Sabtu, 21 Desember 2013

Dream

BAB III

Tak terasa sudah 2 bulan aku di Jakarta, aku juga sudah mulai terbiasa dengan kehidupan sekolahku yang baru. Setiap 2 minggu sekali aku menelpon ayah. Pada awal-awal sekolahku, aku sedikit kesulitan mengikuti segala gerakan dan dasar-dasar tari yang di ajarkan oleh Miss Nova, oleh karena itu setiap malam aku kesekolah dan berlatih di teater kecil yang berada si dekat gerbang depan. Aku sedikit takut untuk masuk lebih jauh ke dalam sekolah jika malam hari. Dan seperti biasa malam ini aku kembali ke teater kecil untuk berlatih gerakan kombinasi balet yang tadi siang di ajarkan oleh Miss Nova. Aku pun membuka pintu teater secara perlahan, tapi ternyata lampu di dalam teater itu sudah menyala. Ini membuat ku heran karena biasanya akulah yang menyalakan lampu di dalam teater ini. Siapa orang yang telah menyalakannya? Dan pertanyaanku terjawab ketika aku mendengar suara biola. Aku pun langsung masuk dan terlihat seseorang di panggung sedang memainkan biola. Aku turun sedikit untuk melihat dengan jelas siapa yang mamainkan biola itu. Setelah kupasati dengan seksama ternyata orang itu Dion. Ngapain dia disini? pikirku.
Aku pun berbalik hendak pergi namun langkahku terhenti saat mendengar melodi yang sedang dimainkan oleh Dion. Melodi ini….segera saja ingatan ku melayang ke saat aku bertemu dengan Pangeran. Aku pun berbalik lagi ke arah panggung. Aku berjalan menuruni tangga. Semakin lama semakin cepat. Dan akhirnya aku berhenti tepat di depan panggung. Jantungku semakin lama berdetak semakin kencang. Pangeran yang selama ini kucari, ada di hadapan ku sekarang. Dan detak jantungku semakin kecang saat memikirkan bahwa orang yang berada didepanku adalah Si Pangeran.
Dion yang merasakan keberadaanku langsung berhenti memainkan biolanya. Dia lalu melihatku dan kemudian berbalik mengambil kotak biolanya. Ia lalu menyimpan biolanya dan meloncat turun dari panggung dan beranjak pergi melewatiku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku tak mungkin membiarkannya pergi seperti itu.
“tunggu!” cegah ku.
Dion pun berbalik dan menatapku. Aku pun balas menatapnya. Pandangan matanya, tak salah lagi dia memang Si Pangeran! Cara nya menatapku sama seperti saat itu.
“apa.. mungkin.. kamu ingat aku?” tanyaku ragu-ragu. Kulihat Dion sempat mengerutkan keningnya lalu menggeleng. Dia pun berbalik lagi hendak pergi
“Melodi itu! Dari mana kamu tau melodi itu?” tanya ku berusaha menahannya
Dion menghentikan langkahnya dan berbalik. Kali ini dia mengerutkan kening seolah-olah bertanya dari mana aku tau tentang melodi itu.
“lo tau melodi ini?” akhirnya Dion buka suara juga. Aku pun hanya mengangguk
“gak mungkin. Itu melodi bikinan gue sendiri dan belum pernah ada orang yang denger tentang melodi ini” serunya tak percaya.
“aku pernah mendengarnya. Dulu kamu pernah kebandung kan? Aku mendengarnya di sana” ujarku
“bohong! Lo pasti salah satu stalker gue kan?” tanyanya tak percaya
“aku dulu emang pernah dengernya” seru ku keras kepala
“oh ya, kapan?” ujar Dion yang sepertinya mulai kesal karena ada orang yang mendengarkan melodi pribadinya
“waktu ibu kandung kamu meninggal. Kamu Si Pangeran kan?” seru ku yakin
Seketika raut wajah Dion berubah pucat. Ia sepertinya terkejut. Dion lalu berbalik dan pergi meninggalkanku tanpa berbicara sepatah katapun lagi.
“tunggu… Dion…Dion..” walau pun kupanggil, dia tak menoleh dan terus berjalan keluar. Aku bingung sendiri melihat sikap Dion. Sepertinya dia tidak suka melihatku, pikirku. Aku mengurungkan niatku untuk berlatih dan pulang ke rumah.
Keesokan harinya aku berangkat seperti biasa kesekolah. Sesampainya di sekolah, sebuah mobil mewah hampir saja menabrak ku. Aku terjatuh dan sangat terkejut. Orang-orang yang beada di sekitarku juga terkejut. Beberapa dari mereka membantuku berdiri dan menanyakan keadaanku. Aku menjawab mereka dengan “tidak apa-apa” dan langsung menatap tajam mobil yang tadi hampir saja menabrakku. Akhirnya sang pemilik mobil pun keluar. Seorang murid laki-laki yang mungkin saja seumuran denganku. Badannya tinggi tegap, dadanya bidang, rambutnya sedikit pirang. Aku tak mengenali wajahnya karena ia memakai kacamata hitam. Setelah ia berdiri di depanku, ia baru melepaskan kacamatanya. Alis yang tebal, mata yang tidak terlalu sipit, hidung mancung. Sangat sempurna. Kalau sekarang aku sedang tidak dalam keadaan kesal, aku mungkin akan jatuh cinta padanya.
Ia memandangiku sebentar. Ia memandangiku dari atas sampai bawah. Mungkin dia ingin memastikan apakah ada luka atau tidak, pikirku. Tapi ternyata
“PUNYA MATA GAK SIH??” bentaknya tiba-tiba. “lo gak liat apa ada mobil yang mau lewat?? Punya mata tuh digunain, bukan buat di pajang doang!!!” serunya marah-marah
Aku langsung saja terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku lalu meghela napas dan menjawabinya. “eh, yang gak punya mata itu kamu kali. Kamu teh tidak lihat saya lagi jalan? Mobil kamu gak ada klakson ya? Lagian disini itu emang jalan khusus buat orang, mobil lewatnya di belakang. Apa kamu anak baru jadi gak tau jalan?” tanyaku tak kalah marah
Murid laki-laki itu pun berkacak pinggang tanda tak percaya dengan apa yang didengarnya. “lo gak tau siapa gue?” tanya cowok itu
“kamu? Buat apa saya tau siapa kamu, seharusnya yang saya denger sekarang itu permintaan maaf, bukan ocehan dari kamu. Ayo, buruan minta maaf” seru ku
“ckckck, lo gue lepasin kali ini kerena kayaknya lo belum tau siapa gue. tapi awas lo kalo ketemu gue lagi” ujarnya sambil berjalan ke mobilnya meninggalkanku. Aku tercengang disana, tak percaya. Mobil itu pun meluncur meninggalkanku menuju parkiran sekolah. Aku sempat melihat satu orang lagi yang duduk di bangku sebelah bangku supir, orang itu..Dion. Aku pun kembali berjalan menuju ke ruang loker dan ruang ganti.
