semakin lama berdetak semakin kencang.
Pangeran yang selama ini kucari, ada di hadapan ku sekarang. Dan detak
jantungku semakin kecang saat memikirkan bahwa orang yang berada didepanku
adalah Si Pangeran.
Dion yang
merasakan keberadaanku langsung berhenti memainkan biolanya. Dia lalu melihatku
dan kemudian berbalik mengambil kotak biolanya. Ia lalu menyimpan biolanya dan
meloncat turun dari panggung dan beranjak pergi melewatiku tanpa mengucapkan
sepatah kata pun. Aku tak mungkin membiarkannya pergi seperti itu.
“tunggu!” cegah ku.
Dion pun berbalik dan menatapku.
Aku pun balas menatapnya. Pandangan matanya, tak salah lagi dia memang Si
Pangeran! Cara nya menatapku sama seperti saat itu.
“apa.. mungkin.. kamu ingat aku?”
tanyaku ragu-ragu. Kulihat Dion sempat mengerutkan keningnya lalu menggeleng.
Dia pun berbalik lagi hendak pergi
“Melodi itu! Dari mana kamu tau
melodi itu?” tanya ku berusaha menahannya
Dion menghentikan langkahnya dan
berbalik. Kali ini dia mengerutkan kening seolah-olah bertanya dari mana aku
tau tentang melodi itu.
“lo tau melodi ini?” akhirnya
Dion buka suara juga. Aku pun hanya mengangguk
“gak mungkin. Itu melodi bikinan
gue sendiri dan belum pernah ada orang yang denger tentang melodi ini” serunya
tak percaya.
“aku pernah mendengarnya. Dulu
kamu pernah kebandung kan? Aku mendengarnya di sana” ujarku
“bohong! Lo pasti salah satu
stalker gue kan?” tanyanya tak percaya
“aku dulu emang pernah dengernya”
seru ku keras kepala
“oh ya, kapan?” ujar Dion yang
sepertinya mulai kesal karena ada orang yang mendengarkan melodi pribadinya
“waktu ibu kandung kamu
meninggal. Kamu Si Pangeran kan?” seru ku yakin
Seketika raut wajah Dion berubah
pucat. Ia sepertinya terkejut. Dion lalu berbalik dan pergi meninggalkanku
tanpa berbicara sepatah katapun lagi.
“tunggu… Dion…Dion..” walau pun
kupanggil, dia tak menoleh dan terus berjalan keluar. Aku bingung sendiri
melihat sikap Dion. Sepertinya dia tidak suka melihatku, pikirku. Aku
mengurungkan niatku untuk berlatih dan pulang ke rumah.
Keesokan
harinya aku berangkat seperti biasa kesekolah. Sesampainya di sekolah, sebuah
mobil mewah hampir saja menabrak ku. Aku terjatuh dan sangat terkejut.
Orang-orang yang beada di sekitarku juga terkejut. Beberapa dari mereka
membantuku berdiri dan menanyakan keadaanku. Aku menjawab mereka dengan “tidak
apa-apa” dan langsung menatap tajam mobil yang tadi hampir saja menabrakku.
Akhirnya sang pemilik mobil pun keluar. Seorang murid laki-laki yang mungkin
saja seumuran denganku. Badannya tinggi tegap, dadanya bidang, rambutnya
sedikit pirang. Aku tak mengenali wajahnya karena ia memakai kacamata hitam.
Setelah ia berdiri di depanku, ia baru melepaskan kacamatanya. Alis yang tebal,
mata yang tidak terlalu sipit, hidung mancung. Sangat sempurna. Kalau sekarang
aku sedang tidak dalam keadaan kesal, aku mungkin akan jatuh cinta padanya.