                 Setelah bergantai pakaian, aku pun langsung bergegas menuju ke ruang latihan karena pelajaran akan dilangsungkan 5 menit lagi. Dalam perjalananku ke ruang latihan, aku melihat banyak anak-anak yang berkumpul di depan papan informasi. Aku pun segera kesana dan melihat apa yang membuat anak-anak berkumpul. ternyata mereka sedang mengerumuni pengumuman dari Juilliard School of Performing Art yang membuka Open Audition khusus untuk divisi tari baik itu kontemporer ataupun modern. Tanggal audisinya masih 1 minggu lagi. Aku pun tersenyum. Akhirnya aku bisa mewujudkan cita-citaku segera.
                Pelajaran kali ini di berikan oleh Mas Galih yang merupakan koreograver tari untuk modern dance. Karena dulu aku hanya terfokus kepada tarian kontemporer, agak susah mengikuti gerakan modern dance yang di ajarkan Mas Galih. Untungnya badanku bisa menyesuaikan dengan gerakannya. Setelah menari selama 15 menit, kami pun dipersilahkan untuk istirahat. Tiba-tiba Miss Nova masuk keruang latihan sambil membawa beberapa berkas. Ia lalu berbicara dengan mas Galih sebentar setelah itu berjalan ke tengah ruangan.
“seperti yang udah kalian tau, Juiliard lagi open Audition. Jadi yang mau ikut, tunjuk tangan sekarang” ujar Miss Nova. Aku langsung saja menunjuk. “gak ada yang mau ikut lagi selain mereka?” tanya Miss Nova. Aku pun menoleh ke seluruh ruangan dan ternyata hanya aku dan Mona yang menunjuk. Aku sedikit heran. “yaudah, kalian berdua ambil ini terus isi semua pertanyaan di dalam nya abis makan siang nanti, serahin lagi sama saya” seru Miss Nova sambil menyerahkan 2 formulir. “oh iya, in English ya” lanjutnya
Aku tercengang. Dalam bahasa inggris? Aku pun melihat formulir yang berada di tanganku. Dan benar saja semua tulisan yang ada di sana di tulis dalam bahasa Inggris. Aku langsung berfikir bagaimana cara mengisinya sedangkan aku sendiri tak tau apa saja pertanyaannya. Pantas saja anak-anak lain gak ada yang nunjuk, ini alasannya. Aku melirik sebentar ke arah Mona. Ia tersenyum melihat kertas didepannya.  Sepertinya ia mengerti pertanyaan-pertanyaan itu. Aku pun menyingkirkan formulir itu sebentar karena Mas Galih meminta kami untuk latihan lagi.
Akhirnya tepat pukul 10 kelas Mas Galih selesai. Aku pun keluar dari kelas sambil kembali memandangi formulir di tanganku. Tiba-tiba seseorang menarik lenganku. Aku tak sempat memprotes karena orang itu langsung membawaku pergi. Aku mencoba melihat siapa yang menarikku. Ternyata orang itu Dion. Cengkramannya sangat kuat. Sepertinya dia sedang marah pikirku. Orang-orang melihat ke arah kami saat kami lewat. Seolah kami adalah tontonan. Sambil terus berjalan, aku mencoba untuk berbicara dengan nya.
“anu, itu….kita mau kemana sih?” tanya ku. Dion hanya menoleh sebentar dan meneruskan jalannya sambil terus mencengkram lengan ku.
Akhirnya kami berhenti di depan teater kecil tempat aku dan dia bertemu semalam. Dion melepaskan cengkramannya dan memperhatikan sekelilingnya dulu sebelum masuk. Kemudian dia menyuruhku masuk
“masuk!” ujarnya dengan nada yang ketus. Aku pun menuruti perintahnya dan masuk kedalam teater itu. Dion lalu mengikutiku masuk dan berjalan mendahuluiku ke arah panggung. Ia lalu naik ke atas panggung dan duduk di tepinya. Aku hanya menikutinya dan berhenti tepat didepannya.
“sebenernya lo itu siapa sih?” tanyanya tanpa basa basi
“aku? Putri” seruku polos
“heeh” ia mendengus. “kalo lo Putri, gue..”
“pangeran, iya?” potongku langsung.
Ekspresi Dion langsung berubah. “lo peramal ya? kok bisa tau apa yang mau gue omongin?” tanya nya heran
Aku pun tersenyum. “karena kamu pernah ngomong kayak gitu ke aku”. Ekspresi Dion semakin menunjukkan keheranan. Aku pun beranjak ke atas panggung dan duduk di sampingnya. “iya, kamu pernah ngomong itu ke aku 7 tahun lalu, di Teater di deket rumahku di Bandung” ujarku akhirnya
Dion lalu memandangiku lalu ia mulai mengingat-ingat kejadian 7 tahun lagi yang mungkin sudah dilupakannya. Tiba-tiba Dion menoleh ke arahku
“lo…!!!” serunya tak percaya. “jadi lo Putri? anak kecil itu?” tanya nya meyakinkan
Aku pun mengangguk mantap. “wah, udah gede aja lo. Makan apa bisa segede ini? Perasaan dulu agak gendut deh” serunya sambil tersenyum mengacak-acak rambutku
“apaan sih..” seruku menyingkirkan tangannya. “masa yang kamu ingat Cuma gendutku aja?” seru ku cemberut
“hahaha, abisnya lo berubah banget. Yang gue inget waktu gue ketemu lo waktu itu, lo itu cewek terchubby yang pernah gue liat. Tapi sekarang kok bisa jadi sekurus ini?” seru Dion sambil tersenyum
“namanya juga udah 7 tahun. Lagian kitakan Cuma satu kali ketemu. Dan pas kita ketemu itu aku emang lagi gendut-gendutnya. Tapi karena aku ini penari, jadi aku diet bisar jadi kurus” ujarku
“hahaha, kayaknya kerja keras lo berhasil ya. eh tunggu, lo di divisi tari kan? Tapi kok lo bisa masuk sini? Nah, jangan-jangan lo ngikutin gue kesini ya?” tanyanya jahil
“enak aja! Aku masuk sini emang udah kemauan aku dari dulu. Ngapaiin aku ngikutin kamu. Waktu itu kan aku belum tau nama kamu siapa. Jadi mana mungkin aku bisa ngikutin kamu kesini. Lagian kalo bukan karena melodi biola kamu, aku gak bakal tau kalo kamu itu si pangeran” ujarku panjang lebar.
Dion pun hanya tertawa kecil. Aku pun ikut tertawa. Aku sangat senang akhirnya aku bisa bertemu dengan cinta pertamaku. Aku lalu tak sengaja melihat ke arah pintu masuk teater. Aku pun berhenti tertawa dan semakin memperhatikan pintu itu. Dan jika aku tidak salah lihat, mungkin ada beberapa orang yang sedang mengintip di balik pintu itu. Dion yang menyadari keanehanku akhirnya menoleh kearahku. Dion lalu mengikuti arah pandanganku. Setelah melihat sebentar, akhirnya Dion mengerti apa yang sedang terjadi di luar sana. Ia pun tersenyum.
“udah gak usah diliatin. Biarin aja” seru nya yang membuatku menyudahi pencarianku. Aku pun memandanginya. Seolah mengerti dengan arti pandanganku, Dion pun memberitahuku
“itu paling juga fans-fans gue yang penasaran kenapa gue bawa lo kesini. Mungkin juga mereka penasaran kok gue mau ngomong sama lo. Yah, resiko jadi orang terkenal” serunya membanggakan diri
“hah?” aku pun mendengus. “emang kenapa sih kamu gak mau ngomong sama orang lain? Kata Mona juga kamu tu gak mau ngomong kecuali ada perlu, bener gak sih?” tanya ku langsung.
“haahh” Dion pun menghela napas. “gue gak suka mereka semua. Cara mereka ngomong sama gue, cara mereka mandang gue, cara mereka tersenyum sama gue, semuanya palsu. Didepan gue mereka pada ngomong yang manis-manis, eh gak taunya di belakang gue mereka pada ngatain gue.” serunya
“masa sih? Kayaknya gak mungkin deh” ujarku tak percaya
“yaudah kalo gak percaya” Dion lalu turun dari panggung dan beranjak pergi ke luar
“eh, mau kemana?” tanya ku
Dion lalu berbalik “kekelas dong, gue ada kelas abis ini” ujarnya
“ahh….gak jadi deh” aku sebenarnya ingin meminta dion membantuku menjawab pertanyaan yang ada di lembar pendaftaran
“kanapa?” tanyanya sambil menyilangkan kedua lengannya didepan dada
“gak pa-pa. kamu teh balik aja ke kelas” ujarku
“ada apa sih? Gue jadi penasaran nih” serunya kembali mendekatiku
“hmm, gini…” aku pun bingung bagaimana harus meminta tolong kepada Dion. Tiba-tiba Dion melihat kertas yang dari tadi kupegang dan mengambilnya.
“ini apa?” tanyanya
“itu, formulir pendaftaran buat ke Juiliard” jawab ku. “hmm, bisa minta tolong gak?” tanyaku
“minta tolong apa?” ujarnya
“kamu bisa bahasa inggris kan?” tanyaku lagi sebelum melanjutkan
“ehhmm” serunya mengangguk
“bisa tolongin aku ngisi itu gak?” pintaku sambil menunjuk formulir yang sedang di pegangnya.
“ini?” Dion lalu melihat baik-baik isi formulir itu. Ia lalu tertawa. “lo gak bisa bahasa inggris?” tanyanya
Aku hanya mengangguk. Dion lalu kembali duduk disebelahku. “loh? Kamu bukannya ada kelas?” tanyaku ketika Dion sudah duduk disebelahku
“iya, emang kenapa?” dia malah bertanya balik
“terus ngapain kamu teh duduk disini?” tanyaku lagi
“kan tadi lo menta tolong, jadi gue disini mau bantuin lo ngisi ini” serunya sambil menunjukkan formulir yang masih di peganggnya. “lagian kelas abis ini ngebosenin, dari pada gue tidur di kelas, mendingan gue bantuin lo ngisi ini” ujarnya sambil tersenyum.
Aku pun tersenyum senang. “makasih ya pangeran, makasih banget” seru ku senang.
Dion pun mulai membantuku mengartikan pertanyaan-pertanyaan dari formulir itu. Dion juga membantuku menjawab setiap pertanyaan yang ada di dalam formulir itu. Sekitar jam makan siang, aku dan Dion baru keluar dari teater. Aku langsung menuju ke ruang guru untuk menemui Miss Nova untuk menyerahkan formulir pendaftaran. Setelah itu, aku langsung menuju kantin untuk mengisi perutku. Sepanjang perjalanan kekantin, aku merasa semua orang sepertinya sedang memperhatikanku. Aku sedikit risih, namun aku menepiskan pikiran itu dan tetap berjalan ke kantin.
Aku pun memesan makanan dan mulai mencari bangku kosong. Aku pun melihat sekelilingku dan perasaan aneh itu muncul lagi. Kali ini kau tidak mungkin salah. Orang-orang memang sepertinya sedang memperhatikan dan membicarakan ku. Tiba-tiba aku melihat ada satu meja kosong di sudut ruangan kantin, aku pun langsung menuju ke meja itu dan duduk di bangkunya. Aku merasa sepertinya orang-orang semakin memperhatikanku. Aku mempercepat makanku. Tiba-tiba ada seseorang yang menendang mejaku, aku tersentak dan langsung menoleh ke arah orang yang menendangnya. Dan ternyata orang itu adalah orang yang tadi pagi hampir menabrakku. Dan dia tidak sendiri, ada dua orang pengikutnya di belakangnya.
“minggir, ini tempat gue” ujarnya sambil kembali menendang meja.
Aku melihat sekelilingku dan kulihat ada beberapa meja kosong di tengah ruangan. “itu, di sana ada yang kosong” ujarku, aku pun kembali meneruskan makanku. Tiba-tiba dia mengambil makan siangku dan membuangnya. Kejadian itu sempat membuatku dan hampir seluruh orang di kantin terkejut.
“gue bilang, INI TEMPAT GUE!” bentaknya
Aku tak percaya dia akan membuang makan siangku. Aku pun mencoba menahan emosiku dan menghadapinya. “kayaknya gak ada nama kamu deh di meja ini, jadi ini bukan meja milik kamu. Lagian disana banyak tempat kosong. Terus, kamu pikir kamu hebat gitu bisa buang makan siang orang seenaknya? Emang kamu siapa sih? Anak presiden yang bisa sesuka hati kamu sama orang lain? Bukan kan?” seru ku
“lo.. lo yang tadi pagi kan?” serunya saat –sepertinya- sudah mengenaliku. Ia pun berkacak pinggang. “bukannya udah gue peringatin sama lo tadi pagi, jangan sampe lo ketemu gue lagi”
“eh, kamu kira saya teh suka apa ketemu kamu? Lagian saya juga siswa disini, jadi gak mungkin kita gak bakal ketemu” ujar ku mulai kesal. Aku merasakan orang-orang sekelilingku semakin memperhatikanku. Aku melihat sepertinya orang didepanku ini sudah mulai emosi. Baru saja ia ingin mengeluarkan kata-katanya lagi, seseorang memanggilnya.