Ia
memandangiku sebentar. Ia memandangiku dari atas sampai bawah. Mungkin dia
ingin memastikan apakah ada luka atau tidak, pikirku. Tapi ternyata
“PUNYA MATA GAK SIH??” bentaknya
tiba-tiba. “lo gak liat apa ada mobil yang mau lewat?? Punya mata tuh digunain,
bukan buat di pajang doang!!!” serunya marah-marah
Aku langsung saja terkejut dan
tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku lalu meghela napas dan
menjawabinya. “eh, yang gak punya mata itu kamu kali. Kamu teh tidak lihat saya lagi jalan? Mobil kamu gak ada klakson ya?
Lagian disini itu emang jalan khusus buat orang, mobil lewatnya di belakang.
Apa kamu anak baru jadi gak tau jalan?” tanyaku tak kalah marah
Murid laki-laki itu pun berkacak
pinggang tanda tak percaya dengan apa yang didengarnya. “lo gak tau siapa gue?”
tanya cowok itu
“kamu? Buat apa saya tau siapa
kamu, seharusnya yang saya denger sekarang itu permintaan maaf, bukan ocehan
dari kamu. Ayo, buruan minta maaf” seru ku
“ckckck, lo gue lepasin kali ini
kerena kayaknya lo belum tau siapa gue. tapi awas lo kalo ketemu gue lagi”
ujarnya sambil berjalan ke mobilnya meninggalkanku. Aku tercengang disana, tak
percaya. Mobil itu pun meluncur meninggalkanku menuju parkiran sekolah. Aku
sempat melihat satu orang lagi yang duduk di bangku sebelah bangku supir, orang
itu..Dion. Aku pun kembali berjalan menuju ke ruang loker dan ruang ganti.
Setelah bergantai pakaian, aku pun langsung
bergegas menuju ke ruang latihan karena pelajaran akan dilangsungkan 5 menit
lagi. Dalam perjalananku ke ruang latihan, aku melihat banyak anak-anak yang
berkumpul di depan papan informasi. Aku pun segera kesana dan melihat apa yang
membuat anak-anak berkumpul. ternyata mereka sedang mengerumuni pengumuman dari
Juilliard School of Performing Art yang membuka Open Audition khusus untuk
divisi tari baik itu kontemporer ataupun modern. Tanggal audisinya masih 1
minggu lagi. Aku pun tersenyum. Akhirnya aku bisa mewujudkan cita-citaku
segera.
Pelajaran
kali ini di berikan oleh Mas Galih yang merupakan koreograver tari untuk modern
dance. Karena dulu aku hanya terfokus kepada tarian kontemporer, agak susah
mengikuti gerakan modern dance yang di ajarkan Mas Galih. Untungnya badanku
bisa menyesuaikan dengan gerakannya. Setelah menari selama 15 menit, kami pun
dipersilahkan untuk istirahat. Tiba-tiba Miss Nova masuk keruang latihan sambil
membawa beberapa berkas. Ia lalu berbicara dengan mas Galih sebentar setelah
itu berjalan ke tengah ruangan.
“seperti yang udah kalian tau,
Juiliard lagi open Audition. Jadi yang mau ikut, tunjuk tangan sekarang” ujar
Miss Nova. Aku langsung saja menunjuk. “gak ada yang mau ikut lagi selain
mereka?” tanya Miss Nova. Aku pun menoleh ke seluruh ruangan dan ternyata hanya
aku dan Mona yang menunjuk. Aku sedikit heran. “yaudah, kalian berdua ambil ini
terus isi semua pertanyaan di dalam nya abis makan siang nanti, serahin lagi
sama saya” seru Miss Nova sambil menyerahkan 2 formulir. “oh iya, in English
ya” lanjutnya
Aku tercengang. Dalam bahasa
inggris? Aku pun melihat formulir yang berada di tanganku. Dan benar saja semua
tulisan yang ada di sana di tulis dalam bahasa Inggris. Aku langsung berfikir
bagaimana cara mengisinya sedangkan aku sendiri tak tau apa saja pertanyaannya.