“Juan!” panggil orang itu yang ternyata adalah Dion. Ia pun menaruh makan siangnya di meja yang berada didekatnya dan menghampiri kami. “ada apaan nih?” tanya Dion
“ngapain lo disini?” tanya si cowok itu -yang akhirnya ku tau namanya Juan-
Dion melihat kea rah ku sebentar dan tersenyum. “udahlah, dia Cuma anak baru, lagian banyak orang lagi makan. Jangan ngerusak mood mereka. Lain kali aja kita lakuin ini oke?” seru Dion.
Aku tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi tiba-tiba sekelilingku kembali ke aktifitas mereka lagi. Dan Juan juga sepertinya mengangguk mengerti.
“lo beruntung hari ini, anak baru!” ujarnya sebelum meninggalkan kantin.
Aku hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh. Aku pun mulai membersihkan apa yang di tumpahkan oleh Juan tadi.
“gak usah di bersihin. Ntar ada petugas kantinnya yang bakal ngeberesin. Lo, pulang sekolah temui gue di terater kecil” ujar Dion tanpa melihatku. Mukanya sangat serius. Ia pun berlalu meninggalkanku. Tingkahnya semakin membuatku heran.
Akhirnya aku pun meninggalkan kantin dan kembali ke kelas.  Aku masih tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Dion dan Juan tadi. Kelas siang ini kelasnya Miss Nova, Balet. Tapi berhubung miss Nova sedang ada urusan, pelajaran kosong. Karena bosan dikelas, aku pun keluar kelas dan berkeliling sekolah.  Ketika berada di depan gedung divisi music dan tarik suara, aku melihat ke atas sejenak. Lalu aku pun melangkahkan kaki memasuki gedung tersebut dan menuju lift. Aku memencet nomor lantai paling atas yaitu lantai delapan. Tujuanku kali ini, atap gedung. Aku ingin menenangkan pikiranku.
Kurang lebih 5 menit kemudian, aku sampai di atap gedung. Aku langsung berjalan ke tepi atap dan melihat kebawah. Angin di sini sangat menyejukkan pikirku. Aku pun mengambil ponsel ku dan berfoto disana dan nantinya akan ku upload ke akun Twitter ku. Tiba-tiba aku mendengar pintu atap terbuka, dan suara-suara orang. Langsung saja aku mencari tempat sembunyi. Setelah bersembunyi aku baru sadar, untuk apa aku bersembunyi? Aku  kan tidak melakukan apa yang di larang. Aku baru saja ingin keluar dari persembunyian ku, tapi tiba-tiba aku melihat orang-orang itu sedang memukuli seseorang. Dan setelah kuperhatikan dengan baik-baik, orang yang sedang memukul adalah Juan dan teman-temannya. Setelah mereka selesai memukuli anak laki-laki itu, kedua teman Juan mengangkatnya menghadap Juan.
“doni” kudengar Juan memanggil nama anak yang sedang di pukuli itu. “gue harus bilang berapa kali sih, lo itu gak punya bakat buat sekolah disini, jadi ngapain lo tadi pamer ke semua orang? Lo kira permainan piano lo bagus apa? Hah? Mau nyaingin gue? HAH?” ujar Juan sambil mendorong kepala Doni
“heh, seenggaknya gue gak pernah gunain koneksi bonyok buat masuk ke sini” ujar doni melawan
“apa lo bilang? Sialan lo!” ujar Juan. Langsung saja Juan meninju perut Doni dan Doni langsung terjatuh ke lantai. Lalu kedua anak buah Juan mulai menendangi tubuh Doni lagi. Semakin lama melihatnya, aku semakin tak tahan. Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berlari ke arah mereka.
“BERENTI!” ujar ku berteriak pada mereka. Kedua anak buah Juan langsung berhenti menendangi Doni dan melihat ke arah ku. Juan juga langsung menoleh ke arah ku. Aku langsung berlari menghampiri Doni. Dan memeriksa lukanya. Wajahnya sudah penuh oleh darah. “kamu gak pa-pa kan?” tanya ku
Doni kelihatannya sedikit terkejut dengan kehadiranku. “gue…gak..pa-pa..” ujarnya terbata-bata
 Aku langsung berdiri dan berjalan ke arah Juan. “eh, kamu ini manusia apa bukan sih? Kamu gak liat apa dia udah sekarat gitu masih aja kamu pukulin. Emang kamu teh siapa? Gangster? Hah? Kamu mau sok hebat mukulin orang yang lebih lemah dari kamu? IYA?” ujarku marah
“ngapain lo disini? Ini bukan urusan lo! Jadi lo minggir” ujarnya menatap ku tajam
“kamu pikir, aku bakal diem aja ngeliat yang kayak gini? Kamu punya otak apa gak sih? Ada orang sekarat didepan kamu, masa kamu biarin aja” seru ku
“oh, jadi lo mau jadi pahlawan kesiangan? Udah telat” ujarnya lagi
“hah? Lebih baik telat dari pada gak sama sekali. Emang dia salah apa sama kamu? Cuma gara-gara di lebih jago main music ketimbang kamu, kamu mukulin dia, iya? Anak kecil banget” sindir ku
“apa lo bilang? Eh, kalo lo gak tau apa-apa gak usah ikut campur deh! Mending sekarang lo pergi sebelum gue ngejadiin lo target berikutnya” ancam nya
“ayo, jadiin aja. Siapa takut. Anak kecil kayak kamu bisanya Cuma pake fisik doang” ujar ku meremehkan
“mending sekarang lo pergi sebelum lo nyeselin ini. Gak usah sok berani deh sama gue” ancamnya lagi
“eh, takut itu sama tuhan bukan sama kamu. Emang kamu siapa musti ditakutin?” ujarku masih meremehkannya
“oke, lo yang minta. Guys, cabut” ujar nya pergi meninggalkan aku dan Doni
Aku hanya mencibir mereka dari belakang. Dan setelah mereka benar-benar sudah pergi, aku langsung menghampiri Doni lagi.
“eh, kamu gak pa-pa kan?” tanya ku khawatir. Tapi tiba-tiba Doni menepiskan tanganku dan berdiri sempoyongan. Aku pun membantunya berdiri, tapi lagi-lagi tanganku di tepisnya. Ia hanya menatapku tajam, lalu berlalu meninggalkanku. Aku terheran sendiri di tempatku. “paling gak ngomong terima kasih gitu,” ujar ku. Aku pun turun dan segera menuju gedung divisi tari.