Pantas saja anak-anak lain gak ada yang nunjuk, ini alasannya. Aku melirik
sebentar ke arah Mona. Ia tersenyum melihat kertas didepannya. Sepertinya ia mengerti pertanyaan-pertanyaan
itu. Aku pun menyingkirkan formulir itu sebentar karena Mas Galih meminta kami
untuk latihan lagi.
Akhirnya tepat
pukul 10 kelas Mas Galih selesai. Aku pun keluar dari kelas sambil kembali
memandangi formulir di tanganku. Tiba-tiba seseorang menarik lenganku. Aku tak
sempat memprotes karena orang itu langsung membawaku pergi. Aku mencoba melihat
siapa yang menarikku. Ternyata orang itu Dion. Cengkramannya sangat kuat.
Sepertinya dia sedang marah pikirku. Orang-orang melihat ke arah kami saat kami
lewat. Seolah kami adalah tontonan. Sambil terus berjalan, aku mencoba untuk
berbicara dengan nya.
“anu, itu….kita mau kemana sih?”
tanya ku. Dion hanya menoleh sebentar dan meneruskan jalannya sambil terus
mencengkram lengan ku.
Akhirnya kami berhenti di depan
teater kecil tempat aku dan dia bertemu semalam. Dion melepaskan cengkramannya
dan memperhatikan sekelilingnya dulu sebelum masuk. Kemudian dia menyuruhku masuk
“masuk!” ujarnya dengan nada yang
ketus. Aku pun menuruti perintahnya dan masuk kedalam teater itu. Dion lalu
mengikutiku masuk dan berjalan mendahuluiku ke arah panggung. Ia lalu naik ke
atas panggung dan duduk di tepinya. Aku hanya menikutinya dan berhenti tepat
didepannya.
“sebenernya lo itu siapa sih?”
tanyanya tanpa basa basi
“aku? Putri” seruku polos
“heeh” ia mendengus. “kalo lo
Putri, gue..”
“pangeran, iya?” potongku
langsung.
Ekspresi Dion langsung berubah.
“lo peramal ya? kok bisa tau apa yang mau gue omongin?” tanya nya heran
Aku pun tersenyum. “karena kamu
pernah ngomong kayak gitu ke aku”. Ekspresi Dion semakin menunjukkan keheranan.
Aku pun beranjak ke atas panggung dan duduk di sampingnya. “iya, kamu pernah
ngomong itu ke aku 7 tahun lalu, di Teater di deket rumahku di Bandung” ujarku
akhirnya
Dion lalu memandangiku lalu ia
mulai mengingat-ingat kejadian 7 tahun lagi yang mungkin sudah dilupakannya.
Tiba-tiba Dion menoleh ke arahku
“lo…!!!” serunya tak percaya. “jadi
lo Putri? anak kecil itu?” tanya nya meyakinkan
Aku pun mengangguk mantap. “wah,
udah gede aja lo. Makan apa bisa segede ini? Perasaan dulu agak gendut deh”
serunya sambil tersenyum mengacak-acak rambutku
“apaan sih..” seruku
menyingkirkan tangannya. “masa yang kamu ingat Cuma gendutku aja?” seru ku
cemberut
“hahaha, abisnya lo berubah
banget. Yang gue inget waktu gue ketemu lo waktu itu, lo itu cewek terchubby
yang pernah gue liat. Tapi sekarang kok bisa jadi sekurus ini?” seru Dion
sambil tersenyum
“namanya juga udah 7 tahun.
Lagian kitakan Cuma satu kali ketemu. Dan pas kita ketemu itu aku emang lagi
gendut-gendutnya. Tapi karena aku ini penari, jadi aku diet bisar jadi kurus”
ujarku
“hahaha, kayaknya kerja keras lo
berhasil ya. eh tunggu, lo di divisi tari kan? Tapi kok lo bisa masuk sini?
Nah, jangan-jangan lo ngikutin gue kesini ya?” tanyanya jahil
“enak aja! Aku masuk sini emang
udah kemauan aku dari dulu. Ngapaiin aku ngikutin kamu. Waktu itu kan aku belum
tau nama kamu siapa. Jadi mana mungkin aku bisa ngikutin kamu kesini. Lagian
kalo bukan karena melodi biola kamu, aku gak bakal tau kalo kamu itu si pangeran”
ujarku panjang lebar.