Bel pulang sekolah berbunyi lebih cepat dari biasanya. Aku dan hampir semua orang di kelas bertanya-tanya. Namun, tepat setelah bel tersebut, ada pemberitahuan bahwa para staff, guru, dan pelatih akan mengadakan rapat jadi para siswa di izin kan pulang lebih awal. Banyak siswa yang langsung senang mendengar berita itu. Aku pun teringat janjiku dengan Dion. Baru saja aku akan beranjak keluar, Miss Nova memanggilku dan Mona. Ia memberitahu kami untuk menyiapkan satu video tari berdurasi 3 menit yang terdiri dari tari kontemporer dan modern. Gerakkannya dan koreo nya harus real, asli buatan kami sendiri. Dan dikumpul paling lambat Senin nanti. Aku pun mengangguk mengerti dan mohon diri dari miss Nova. Aku langsung menuju teater kecil.
Ketika sudah sampai di teater kecil, belum ada orang disana. aku pun duduk di tepi panggung. Sambil menunggu, aku pun mendengarkan beberapa lagu klasik yang nantinya akan kujadikan background untuk tarianku. Aku pun menutup mataku membayangkan berbagai gerakan tari yang nantinya akan kupakai. Tiba-tiba ada yang menarik headset lepas dari telingaku. Aku pun membuka mata dan melihat Dion sedang tersenyum memandangi ku.
“oh, u..dah dateng ya” seru ku salah tingkah. Aku sedikit aneh diperhatikannya seperti itu.
Dion pun naik keatas panggung dan ikut duduk di tepi panggung sepertiku. “lagi ngapain?” tanyanya
“lagi nyari-nyari lagu aja buat background tarian nanti. Eh, tapi kenapa kamu teh pengen ketemu sama saya di sini?” tanyaku
“hmm, sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue mau nanya, lo kenal sama Juan?” tanya nya lagi
“Juan? Nggak tuh” ujar ku ketus begitu mendengar nama Juan
“terus tadi kenapa di kantin lo bisa punya masalah sama dia?” tanya Dion lagi
“ohh, yang tadi, aku juga gak tau. Tiba-tiba dia dateng, ngeklaim meja yang tadi kutempati itu meja dia, dan akhirnya dia ngebuang makanan aku. Oh iya, tadi pagi juga dia hampir aja nabrak aku di gerbang. Emang dia itu siapa sih?” tanya ku setelah menjelaskan kejadian di kantin tadi
“ohh, gitu. Juan itu anak yang punya sekolah ini. Dia juga salah satu siswa di sini. Tingkat tiga, divisi music. Sama kayak gue. Cuma beda alat music aja. Gue biola, dia piano. Tapi dia gak pernah sekalipun mainin piano sejak dia pindah ke sini tahun lalu. Kerjaannya Cuma ngebully anak-anak yang menurut dia “gak sesuai” dengan status mereka. Gue salaah satu temen deketnya, deket banget malah” ujarnya panjang lebar. “tapi gue gak ikut ngebully ya” bantahnya langsung ketika melihat tatapanku.
“oh, iya, mending lo jangan sampe ketemu dia lagi. Kalo dia udah nemuin target dia, dia gak bakal ngelepasin tu orang sampe orang itu berhenti di rumah sakit atau pun keluar dari sekolah. Bukan Cuma orang itu, tapi orang-orang terdekat orang itu juga bakal jadi korban. Makanya hampir semua orang disekolah ini takut sama dia. Kecuali gue. Jadi lo harus usahain supaya jangan sampe lo ketemu lagi sama dia” ujarnya memperingatiku
“masa sih seserem itu? ah gak mungkin deh. Lagian tanpa kamu peringatin pun aku pasti gak bakal mau ketemu lagi sama orang nyebelin kayak gitu” ujarku
“yakin kamu gak bakal ketemu lagi?” tanya Dion yang sepertinya masih tidak percaya dengan ku
“yakin. Udah kamu tenang aja. Aku bukan anak kecil lagi, jadi buat apa takut sama orang kayak Juan. Takut itu sama tuhan bukan sama Juan” ujarku tersenyum. Padahal dalam hati aku mulai takut. Apalagi setelah tadi aku menantang Juan. Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk akan menimpaku
“eh lo pulang naik apa?” tanya Dion membuyarkan lamunanku
“ahh? Ohh, aku pulang jalan kaki. Deket kok kontrakan aku dari sini” ujarku
“mau gue anter gak?” ujarnya menawariku
Aku berpikir sejenak. “gak usah deh. Tadi siang aja aku udah di perhatiin anak-anak gara-gara ngobrol sama kamu. Gimana nanti kalo mereka tau kamu nganter aku? Bisa heboh satu sekolah. Gak usah deh, haha” tolakku sambilk bercanda. Aku pun beranjak dari panggung dan meninggalkan Dion sendirian disana.
“eh, tunggu bentar” cegah Dion. Ia langsung turun panggung dan menghampiriku. Ia mengacungkan handphonenya ke arah ku “masukkin nomor lo dulu” ujarnya.
Akupun langsung mengambil handphonenya dan mengetik nomor handphone ku di sana. Setelah selesai aku pun mengembalikannya “aku duluan ya” ujarku pamit. Aku pun berjalan keluar dari teater kecil.

(cont)

Jumat, 13 Desember 2013

Dream

BAB II

                Welcome to Jakarta. Akhirnya aku ada di Jakarta. Ayah juga menemani ku ke Jakarta. Tapi ayah udah balik lagi ke Bandung. Di Jakarta aku mengontrak rumah. Tadinya aku ingin kos-kosan aja, tapi Ayah sudah terlanjur membayar kontrakan yang tidak terlalu jauh dengan sekolahku. Akhirnya aku menempati kontrakan itu. Kontrakannya tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Tapi fasilitas yang ditawarkan memang memadai. Di dalam kontrakan ini sudah terdapat kasur, bantal, lemari, TV, kulkas, AC dan kompor gas. Jadi kemarin aku dan Ayah hanya berbelanja sedikit barang. Tapi biaya kontrakannya pun tak murah. Malam ini rasanya aku tak akan bisa tidur karena sudah tak sabar ingin segera hari esok.
                Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi sekali sangking semangatnya. Aku langsung mengambil seragam sekolahku yang baru. Aku pun mulai membuat sarapan dan mengepak apa saja yang harus ku bawa hari ini sesuai dengan apa yang dituliskan di dalam buku panduan sekolahnya.  Hanya satu yang membingungkanku, apakah nanti aku harus mengikuti orientasi seperti murid baru atau langsung masuk kekelas. Setelah melihat jam yang sudah menunjukan pukul 7.30, aku pun langsung bergegas menuju sekolah baru ku. Dari rumah kontrakanku ke sekolah hanya 10 menit berjalan kaki. Begitu aku sampai didepan gerbang sekolahnya, aku melihat tulisan “Q Art School” yang di ukir dengan warna emas. Aku pun tersenyum dan langsung melangkah memasuki areal sekolah.