Dion pun hanya tertawa kecil. Aku
pun ikut tertawa. Aku sangat senang akhirnya aku bisa bertemu dengan cinta
pertamaku. Aku lalu tak sengaja melihat ke arah pintu masuk teater. Aku pun
berhenti tertawa dan semakin memperhatikan pintu itu. Dan jika aku tidak salah
lihat, mungkin ada beberapa orang yang sedang mengintip di balik pintu itu.
Dion yang menyadari keanehanku akhirnya menoleh kearahku. Dion lalu mengikuti
arah pandanganku. Setelah melihat sebentar, akhirnya Dion mengerti apa yang
sedang terjadi di luar sana. Ia pun tersenyum.
“udah gak usah diliatin. Biarin
aja” seru nya yang membuatku menyudahi pencarianku. Aku pun memandanginya.
Seolah mengerti dengan arti pandanganku, Dion pun memberitahuku
“itu paling juga fans-fans gue
yang penasaran kenapa gue bawa lo kesini. Mungkin juga mereka penasaran kok gue
mau ngomong sama lo. Yah, resiko jadi orang terkenal” serunya membanggakan diri
“hah?” aku pun mendengus. “emang
kenapa sih kamu gak mau ngomong sama orang lain? Kata Mona juga kamu tu gak mau
ngomong kecuali ada perlu, bener gak sih?” tanya ku langsung.
“haahh” Dion pun menghela napas.
“gue gak suka mereka semua. Cara mereka ngomong sama gue, cara mereka mandang
gue, cara mereka tersenyum sama gue, semuanya palsu. Didepan gue mereka pada
ngomong yang manis-manis, eh gak taunya di belakang gue mereka pada ngatain
gue.” serunya
“masa sih? Kayaknya gak mungkin
deh” ujarku tak percaya
“yaudah kalo gak percaya” Dion
lalu turun dari panggung dan beranjak pergi ke luar
“eh, mau kemana?” tanya ku
Dion lalu berbalik “kekelas dong,
gue ada kelas abis ini” ujarnya
“ahh….gak jadi deh” aku
sebenarnya ingin meminta dion membantuku menjawab pertanyaan yang ada di lembar
pendaftaran
“kanapa?” tanyanya sambil
menyilangkan kedua lengannya didepan dada
“gak pa-pa. kamu teh balik aja ke kelas” ujarku
“ada apa sih? Gue jadi penasaran
nih” serunya kembali mendekatiku
“hmm, gini…” aku pun bingung
bagaimana harus meminta tolong kepada Dion. Tiba-tiba Dion melihat kertas yang
dari tadi kupegang dan mengambilnya.
“ini apa?” tanyanya
“itu, formulir pendaftaran buat
ke Juiliard” jawab ku. “hmm, bisa minta tolong gak?” tanyaku
“minta tolong apa?” ujarnya
“kamu bisa bahasa inggris kan?”
tanyaku lagi sebelum melanjutkan
“ehhmm” serunya mengangguk
“bisa tolongin aku ngisi itu
gak?” pintaku sambil menunjuk formulir yang sedang di pegangnya.
“ini?” Dion lalu melihat
baik-baik isi formulir itu. Ia lalu tertawa. “lo gak bisa bahasa inggris?”
tanyanya
Aku hanya mengangguk. Dion lalu
kembali duduk disebelahku. “loh? Kamu bukannya ada kelas?” tanyaku ketika Dion
sudah duduk disebelahku
“iya, emang kenapa?” dia malah
bertanya balik
“terus ngapain kamu teh duduk disini?” tanyaku lagi
“kan tadi lo menta tolong, jadi
gue disini mau bantuin lo ngisi ini” serunya sambil menunjukkan formulir yang
masih di peganggnya. “lagian kelas abis ini ngebosenin, dari pada gue tidur di
kelas, mendingan gue bantuin lo ngisi ini” ujarnya sambil tersenyum.