                Ketika memasuki areal sekolah, seorang guru muda yang cantik memanggil para murid baru untuk di berikan pengarahan. Aku langsung saja bergabung dengan para murid baru yang sudah membentuk barisan. Setelah terkumpul semuanya, guru itu memperkenalkan diri sebagai Miss Nova, koreografer divisi tari. Setelah memberikan penjelasan sebentar, Miss Nova memanggil nama ku. Aku pun keluar dari barisan dan maju kedepan
“Karena kamu satu-satunya murid tingkat 2 disini, kamu tidak perlu ikut orientasi. Setelah ini kamu ikut saya ke ruang divisi tari.” Ujarnya.
Aku pun mengangguk dan kembali ke tempatku semula. Miss Nova lalu menyerahkan para murid baru kepada BIS (Badan Internal Sekolah) –semacam OSIS jika di SMA-  dan membawaku ke ruang divisi tari. Setelah sampai di depan ruang Divisi tari, Miss Nova menyuruhku untuk menunggu sebentar sementara ia memanggil seorang murid. Aku sempat melirik sebentar kedalam ruangan itu. terlihat olehku murid-murid yang sedang melakukan pemanasan. Lalu miss Nova keluar dengan membawa seseorang.
“nah, Putri, perkenalkan ini Mona. Dia ketua tingkat di tingkat 2 divisi tari. Mona, ini Putri Viansa, murid baru di divisi kita. Karena dia sudah berada di tingkat 2, dia tidak perlu mengikuti orientasi sehingga miss minta kamu untuk memperkenalkan sekolah ini sama dia. Beritahu dia semua tempat yang ada disekolah ini. Kamu gak usah khawatir soal pelajaran karena hari ini gak ada pelajaran sampai makan siang, jadi tolong ya” seru Miss Nova tersenyum kepada anak perempuan yang tadi diperkenalkannya sebagai Mona. Mona pun menggangguk sebagai jawaban. Akhirnya miss Nova meninggalkan kami berdua.
“hmm, nama kamu Putri Viansa ya? Kalo gitu aku panggil Putri aja ya” serunya sambil tersenyum. Sepasang lesung pipi terpasang di kedua pipinya yang lumayan chubby. Aku pun mengangguk
“oke, kita mau mulai dari mana nih?” tanyanya
“terserah kamu aja” jawabku.
“hmm, yaudah kita mulai dari sini aja. Ini ruang latihan divisi tari tapi khusus yang tingkat 2. Sambil jalan yuk. Oh iya, kamu pindahan dari sekolah seni mana?” tanyanya sebelum melanjutkan
“ehh, saya teh dulunya di SMA biasa, hehe” seruku malu-malu
“loh? Jadi kamu bukan dari sekolah seni? Kok bisa lulus audisi?” tanyanya heran
“saya juga heran, saya kira gak bakal masuk eh gak taunya nama nya muncul” jawabku seadanya
“ohh, artinya kamu ini sama kayak kak Lia ya, dia juga pindahan dari SMA biasa tapi dia udah di tingkat 3 sekarang. Oh iya, mungkin kamu belum tau, tapi di sini sistemnya agak beda sama SMA biasa. Kalo di SMA kan biasanya grade-nya itu pake kelas 10, 11, ama 12, nah disini pakenya tingkat 1, tingkat 2, tingkat 3, sama tingkat 4. Kalo lamanya belajar sama kok kayak di SMA. Dalam satu tingkat itu ada 2 semester. Bedanya kita jarang bahkan gak ada sama sekali teori, semuanya praktek. Mungkin Cuma divisi music sama tarik suara yang ada teorinya. Kalo untuk divisi tari, teorinya dikasih di sela-sela latihan. Jadi kamu gak perlu bawa buku tulis. Kalo kamu masih di tingkat 1 mungkin kamu masih perlu buku tulis, tapi kalo udah di tingkat 2, gak perlu lagi” seru Mona menjelaskan panjang lebar. Dia pun mengajak aku untuk duduk di bawah pohon akasia yang besar dan rindang. Mona pun melanjutkan penjelasannya
“nah, untuk tingkat 3 sama 4 beda banget sama SMA. Di tingkat 3 kamu bakal ngambil ujian, terus kalo kamu lulus ujian itu kamu bisa milih mau lanjut ke universitas seni atau mau lanjut ke tingkat 4. Orang tingkat 4 biasanya yang pada mau kerja di orchestra atau pun di grup tari yang bakal keliling dunia. Jadi mereka dikasih satu tahun ekstra buat pelatihan. Baik mental maupun fisik” serunya panjang lebar. Mona pun  mulai mengenalkan ruangan yang terlihat dari tempat kami duduk itu kepadaku.
Kami pun beranjak dari tempat kami duduk dan beralih ke gedung tempat divisi music dan tarik suara. Kami melewati koridor di setiap ruangan dan Mona menjelaskan kepadaku ruangan-ruangan itu. Namun kaki ku berhenti pada satu ruangan, aku melihat dari jendela luar seorang anak laki-laki sedang memainkan biola di tengah ruangan di kelilingi oleh beberapa orang. Aku mengamati dengan seksama cara anak laki-laki itu memainkan biola, ekspresinya, melodinya. Entah mengapa aku sangat merindukan suara dari biola itu. Mona yang menyadari aku berhenti segera menghampiriku
“ngapain kamu disini?” tanya nya yang sempat mengejutkanku
“hah? Ahh nggak, aku Cuma..” seruku salah tingkah
“oh dia, namanya Dion. Keren ya kalo lagi main biola, tapi jangan harap deh dia bakal ngomong sama kamu” seru Mona sambil kembali berjalan
Aku melihat lagi sebentar ke dalam ruangan lalu menyusul Mona. “kanapa?” tanya ku
“dia itu orangnya pendiemmm banget. Dia Cuma ngomong kalo lagi ada perlu sama orang aja. Kamu mau ngomong sampe mulut kamu capek juga gak bakal di jawab in. Jadi mending gak usah di ajak ngomong deh” serunya panjang lebar
“ohh” respon ku seadanya. Entah mengapa sosok Dion yang sedang memainkan biola terus muncul di dalam benakku. Selain itu, suara dari biolanya juga seakan pernah kudengar. Aku pun menepiskan pikiran itu dan kembali focus mendengar penjelasan Mona. Dan tur kami berhenti pada satu ruangan di gedung yang lumayan jauh dari gedung utama sekolah dan berada tak jauh dari Gerbang depan.