Aku pun tersenyum senang.
“makasih ya pangeran, makasih banget” seru ku senang.
Dion pun mulai membantuku
mengartikan pertanyaan-pertanyaan dari formulir itu. Dion juga membantuku
menjawab setiap pertanyaan yang ada di dalam formulir itu. Sekitar jam makan
siang, aku dan Dion baru keluar dari teater. Aku langsung menuju ke ruang guru
untuk menemui Miss Nova untuk menyerahkan formulir pendaftaran. Setelah itu,
aku langsung menuju kantin untuk mengisi perutku. Sepanjang perjalanan
kekantin, aku merasa semua orang sepertinya sedang memperhatikanku. Aku sedikit
risih, namun aku menepiskan pikiran itu dan tetap berjalan ke kantin.
Aku pun memesan makanan dan mulai
mencari bangku kosong. Aku pun melihat sekelilingku dan perasaan aneh itu
muncul lagi. Kali ini kau tidak mungkin salah. Orang-orang memang sepertinya
sedang memperhatikan dan membicarakan ku. Tiba-tiba aku melihat ada satu meja
kosong di sudut ruangan kantin, aku pun langsung menuju ke meja itu dan duduk
di bangkunya. Aku merasa sepertinya orang-orang semakin memperhatikanku. Aku
mempercepat makanku. Tiba-tiba ada seseorang yang menendang mejaku, aku
tersentak dan langsung menoleh ke arah orang yang menendangnya. Dan ternyata
orang itu adalah orang yang tadi pagi hampir menabrakku. Dan dia tidak sendiri,
ada dua orang pengikutnya di belakangnya.
“minggir, ini tempat gue” ujarnya
sambil kembali menendang meja.
Aku melihat sekelilingku dan
kulihat ada beberapa meja kosong di tengah ruangan. “itu, di sana ada yang
kosong” ujarku, aku pun kembali meneruskan makanku. Tiba-tiba dia mengambil
makan siangku dan membuangnya. Kejadian itu sempat membuatku dan hampir seluruh
orang di kantin terkejut.
“gue bilang, INI TEMPAT GUE!”
bentaknya
Aku tak percaya dia akan membuang
makan siangku. Aku pun mencoba menahan emosiku dan menghadapinya. “kayaknya gak
ada nama kamu deh di meja ini, jadi ini bukan meja milik kamu. Lagian disana
banyak tempat kosong. Terus, kamu pikir kamu hebat gitu bisa buang makan siang
orang seenaknya? Emang kamu siapa sih? Anak presiden yang bisa sesuka hati kamu
sama orang lain? Bukan kan?” seru ku
“lo.. lo yang tadi pagi kan?”
serunya saat –sepertinya- sudah mengenaliku. Ia pun berkacak pinggang.
“bukannya udah gue peringatin sama lo tadi pagi, jangan sampe lo ketemu gue
lagi”
“eh, kamu kira saya teh suka apa ketemu kamu? Lagian saya
juga siswa disini, jadi gak mungkin kita gak bakal ketemu” ujar ku mulai kesal.
Aku merasakan orang-orang sekelilingku semakin memperhatikanku. Aku melihat
sepertinya orang didepanku ini sudah mulai emosi. Baru saja ia ingin
mengeluarkan kata-katanya lagi, seseorang memanggilnya.
“Juan!” panggil orang itu yang
ternyata adalah Dion. Ia pun menaruh makan siangnya di meja yang berada
didekatnya dan menghampiri kami. “ada apaan nih?” tanya Dion
“ngapain lo disini?” tanya si
cowok itu -yang akhirnya ku tau namanya Juan-
Dion melihat kea rah ku sebentar
dan tersenyum. “udahlah, dia Cuma anak baru, lagian banyak orang lagi makan.