“ini ruang latihan bersama untuk seluruh divisi, bisa dibilang teater kecil. Tapi sekarang udah gak di gunain lagi karena kita udah pindah ke gedung yang baru di sana” seru Mona sambil menunjuk ke arah Gedung baru yang berada di sebelah gedung divisi tari dan drama. Aku pun mengangguk-angguk
“kayaknya udah semua deh. Sekarang mending kamu ganti baju sama baju latihan udah itu langsung ke ruang latihan. Tau kan ruang gantinya di mana?” seru Mona
“tau kok” jawabku sambil tersenyum. Aku dan Mona pun berpisah di depan ruang ganti. Mona langsung menuju ruang latihan sedangkan aku berganti pakaian dulu sebelum ikut pelajaran.


JJJ

Sabtu, 07 Desember 2013

Dream

BAB I
 
                Didekat rumah ku ada sebuah teater besar yang kini tak lagi terpakai. Tapi itu merupakan tempat persembunyianku jika aku ingin menari. Ruang latihan yang berada tepat di belakang panggung adalah markas ku. Aku biasanya latihan menari disana. Aku belajar tari secara otodidak. Aku memang memiliki bakat menari karena almarhum bundaku juga dulunya penari. Tapi ayah tak pernah mengizinkanku menari. Akhirnya akupun belajar menari sendiri di teater ini. Aku menemukan ruangan latihan ini sewaktu umurku masih 8 tahun. Awalnya aku takut memasuki teater ini karena menurut orang-orang disekitar rumahku, teater ini berhantu. Tapi ketika untuk pertama kalinya aku memasuki teater ini, aku langsung takjub. Panggungnya sangat besar. Persis di depan panggung, puluhan bahkan ratusan kursi penonton tersebar. Ketika aku menjelajahi teater itu, aku menemukan ruangan latihan ini. Untungnya ruang latihan ini tak pernah dikunci, jadi aku bisa leluasa datang sesukaku.
                Jika datang ke ruang latihan ini, aku teringat saat aku masih berusia 9 tahun. Saat itu aku sedang mempelajari tarian balet. Hari itu seperti biasa jam 3 sore aku pergi ke ruang latihan itu. Ketika aku memasuki teater, aku mendengar suara merdu dari sebuah biola. Ku kira itu merupakan suara hantu yang selama ini di ceritakan tetangga-tetanggaku, aku sempat takut, tapi ternyata bukan. Setelah aku memasuki teater dan melihat ke panggung, terlihatlah orang yang memainkan biola itu. Seorang anak laki-laki yang mungkin seumuran denganku. Caranya memainkan biola sungguh hebat. Tapi tatapannya dan lagu yang dimainkan, melodinya sangat menyedihkan. Setelah anak itu selesai bermain biola, aku langsung menghampirinya. 
“kamu siapa?” tanya ku. Anak itu sempat terkejut. Namun alih-alih pergi, ia malah menatap mataku sangat lama. 
“kamu siapa?” ia malah bertanya balik. 
Karena saat itu aku masih kecil, jadi aku langsung saja menjawab siapa aku “aku? Aku Putri” seru ku sambil tersenyum lebar.
Anak laki-laki itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia pun mengangguk “kalo kamu putri, aku pangeran dong, hahaha” serunya tertawa 
“gak, bukan gitu. Maksud aku, namaku Putri. Kamu siapa?” tanya ku lagi 
“hmm, panggil aja aku pangeran” ujarnya tanpa memandangku. Ekspresinya kembali seperti saat dia sedang memainkan biola. 
Aku sempat heran dan bertanya-tanya kenapa dia tak mau menyebutkan nama aslinya. Tapi mungkin dia punya alasan tersendiri pikirku. “oke, pangeran, ngapain kamu disini?” tanya ku 
“kamu sendiri ngapain disini?” ia bertanya balik lagi. Aku hanya bisa memaklumi dan akhirnya aku duluan yang menjawab pertanyaannya “aku? Aku mau latihan disini” jawabku 
“latihan? Tapi kamu nggak bawa alat music” serunya 
“siapa bilang aku mau latihan music. Aku mau latihan nari disini” ujarku bersemangat 
“latihan nari? Kamu bisa nari?” tanyanya 
“heeh” seruku mengangguk. “sekarang kamu jawab pertanyaan aku. Kamu ngapain disini?” tanyaku 
“aku? Tadi kamu kan udah liat sendiri aku ngapain” serunya 
“iya aku tau kamu tadi main biola. Yaudah aku genti deh pertanyaannya. Kok kamu bisa tau teater ini?” tanya ku 
“oh jadi ini teater. Aku kira ini balai desa” serunya menyeringai. “aku juga gak tau gimana aku bisa sampai sini. Aku tadi Cuma berpikir pengen pergi ketempat yang tenang dan sepi. Dan tiba-tiba kakiku berhenti didepan teater ini.” Serunya 
“emang kamu tadi dari mana?” tanyaku lagi
“dari makam. Ibu kandungku meninggal hari ini” jawabnya tanpa memandangku 
Pantas saja dia memainkan melodi sesedih itu tadi. Aku juga baru menyadari pakaiannya serba hitam. Tapi tak terlihat bekas airmata  diwajahnya. Kenapa dia tidak menangis? Seharusnya ketika ada orang terdekat kita meninggal, secara alami kita akan menangis. Ketika bunda meninggal, aku menangis sejadi-jadinya padahal umurku waktu itu baru 6 tahun. 
“kenapa aku gak nangis? Mungkin karena aku baru tau dia ibu kandungku, ketika dia udah meninggal” ujarnya seolah-olah bisa membaca pikiranku. Aku pun langsung menoleh kearahnya. 
“baru tau? maksudnya?” tanyaku tak mengerti 
“iya, aku baru tau dia ibu kandungku hari ini. Saat dia meninggal” ujarnya 
“aku gak ngerti deh maksudnya apa” seru ku tak mengerti 
“jadi gini, aku punya satu keluarga. Dari aku kecil sampe kemarin, aku menganggap ibu yang ada dirumah aku itu ibu kandungku, tapi ternyata bukan. Aku baru dikasih tau papa hari ini.” Serunya menjelaskan. 
“ohh, kamu gak ngerasa sedih?” tanya ku lagi 
“aku sendiri bingung harus sedih atau marah. Karena itu aku kesini. Dan setelah kesini….” Ia menggantung kata-katanya. 
“setelah kesini kenapa?” tanya ku lagi 
Si pangeran tidak menjawab. Tiba-tiba ia beranjak dari panggung itu sambil membawa biolanya kearah pintu keluar. 