Jangan ngerusak mood mereka. Lain kali aja kita lakuin ini oke?” seru Dion.
Aku tak mengerti apa yang sedang
mereka bicarakan. Tapi tiba-tiba sekelilingku kembali ke aktifitas mereka lagi.
Dan Juan juga sepertinya mengangguk mengerti.
“lo beruntung hari ini, anak baru!”
ujarnya sebelum meninggalkan kantin.
Aku hanya menatap punggungnya
yang semakin menjauh. Aku pun mulai membersihkan apa yang di tumpahkan oleh
Juan tadi.
“gak usah di bersihin. Ntar ada
petugas kantinnya yang bakal ngeberesin. Lo, pulang sekolah temui gue di
terater kecil” ujar Dion tanpa melihatku. Mukanya sangat serius. Ia pun berlalu
meninggalkanku. Tingkahnya semakin membuatku heran.
Akhirnya aku pun meninggalkan
kantin dan kembali ke kelas. Aku masih
tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Dion dan Juan tadi. Kelas siang ini
kelasnya Miss Nova, Balet. Tapi berhubung miss Nova sedang ada urusan,
pelajaran kosong. Karena bosan dikelas, aku pun keluar kelas dan berkeliling
sekolah. Ketika berada di depan gedung
divisi music dan tarik suara, aku melihat ke atas sejenak. Lalu aku pun
melangkahkan kaki memasuki gedung tersebut dan menuju lift. Aku memencet nomor
lantai paling atas yaitu lantai delapan. Tujuanku kali ini, atap gedung. Aku
ingin menenangkan pikiranku.
Kurang lebih 5 menit kemudian,
aku sampai di atap gedung. Aku langsung berjalan ke tepi atap dan melihat
kebawah. Angin di sini sangat menyejukkan pikirku. Aku pun mengambil ponsel ku
dan berfoto disana dan nantinya akan ku upload ke akun Twitter ku. Tiba-tiba
aku mendengar pintu atap terbuka, dan suara-suara orang. Langsung saja aku
mencari tempat sembunyi. Setelah bersembunyi aku baru sadar, untuk apa aku
bersembunyi? Aku kan tidak melakukan apa
yang di larang. Aku baru saja ingin keluar dari persembunyian ku, tapi
tiba-tiba aku melihat orang-orang itu sedang memukuli seseorang. Dan setelah
kuperhatikan dengan baik-baik, orang yang sedang memukul adalah Juan dan
teman-temannya. Setelah mereka selesai memukuli anak laki-laki itu, kedua teman
Juan mengangkatnya menghadap Juan.
“doni” kudengar Juan memanggil
nama anak yang sedang di pukuli itu. “gue harus bilang berapa kali sih, lo itu
gak punya bakat buat sekolah disini, jadi ngapain lo tadi pamer ke semua orang?
Lo kira permainan piano lo bagus apa? Hah? Mau nyaingin gue? HAH?” ujar Juan
sambil mendorong kepala Doni
“heh, seenggaknya gue gak pernah
gunain koneksi bonyok buat masuk ke sini” ujar doni melawan
“apa lo bilang? Sialan lo!” ujar
Juan. Langsung saja Juan meninju perut Doni dan Doni langsung terjatuh ke
lantai. Lalu kedua anak buah Juan mulai menendangi tubuh Doni lagi. Semakin
lama melihatnya, aku semakin tak tahan. Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, aku
langsung berlari ke arah mereka.