“kamu mau kemana?” tanya ku 
“pulang” jawabnya singkat memunggungiku 
“besok main kesini lagi ya” seru ku tersenyum 
Ia pun berbalik dan meihat kearah ku. “senang berkenalan  denganmu, Putri.” Serunya tersenyum. Aku terkesiap. Baru kali itulah aku melihat senyum yang sangat indah. Jantungku berdebar kencang. Ia masih menatapku sambil tersenyum. “besok aku akan kembali ke negeriku” serunya 
Akupun tersadar dari lamunan ku. “loh? Kamu orang luar negeri?” tanyaku 
“gak, aku orang Indonesia, tapi aku gak tinggal di sini. Besok aku balik ketempat ku” ujarnya 
“yah, gak bisa ketemu lagi dong” seru ku murung
“kalo kita jodoh, kita pasti ketemu” serunya sambil tersenyum. Sekali lagi aku terpesona oleh senyumnya. Mungkin ini lah yang dinamakan cinta pertama. Si pangeran pun pergi meninggalkanku sendiri di teater itu.
                Keesokkan harinya, aku kembali ke teater itu. Tapi ternyata Pangeran sudah benar-benar pergi. Semenjak hari itu, aku gak pernah lagi bertemu dengan Si Pangeran, cinta pertamaku. Dan kini usia ku menginjak 16 tahun. Saat ini sedang libur kenaikan kelas. Namun kesempatan berlibur ini aku manfaatkan untuk mengikuti audisi untuk memasuki sekolah seni yang lumayan terkenal di Jakarta. Sebenarnya tahun kemarin aku ingin mengikuti audisi itu, tapi ayah melarangku saat aku minta izin darinya. Jadi, sekarang aku mengikuti ujian dulu, baru nanti setelah pengumuman lulus aku kasih tau ke ayah. Awalnya kukira aku tidak boleh mengikuti audisi itu dikarenakan aku sudah menjadi siswi SMA, tapi ternyata direktur sekolah itu –yang juga juri audisi- ingin melihat bakatku dulu sebelum memutuskan boleh atau tidaknya aku ikut.
                Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya pengumumannya keluar. Aku mengamati layar laptopku dengan seksama, melihat apakah namaku keluar atau tidak. Setelah sampai di barisan huruf P, aku menggerakkan kursor sedikit lebih pelan. Mengamati nama satu persatu dan mataku berhenti pada satu nama. Namaku keluar!! Seolah tak mempercayai apa yang kulihat, aku memperbesar view nya. 
“ ‘Putri Viansa, tingkat dua, divisi Tari’ kyaaaa!!! AYAHHH!! Nama teteh keluar!! Ayah!!!” seru ku kegirangan. 
Ayahpun langsung keluar dari kamarnya begitu mendengar teriakanku
“aya naon atuh teh? Apa na yang keluar?” tanya Ayah dengan logat sundanya 
“itu yah, nama teteh keluar. Teteh lulus audisi atuh yah” seru ku senang
“audisi? Audisi apa teh?” tanya Ayah 
Aku pun tersadar. Ayah kan belum tau apa-apa pikirku. Karena sudah terlanjur basah, akupun akhirnya menceritakannya kepada ayah.
“aduh, gimana ngomongnya ya?” gumamku 
“kenapa atuh teh?” tanya ayah lagi 
“gini yah, kemaren pas liburan teteh ikut audisi di Jakarta” seru ku memulai cerita 
“audisi? Audisi apa atuh teh? Kapan teteh keJakarta?” tanya Ayah 
“itu yah kemaren pas teteh pergi sama Dinda. Maaf atuh yah sebelumnya teteh gak bilang dulu sama ayah. Teteh ikut audisi untuk masuk sekolah seni di Jakarta. Terus sekarang teteh lulus yah” seruku menunduk, takut melihat muka ayah yang sepertinya mulai marah. 
“sekolah seni? Seni tari?” tanya Ayah meyakinkan. Dan aku pun mengangguk. “Gak. Teteh gak boleh pergi” seru ayah langsung. Aku kontan mengangkat kepalaku menatap ayah 
“loh? Kenapa yah? Teteh kan udah lulus yah, sayang kalo gak diambil. Boleh ya yah? Sekali ini aja, teteh gak pernah minta yang macem-macem sama ayah, Cuma kali ini aja yah” ujarku memohon 
“sekali ayah bilang nggak ya nggak! Ayah kan udah berapa kali bilang ke teteh, ayah gak suka teteh nari. Lagian, di Jakarta teteh mau tinggal sama saha? Kenalan gak ada, keluarga juga gak ada. Terus itu sekolah seni itu biayanya sabaraha? Belum biaya hidup teteh nanti di Jakarta. Hidup di Jakarta mahal atuh teh” seru Ayah menjelaskan 
“teteh kan bisa ngekos di deket sekolah yah. Yah, tari itu segalanya buat teteh. Teteh mohon yah, sekali ini aja. Teteh mah pengen ngejer cita-cita teteh buat bisa ke Juiliard kayak Bunda.” Begitu aku menyebut Bunda, raut muka Ayah langsung berubah. Seketika aku langsung menyesali apa yang barusan kukatakan. Ayah paling tidak suka mengungkit-ungkit tentang Bunda 
Ayah pun menghela napas panjang. “yaudah sok atuh ke Jakarta. Mau gimana pun ayah ngelarang,  toh nanti teteh masih tetep pergi. Tapi buat kali ini aja ayah kabulin apa kemauan teteh. Kapan atuh teteh berangkat?” seru ayah akhirnya 
Senyum pun mengembang di wajahku. Aku pun langsung berlari memeluk Ayah. “makasih ayah!! Makasih banget! Satu minggu lagi keJakarta nya Teteh juga mau ngurusin berkas di sekolah teteh” ujarku seraya melepaskan pelukanku. 
“kalo urusan sekolah mah, biar ayah aja yang urus. Teteh sekarang siapin aja apa yang mau di bawa. Ayah punya temen di Jakarta, nanti ayah minta tolong sama dia buat nyariin teteh kosan deket sekolah” Ujar Ayah 
“makasih ayah” seru ku sambil tersenyum. Akhirnya beban dipundakku pun lepas. 
                Satu hari sebelum aku pergi kejakarta, aku mengunjungi teater tempatku latihan selama ini. Ketika memasuki teater, aku sempat merasa sedih karena harus pergi meninggalkan teater yang penuh kenangan ini. Aku pun duduk di panggung teater. 
“aku pasti bakal kesini lagi. Liburan nanti aku pasti bakal kesini. Jadi, jangan rubuh dulu ya sebelum aku dateng.” Ujarku tersenyum. Aku pun beranjak dari panggung dan berjalan menuju pintu keluar. Aku sempat melihat lagi ke arah panggung sebentar dan akhirnya keluar dari teater itu. Jakarta, I’m coming..

(cont)