“BERENTI!” ujar ku berteriak pada
mereka. Kedua anak buah Juan langsung berhenti menendangi Doni dan melihat ke arah
ku. Juan juga langsung menoleh ke arah ku. Aku langsung berlari menghampiri
Doni. Dan memeriksa lukanya. Wajahnya sudah penuh oleh darah. “kamu gak pa-pa
kan?” tanya ku
Doni kelihatannya sedikit
terkejut dengan kehadiranku. “gue…gak..pa-pa..” ujarnya terbata-bata
Aku langsung berdiri dan berjalan ke arah
Juan. “eh, kamu ini manusia apa bukan sih? Kamu gak liat apa dia udah sekarat
gitu masih aja kamu pukulin. Emang kamu teh
siapa? Gangster? Hah? Kamu mau sok hebat mukulin orang yang lebih lemah dari
kamu? IYA?” ujarku marah
“ngapain lo disini? Ini bukan
urusan lo! Jadi lo minggir” ujarnya menatap ku tajam
“kamu pikir, aku bakal diem aja
ngeliat yang kayak gini? Kamu punya otak apa gak sih? Ada orang sekarat didepan
kamu, masa kamu biarin aja” seru ku
“oh, jadi lo mau jadi pahlawan
kesiangan? Udah telat” ujarnya lagi
“hah? Lebih baik telat dari pada
gak sama sekali. Emang dia salah apa sama kamu? Cuma gara-gara di lebih jago
main music ketimbang kamu, kamu mukulin dia, iya? Anak kecil banget” sindir ku
“apa lo bilang? Eh, kalo lo gak
tau apa-apa gak usah ikut campur deh! Mending sekarang lo pergi sebelum gue
ngejadiin lo target berikutnya” ancam nya
“ayo, jadiin aja. Siapa takut.
Anak kecil kayak kamu bisanya Cuma pake fisik doang” ujar ku meremehkan
“mending sekarang lo pergi
sebelum lo nyeselin ini. Gak usah sok berani deh sama gue” ancamnya lagi
“eh, takut itu sama tuhan bukan
sama kamu. Emang kamu siapa musti ditakutin?” ujarku masih meremehkannya
“oke, lo yang minta. Guys, cabut”
ujar nya pergi meninggalkan aku dan Doni
Aku hanya mencibir mereka dari
belakang. Dan setelah mereka benar-benar sudah pergi, aku langsung menghampiri
Doni lagi.
“eh, kamu gak pa-pa kan?” tanya
ku khawatir. Tapi tiba-tiba Doni menepiskan tanganku dan berdiri sempoyongan.
Aku pun membantunya berdiri, tapi lagi-lagi tanganku di tepisnya. Ia hanya
menatapku tajam, lalu berlalu meninggalkanku. Aku terheran sendiri di tempatku.
“paling gak ngomong terima kasih gitu,” ujar ku. Aku pun turun dan segera
menuju gedung divisi tari.
Bel pulang sekolah berbunyi lebih
cepat dari biasanya. Aku dan hampir semua orang di kelas bertanya-tanya. Namun,
tepat setelah bel tersebut, ada pemberitahuan bahwa para staff, guru, dan
pelatih akan mengadakan rapat jadi para siswa di izin kan pulang lebih awal. Banyak
siswa yang langsung senang mendengar berita itu. Aku pun teringat janjiku
dengan Dion. Baru saja aku akan beranjak keluar, Miss Nova memanggilku dan
Mona. Ia memberitahu kami untuk menyiapkan satu video tari berdurasi 3 menit
yang terdiri dari tari kontemporer dan modern. Gerakkannya dan koreo nya harus
real, asli buatan kami sendiri. Dan dikumpul paling lambat Senin nanti. Aku pun
mengangguk mengerti dan mohon diri dari miss Nova. Aku langsung menuju teater
kecil.
Ketika sudah sampai di teater kecil,
belum ada orang disana. aku pun duduk di tepi panggung. Sambil menunggu, aku
pun mendengarkan beberapa lagu klasik yang nantinya akan kujadikan background
untuk tarianku. Aku pun menutup mataku membayangkan berbagai gerakan tari yang
nantinya akan kupakai. Tiba-tiba ada yang menarik headset lepas dari telingaku.
Aku pun membuka mata dan melihat Dion sedang tersenyum memandangi ku.
“oh, u..dah dateng ya” seru ku
salah tingkah. Aku sedikit aneh diperhatikannya seperti itu.
Dion pun naik keatas panggung dan
ikut duduk di tepi panggung sepertiku. “lagi ngapain?” tanyanya
“lagi nyari-nyari lagu aja buat
background tarian nanti. Eh, tapi kenapa kamu teh pengen ketemu sama saya di sini?” tanyaku
“hmm, sebelum gue jawab
pertanyaan lo, gue mau nanya, lo kenal sama Juan?” tanya nya lagi
“Juan? Nggak tuh” ujar ku ketus
begitu mendengar nama Juan
“terus tadi kenapa di kantin lo
bisa punya masalah sama dia?” tanya Dion lagi
“ohh, yang tadi, aku juga gak
tau. Tiba-tiba dia dateng, ngeklaim meja yang tadi kutempati itu meja dia, dan
akhirnya dia ngebuang makanan aku. Oh iya, tadi pagi juga dia hampir aja nabrak
aku di gerbang. Emang dia itu siapa sih?” tanya ku setelah menjelaskan kejadian
di kantin tadi
“ohh, gitu. Juan itu anak yang
punya sekolah ini. Dia juga salah satu siswa di sini. Tingkat tiga, divisi
music. Sama kayak gue. Cuma beda alat music aja. Gue biola, dia piano. Tapi dia
gak pernah sekalipun mainin piano sejak dia pindah ke sini tahun lalu.
Kerjaannya Cuma ngebully anak-anak yang menurut dia “gak sesuai” dengan status
mereka. Gue salaah satu temen deketnya, deket banget malah” ujarnya panjang
lebar. “tapi gue gak ikut ngebully ya” bantahnya langsung ketika melihat
tatapanku.
“oh, iya, mending lo jangan sampe
ketemu dia lagi. Kalo dia udah nemuin target dia, dia gak bakal ngelepasin tu
orang sampe orang itu berhenti di rumah sakit atau pun keluar dari sekolah.
Bukan Cuma orang itu, tapi orang-orang terdekat orang itu juga bakal jadi
korban. Makanya hampir semua orang disekolah ini takut sama dia. Kecuali gue.
Jadi lo harus usahain supaya jangan sampe lo ketemu lagi sama dia” ujarnya
memperingatiku
“masa sih seserem itu? ah gak
mungkin deh. Lagian tanpa kamu peringatin pun aku pasti gak bakal mau ketemu
lagi sama orang nyebelin kayak gitu” ujarku
“yakin kamu gak bakal ketemu
lagi?” tanya Dion yang sepertinya masih tidak percaya dengan ku
“yakin. Udah kamu tenang aja. Aku
bukan anak kecil lagi, jadi buat apa takut sama orang kayak Juan. Takut itu
sama tuhan bukan sama Juan” ujarku tersenyum. Padahal dalam hati aku mulai
takut. Apalagi setelah tadi aku menantang Juan. Semoga saja tidak ada sesuatu
yang buruk akan menimpaku
“eh lo pulang naik apa?” tanya
Dion membuyarkan lamunanku
“ahh? Ohh, aku pulang jalan kaki.
Deket kok kontrakan aku dari sini” ujarku
“mau gue anter gak?” ujarnya
menawariku
Aku berpikir sejenak. “gak usah
deh. Tadi siang aja aku udah di perhatiin anak-anak gara-gara ngobrol sama
kamu. Gimana nanti kalo mereka tau kamu nganter aku? Bisa heboh satu sekolah.
Gak usah deh, haha” tolakku sambilk bercanda. Aku pun beranjak dari panggung
dan meninggalkan Dion sendirian disana.
“eh, tunggu bentar” cegah Dion.
Ia langsung turun panggung dan menghampiriku. Ia mengacungkan handphonenya ke arah
ku “masukkin nomor lo dulu” ujarnya.
Akupun langsung mengambil
handphonenya dan mengetik nomor handphone ku di sana. Setelah selesai aku pun
mengembalikannya “aku duluan ya” ujarku pamit. Aku pun berjalan keluar dari
teater kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar